Fakta Unik: Bantuan Stunting di NTT Sering Salah Sasaran, Ini 3 Tantangan Utama Cegah Stunting NTT

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) mengungkap tiga tantangan krusial dalam upaya cegah stunting NTT, termasuk minimnya pemahaman dan salah sasaran bantuan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Bantuan Stunting di NTT Sering Salah Sasaran, Ini 3 Tantangan Utama Cegah Stunting NTT
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) mengungkap tiga tantangan krusial dalam upaya cegah stunting NTT, termasuk minimnya pemahaman dan salah sasaran bantuan. (AntaraNews)

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) atau BKKBN baru-baru ini mengidentifikasi tiga tantangan besar dalam upaya penanganan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pernyataan ini disampaikan oleh Deputi Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Sukaryo Teguh Santoso, pada akhir Oktober lalu. Tantangan ini diungkapkan di Kota So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dalam sebuah acara penting.

Identifikasi tantangan ini merupakan bagian dari Puncak Acara Penguatan Penggerakan dan Pemberdayaan Masyarakat. Acara tersebut berfokus pada penghapusan kemiskinan ekstrem serta percepatan penurunan stunting di wilayah NTT. Pemerintah terus berupaya keras untuk menekan angka stunting yang masih menjadi masalah serius di banyak daerah.

Sukaryo Teguh Santoso menekankan bahwa pemahaman mendalam tentang akar masalah sangat krusial untuk merumuskan solusi yang tepat. Tiga poin utama yang menjadi sorotan diharapkan dapat menjadi pijakan bagi semua pihak. Hal ini untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan dan penanganan stunting di masa mendatang.

Tantangan pertama yang diungkapkan oleh Kemendukbangga adalah rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai stunting. Banyak warga yang belum sepenuhnya mengerti apa itu stunting, penyebabnya, serta dampak jangka panjangnya terhadap tumbuh kembang anak. Kurangnya informasi ini seringkali menghambat upaya pencegahan di tingkat keluarga.

Menurut Sukaryo Teguh Santoso, "Jadi memang tentang stunting ini memang perlu ditingkatkan lagi pemahamannya sehingga masyarakat paham." Peningkatan edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat dapat mengambil langkah preventif. Edukasi harus mencakup gizi seimbang, sanitasi, dan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin bagi ibu hamil dan balita.

Program sosialisasi yang lebih masif dan mudah diakses diperlukan untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat di NTT. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan kesadaran akan pentingnya gizi dan kesehatan anak sejak dini akan meningkat. Ini akan berkontribusi signifikan dalam upaya cegah stunting NTT.

Tantangan kedua yang disoroti adalah ketidaktepatan sasaran dalam penyaluran bantuan terkait stunting. Kemendukbangga menemukan bahwa bantuan yang ada seringkali lebih fokus pada balita yang sudah mengalami stunting, bukan pada upaya pencegahan. Kondisi ini menyebabkan efektivitas program menjadi kurang optimal.

Sukaryo Teguh Santoso menjelaskan, "Bantuan untuk stunting ini memang banyak, namun tidak untuk pencegahan tetapi justru diberikan kepada balita yang sudah stunting." Padahal, intervensi pencegahan jauh lebih berdampak jika diberikan pada usia dini. Bantuan seharusnya diprioritaskan untuk ibu hamil dan balita di bawah usia dua tahun.

Dampak intervensi gizi pada balita usia di bawah dua tahun dapat mencapai 80 persen, sementara pada usia tiga tahun ke atas pengaruhnya hanya sekitar 20 persen. Data ini menunjukkan betapa krusialnya periode emas pertumbuhan anak. Oleh karena itu, penyesuaian strategi penyaluran bantuan sangat diperlukan agar upaya cegah stunting NTT lebih efektif.

Tantangan ketiga adalah belum adanya keterpaduan yang optimal antar berbagai sektor atau lembaga terkait. Meskipun banyak kementerian dan lembaga memiliki program untuk mengatasi stunting, koordinasi di tingkat lapangan masih menjadi kendala. Hal ini menyebabkan tumpang tindih program atau adanya celah yang tidak tertangani.

Sukaryo Teguh Santoso menyerukan pentingnya kolaborasi yang lebih erat. "Kementerian Lembaga, perguruan tinggi khususnya, akademisi, termasuk jajaran media dan masyarakat untuk membantu, mencegah stunting dengan baik," ujarnya. Sinergi ini akan memastikan setiap program berjalan selaras dan saling mendukung.

Keterpaduan program dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, akademisi, organisasi masyarakat, dan media, sangat dibutuhkan. Dengan bekerja sama, sumber daya dapat dimaksimalkan dan jangkauan program pencegahan stunting dapat diperluas. Ini adalah langkah vital untuk mencapai target penurunan stunting di NTT.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi