UIN Mataram Jadi Pusat Studi Pesantren dan Manuskrip Nusantara, Kemenko PMK Siapkan Ditjen Pesantren
UIN Mataram menegaskan komitmennya menjadi pusat studi pesantren dan riset manuskrip Nusantara, didukung oleh rencana pembentukan Ditjen Pesantren oleh Kemenko PMK.
Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram di Nusa Tenggara Barat (NTB) secara resmi menyatakan kesiapannya untuk menjadi pusat studi terkemuka bagi pondok pesantren dan riset manuskrip Nusantara. Komitmen jangka panjang ini diharapkan dapat memperkuat posisi kampus sebagai penjaga warisan ilmiah bangsa. Langkah strategis ini diumumkan dalam sebuah Halaqah Tingkat Nasional yang baru-baru ini diselenggarakan.
Rektor UIN Mataram, Masnun Tahir, menegaskan bahwa kampus harus berperan aktif dalam menjaga warisan intelektual sekaligus mendorong inovasi dalam pendidikan pesantren. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta, bertepatan dengan peresmian Pusat Studi Naskah dan Pesantren (Pustunastren) di lingkungan UIN Mataram. Pustunastren diproyeksikan menjadi lembaga unggulan untuk riset mendalam.
Pembentukan Pustunastren ini menandai babak baru bagi UIN Mataram dalam upaya menghubungkan tradisi keilmuan pesantren dengan kebutuhan transformasi pendidikan modern. Inisiatif ini juga selaras dengan rencana pemerintah yang sedang memfinalisasi pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren, menunjukkan dukungan negara terhadap peran historis pesantren.
Pustunastren: Penjaga Khazanah Manuskrip Lokal
Pusat Studi Naskah dan Pesantren (Pustunastren) yang baru diresmikan di UIN Mataram memiliki tugas vital dalam melestarikan kekayaan intelektual bangsa. Lembaga ini bertanggung jawab atas inventarisasi, digitalisasi, serta penelitian lanjutan terhadap naskah-naskah klasik. Naskah-naskah ini, khususnya yang berasal dari Lombok, dinilai oleh para filolog sebagai salah satu khazanah terkaya di Indonesia.
Masnun Tahir menekankan bahwa Lombok dan NTB memiliki tradisi manuskrip yang luar biasa beragam dan kaya. Kekayaan ini mencakup naskah-naskah dengan berbagai aksara, seperti Arab, Jawi–Pegon, hingga Jejawen Sasak. Keberadaan Pustunastren diharapkan dapat menjaga dan mengembangkan identitas keilmuan Nusantara yang semakin membutuhkan dukungan kelembagaan.
Pusat studi naskah dan pesantren ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah akademik semata, tetapi juga sebagai benteng pelindung warisan budaya dan keilmuan. Melalui lembaga ini, UIN Mataram berambisi menjadi pusat pengetahuan baru yang menjembatani tradisi pesantren dengan tuntutan pendidikan modern. Ini adalah langkah maju untuk memastikan relevansi pesantren di era digital.
Dukungan Pemerintah Melalui Ditjen Pesantren
Sejalan dengan inisiatif UIN Mataram, pemerintah juga menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan pesantren di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Pratikno, mengungkapkan bahwa pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren sedang dalam tahap finalisasi. Struktur baru ini telah disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto, menandai pengakuan negara atas peran strategis pesantren.
Lahirnya Ditjen Pesantren dianggap sebagai babak baru yang menunjukkan penghargaan tinggi negara terhadap peran historis pesantren. Pesantren selama ini telah menjadi pusat pembinaan moral, keilmuan, dan kebangsaan yang tak tergantikan. Dengan lebih dari 42 ribu pesantren dan 12,5 juta santri, kekuatan sosial ini dinilai sangat strategis bagi masa depan Indonesia.
Menko Pratikno menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pesantren, mulai dari keamanan infrastruktur, literasi digital, hingga kesiapan vokasional santri. Untuk mengatasi tantangan tersebut, empat program strategis telah dirancang sebagai prioritas awal Ditjen Pesantren. Program-program ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem pesantren secara menyeluruh dan berkelanjutan.
- Program Pesantren Sehat dan Aman
- Peningkatan kompetensi vokasional santri
- Pemberdayaan kiai dan nyai
- Akselerasi digitalisasi pesantren
Sumber: AntaraNews