Tahukah Anda? PKK NTT Dorong Penanganan Stunting NTT Berbasis Pertanian Terintegrasi dari Halaman Rumah
PKK NTT berinovasi dalam penanganan Stunting NTT melalui pertanian organik terintegrasi, dimulai dari halaman rumah. Bagaimana cara kerjanya dan apa dampaknya bagi gizi keluarga?
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah menggalakkan sebuah inovasi signifikan dalam upaya penanganan stunting di wilayahnya. Inisiatif ini berfokus pada pendekatan pertanian organik terintegrasi yang dapat diaplikasikan langsung dari halaman rumah setiap keluarga. Langkah strategis ini diharapkan mampu memberikan solusi berkelanjutan untuk masalah gizi.
Konsep pertanian terintegrasi ini menekankan penggunaan bahan-bahan alami, mulai dari pupuk hingga pestisida, tanpa melibatkan bahan kimia berbahaya. Gestianus Sino dari Bidang III Bagian Ketahanan Pangan PKK Provinsi NTT, yang juga seorang petani milenial, menjelaskan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal menjadi kunci utama. Tujuannya adalah memastikan konsumsi pangan yang sehat dan bernutrisi lengkap.
Dorongan ini disampaikan dalam rapat koordinasi (rakor) daerah TP PKK se-NTT yang bertema “Kolaborasi Tim Penggerak PKK Mewujudkan NTT Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan”. Rakor tersebut menjadi wadah strategis untuk memaparkan praktik baik pertanian ini. Diharapkan model ini dapat secara efektif berkontribusi pada penurunan angka stunting di NTT.
Inovasi Pertanian Organik Terintegrasi untuk Gizi Keluarga
Gestianus Sino menjelaskan lebih lanjut mengenai praktik baik pertanian organik terintegrasi sebagai model pemanfaatan gizi keluarga. Sistem ini dirancang untuk menghasilkan pangan dengan nutrisi lengkap yang bersumber dari bahan alami. Hal ini secara langsung mendukung kesehatan masyarakat dan menjadi fondasi kuat dalam upaya pencegahan stunting.
Salah satu aspek menarik dari inovasi ini adalah pemanfaatan limbah dapur sebagai bahan baku untuk berkebun di rumah. Setiap keluarga didorong untuk memulai sistem pertanian terintegrasi ini, bahkan dengan lahan terbatas. Berbagai metode dapat diterapkan, seperti menanam di polybag, menggunakan greenhouse, atau bahkan membuat kolam lele dengan sistem bioflok.
Penerapan sistem pertanian terintegrasi ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi. Lebih dari itu, inisiatif ini juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi keluarga. Dengan menghasilkan bahan pangan sendiri, biaya pengeluaran dapat ditekan, sekaligus memastikan ketersediaan pangan bergizi secara mandiri.
Memperkuat Kolaborasi dalam Pencegahan Stunting NTT
Ketua TP PKK Provinsi NTT, Mindriyati Astiningsih, menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara PKK kabupaten/kota. Upaya ini harus sejalan dengan program pemerintah daerah dalam isu pencegahan stunting. Penguatan kolaborasi ini menjadi kunci untuk mencapai tujuan bersama dalam mewujudkan NTT yang lebih sehat dan sejahtera.
Rakor daerah TP PKK se-NTT ini merupakan momentum strategis untuk mengevaluasi capaian program yang telah berjalan. Selain itu, rakor ini juga menjadi ajang untuk menyusun langkah-langkah ke depan yang lebih efektif. Sinergi antara PKK, pemerintah, dan mitra pembangunan diharapkan semakin kuat melalui pertemuan ini.
Mindriyati Astiningsih mendorong seluruh tingkatan PKK untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Tujuannya adalah meningkatkan efektivitas gerakan dalam penguatan ketahanan pangan. Upaya kolektif ini sangat krusial untuk mencegah stunting dan memastikan masa depan generasi NTT yang lebih baik.
Data terbaru menunjukkan adanya penurunan prevalensi stunting di NTT. Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyebutkan bahwa pada tahun 2024, prevalensi stunting mencapai 61.961 anak. Angka ini menurun dari 63.804 anak pada tahun 2023, menunjukkan bahwa upaya yang telah dilakukan mulai membuahkan hasil positif.
Sumber: AntaraNews