Kolaborasi TP PKK NTT Perkuat Penanganan Kemiskinan, Stunting, dan Kekerasan
TP PKK NTT gencar memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi tiga persoalan krusial: kemiskinan, stunting, dan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Nusa Tenggara Timur.
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil langkah strategis dengan menggelar rapat koordinasi di Kupang pada Jumat (10/4). Kegiatan ini bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor. Kolaborasi TP PKK NTT ini melibatkan berbagai organisasi perempuan dan mitra pembangunan.
Fokus utama dari pertemuan ini adalah penanganan tiga isu krusial yang masih menjadi tantangan serius di NTT. Isu-isu tersebut meliputi tingginya angka kemiskinan, prevalensi stunting, serta maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ketua TP PKK NTT, Mindriyati Astiningsih, menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi.
Melalui rapat koordinasi ini, TP PKK NTT berupaya menyusun peta potensi kerja sama yang berkelanjutan. Tujuannya adalah memastikan program-program penanganan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat. Penguatan kolaborasi ini diharapkan membawa dampak signifikan bagi kesejahteraan keluarga di seluruh kabupaten dan kota.
Tantangan Serius: Kemiskinan, Stunting, dan Kekerasan di NTT
Provinsi Nusa Tenggara Timur masih menghadapi tantangan berat terkait kemiskinan, dengan angka mencapai 17,5 persen atau sekitar 1,03 juta orang. Angka ini menempatkan NTT sebagai salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Situasi ini memerlukan perhatian serius dan upaya penanganan yang komprehensif dari berbagai pihak.
Selain kemiskinan, masalah stunting juga menjadi perhatian utama di NTT. Prevalensi stunting di beberapa kabupaten seperti Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, dan Sumba Barat masih berada di atas 20 persen. Kondisi ini mengindikasikan kerentanan gizi yang berdampak pada tumbuh kembang anak.
Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Laporan hingga tahun 2025 mencatat 543 korban kekerasan. Ironisnya, pelaku kekerasan seringkali berasal dari lingkungan terdekat korban, seperti orang tua, keluarga, atau teman sebaya.
Ketiga persoalan ini, yaitu kemiskinan, stunting, dan kekerasan, saling berkaitan erat dan menunjukkan adanya kerentanan dalam struktur keluarga. Mindriyati Astiningsih menegaskan bahwa penanganannya tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan holistik dan terintegrasi.
Pendekatan Holistik dan Peran Strategis TP PKK
TP PKK bersama organisasi perempuan dan mitra pembangunan memiliki peran strategis dalam mengatasi persoalan kompleks ini. Pendekatan holistik menjadi kunci untuk memastikan setiap program dapat menyentuh akar masalah. Kolaborasi TP PKK NTT bertujuan untuk menyatukan berbagai inisiatif yang mungkin sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Ketua TP PKK NTT menyoroti bahwa banyak program serupa yang dijalankan oleh berbagai pihak namun belum terkoordinasi dengan baik. Oleh karena itu, sinergi menjadi esensial agar program-program tersebut dapat saling melengkapi. Hal ini penting untuk mencapai cakupan yang lebih luas dan dampak yang lebih optimal di masyarakat.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh sekitar 250 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Peserta meliputi organisasi perempuan di lingkup Provinsi NTT, mitra pembangunan pemerintah provinsi, perangkat daerah terkait, lembaga vertikal, lembaga agama, lembaga swadaya masyarakat, serta lembaga perbankan. Kehadiran beragam pihak ini menunjukkan komitmen bersama.
Melalui forum ini, diharapkan terjadi pertukaran informasi dan pengalaman yang konstruktif. TP PKK NTT optimis bahwa dengan komunikasi yang efektif, program-program yang dijalankan akan saling melengkapi. Ini akan memperkuat upaya penanganan masalah hingga ke tingkat paling bawah.
Sumber: AntaraNews