Pariwisata Syariah: Kunci Penjenamaan Daerah dan Daya Tarik Global Indonesia
Akademisi UIN Mataram menilai Pariwisata Syariah strategis sebagai instrumen penjenamaan daerah, memperkuat citra Indonesia di mata wisatawan Muslim global dan mendongkrak ekonomi.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Baiq El Badriati, menekankan peran strategis pariwisata syariah. Hal ini penting sebagai instrumen penjenamaan atau branding bagi daerah-daerah di Indonesia.
Menurut Badriati, konsep pariwisata syariah tidak hanya mencerminkan identitas kultural masyarakat Muslim. Namun, juga menjadi daya tarik kompetitif di pasar wisata global yang terus berkembang pesat.
Pernyataan ini disampaikan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada Selasa (14/4). Pernyataan tersebut menyoroti potensi besar sektor ini, bertepatan dengan posisi Indonesia sebagai destinasi ramah Muslim terbaik dunia.
Pariwisata Syariah sebagai Instrumen Branding Daerah
Badriati menjelaskan bahwa pariwisata syariah merupakan "image view" kedaerahan yang sangat menarik untuk dijadikan branding. Ini menunjukkan bagaimana identitas lokal dapat diangkat melalui konsep ini.
Contoh nyata dapat dilihat dari Aceh dengan nuansa syariah yang kuat, serta Lombok yang dikenal sebagai "Pulau Seribu Masjid". Kedua daerah ini berhasil menarik turis domestik dan mancanegara.
Penjenamaan ini tidak hanya memperkuat identitas daerah. Namun, juga memberikan nilai tambah yang unik di mata wisatawan, menjadikannya destinasi pilihan.
Pariwisata syariah menjadi keniscayaan yang menarik sebagai parameter utama dalam pengembangan pariwisata di Indonesia. Hal ini sejalan dengan mayoritas penduduk Muslim di Indonesia.
Posisi Indonesia dalam Pasar Wisata Halal Global
Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekitar 248 juta jiwa, memiliki potensi besar dalam pariwisata syariah. Angka ini setara dengan 87 persen dari total penduduk.
Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index (GMTI), Indonesia secara konsisten masuk jajaran destinasi wisata ramah Muslim terbaik dunia. Capaian ini sudah berlangsung selama satu dekade terakhir.
Pada tahun 2024, Indonesia berhasil mempertahankan peringkat pertama GMTI dengan skor kuat 76 poin. Ini menunjukkan komitmen terhadap layanan berkualitas tinggi dan infrastruktur yang memadai.
Meskipun sempat bergeser ke peringkat kelima pada tahun 2025, Indonesia tetap mempertahankan skor keseluruhan yang sama sebesar 76 poin. Ini menegaskan reputasi baik di kalangan wisatawan Muslim.
Dampak dan Potensi Ekonomi Pariwisata Syariah
Penguatan pariwisata syariah sangat penting dalam konteks sistem dan pemosisian global. Hal ini dapat memperjelas citra destinasi wisata daerah di mata wisatawan dari seluruh dunia.
Lombok, sebagai contoh, telah menerima berbagai penghargaan seperti "Best Halal Honeymoon" dan "Best Halal Food". Penghargaan ini menjadi faktor utama pendukung pariwisata syariah.
Jumlah wisatawan Muslim yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2024 mencapai 1,9 juta jiwa. Angka ini merupakan bagian dari total 13,8 juta turis asing yang datang.
Wisatawan dari negara-negara ASEAN menyumbang 75 persen dari wisatawan Muslim mancanegara. Malaysia menjadi penyumbang terbesar sejak 2022, dengan 2,27 juta turis pada 2024.
Sumber: AntaraNews