Menag Dorong Kajian Ontologi Pesantren, Rumuskan Arah Baru Pendidikan Islam

Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong Kajian Ontologi Pesantren untuk merumuskan arah baru pendidikan Islam. Ini penting untuk membangun fondasi Ditjen Pesantren dan mengintegrasikan pandangan pendidikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menag Dorong Kajian Ontologi Pesantren, Rumuskan Arah Baru Pendidikan Islam
Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong kajian ontologi pesantren untuk membangun fondasi konseptual yang kokoh, demi menentukan arah masa depan pendidikan Islam di Indonesia. (AntaraNews)

Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya membangun fondasi konseptual yang kokoh bagi Direktorat Jenderal Pesantren. Hal ini dilakukan melalui Kajian Ontologi Pesantren, yang mencakup tiga arus besar pendidikan di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam Halaqah Penguatan Kelembagaan Ditjen Pesantren di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Acara yang berlangsung pada Sabtu (22/11) tersebut bertujuan untuk merumuskan arah masa depan pesantren yang lebih jelas dan terintegrasi. Menag menegaskan perlunya kejelasan dalam "road map" pesantren agar tidak terjadi duplikasi atau kebijakan yang prematur. Ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

Diskusi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk kyai, ajengan, pengelola pesantren, akademisi, dan pemerintah. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan gagasan-gagasan solid yang dapat membentuk kebijakan inovatif. Langkah ini diharapkan dapat menjaga ketahanan tradisi keilmuan pesantren di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Menteri Agama Nasaruddin Umar secara tegas menyebut Ditjen Pesantren sebagai “cek kosong” yang memerlukan pengisian matang. Pernyataan ini menyoroti urgensi Kajian Ontologi Pesantren untuk menghindari lahirnya kebijakan yang kurang terencana. Fondasi konseptual harus dibangun berdasarkan analisis mendalam terhadap tiga arus pendidikan utama: sekuler, pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren itu sendiri.

Menag berharap forum halaqah ini dapat melahirkan gagasan-gagasan yang solid dan konkret. Gagasan tersebut diharapkan mampu menentukan arah masa depan pesantren secara komprehensif. Selain itu, halaqah ini juga berfungsi untuk mengintegrasikan keragaman pandangan yang saat ini berkembang dalam dunia pendidikan.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, menambahkan bahwa kampusnya berkomitmen menguatkan ekosistem pesantren. Berbagai program, termasuk Ma’had Al-Jamiah, akan terus dikembangkan. Ia berharap halaqah ini menjadi ruang konsolidasi nasional untuk menenun masa depan pesantren sekaligus menjaga ketahanan tradisi keilmuan.

Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menjelaskan bahwa halaqah ini menjadi wadah terbuka. Para pemangku kepentingan dapat menyampaikan pandangan dan masukan berharga bagi kemajuan pesantren. Ruang diskusi ini diharapkan menghasilkan gagasan yang lebih konkret dan inovatif mengenai arah penguatan pesantren.

Penguatan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif semata, demikian ditegaskan oleh mantan Ketua PBNU Said Aqil Siradj. Menurutnya, pondasi penguatan harus berdiri di atas bangunan epistemologi yang kokoh. Pemahaman agama perlu berlandaskan pada tiga pendekatan klasik yang telah menjadi tradisi besar dalam keilmuan Islam.

Tiga pendekatan tersebut adalah Bayan, Burhan, dan Irfan. Bayan merupakan pendekatan tekstual yang berbasis pada wahyu dan hadis, memberikan dasar normatif. Burhan adalah pendekatan rasional yang menguatkan teks melalui logika dan penalaran, memastikan pemahaman yang koheren. Sementara itu, Irfan adalah pendekatan spiritual yang memberikan kedalaman makna melalui pengalaman batin.

Said Aqil menekankan bahwa ketiga epistemologi ini tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. "Teks tanpa nalar tidak cukup, dan nalar tanpa kedalaman spiritual juga tidak memadai," ujarnya. Integrasi ketiga pendekatan ini penting untuk menghasilkan pemahaman agama yang utuh dan komprehensif. Hal ini juga relevan dalam konteks Kajian Ontologi Pesantren.

Pendekatan holistik ini memastikan bahwa pesantren tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan pemahaman tekstual yang kuat. Dengan demikian, pesantren dapat terus berperan sebagai benteng keilmuan Islam yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi