Tahukah Anda? Belanda Pernah Sebut Diponegoro Pengkhianat! Sejarawan Minta Koleksi Sejarah Perpusnas Disusun Kronologis & Digital
Sejarawan Mustaqim Asteja mendesak Perpusnas untuk menyusun Koleksi Sejarah Perpusnas secara kronologis dan digital, penting untuk meluruskan narasi sejarah kolonial yang bias.
Mustaqim Asteja, seorang sejarawan dan penulis, baru-baru ini menyerukan pentingnya penataan koleksi sejarah di Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Ia menekankan perlunya penyusunan koleksi secara kronologis dan digitalisasi untuk akses yang lebih luas oleh masyarakat.
Seruan ini disampaikan dalam acara Diskusi Publik 200 Tahun Perang Jawa pada Senin, 22 September, di Jakarta. Diskusi tersebut membahas "Pejuang, Pengasingan, dan Pembentukan Memori" yang relevan dengan narasi sejarah bangsa.
Tujuannya adalah untuk mengoreksi bias dalam catatan sejarah yang dibuat oleh pihak kolonial Belanda. Mustaqim menilai, narasi tersebut seringkali merendahkan para pejuang kemerdekaan Indonesia.
Pentingnya Urutan Kronologis dan Digitalisasi Koleksi Sejarah Perpusnas
Mustaqim Asteja menjelaskan bahwa memori sejarah yang disusun oleh Belanda tidak dapat sepenuhnya dipercaya tanpa pembanding. Perpusnas memiliki koleksi yang sangat lengkap, mencakup publikasi dari tahun 1814 hingga 1942, yang bisa menjadi bahan koreksi. Koleksi sejarah Perpusnas ini sangat vital untuk menyusun narasi sejarah yang lebih akurat dan berimbang.
Ia menegaskan bahwa sejarah selalu terkait dengan tokoh, peristiwa, tempat, dan waktu yang spesifik. Oleh karena itu, penyusunan kronologis akan membantu masyarakat dalam memahami konteks sejarah secara utuh. Digitalisasi koleksi juga akan mempermudah peneliti dan publik untuk mengakses sumber-sumber primer ini.
Contoh konkret yang diangkat adalah publikasi Belanda tahun 1842 mengenai Pangeran Diponegoro. Dalam narasi kolonial, Pangeran Diponegoro digambarkan sebagai "pengkhianat negara dan pembuat onar," sebuah penggambaran yang perlu diluruskan. Koleksi di Perpusnas dapat menjadi bukti otentik untuk meluruskan distorsi sejarah tersebut.
Platform Khastara: Akses Digital untuk Meluruskan Sejarah
Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, membenarkan bahwa banyak koleksi sejarah relevan telah didigitalisasi. Koleksi ini meliputi majalah langka, surat kabar langka, buku langka, naskah kuno, serta audio visual dan mikrofis. Semua telah tersedia dalam platform digital bernama Khastara.
Melalui Khastara, publik dapat mengakses berbagai sumber primer yang mendalam mengenai Perang Diponegoro. Ini mencakup latar belakang, jalannya pertempuran, hingga dampak pasca-perang terhadap masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital ini sangat krusial untuk pelestarian materi langka.
Digitalisasi tidak hanya menjaga kelestarian fisik materi langka dari kerusakan, tetapi juga memperluas jangkauan akses. Peneliti, akademisi, dan masyarakat umum kini dapat menggali sejarah nasional secara lebih mendalam dan kritis. Ini adalah langkah maju dalam manajemen Koleksi Sejarah Perpusnas.
Kekayaan Koleksi Fisik dan Digital Perpusnas
Pustakawan Ahli Madya Perpusnas, Atikah, menjelaskan keragaman koleksi yang dapat diakses baik secara langsung maupun digital. Koleksi buku langka tersedia di lantai 14, sementara foto, peta, dan lukisan berada di lantai 16. Koleksi audio visual dapat ditemukan di lantai 8 Gedung Perpusnas.
Selain itu, majalah terjilid tersimpan di lantai 23, dan koleksi surat kabar langka tersebar dari lantai 7C hingga 9. Koleksi kliping CSIS juga tersedia di lantai 7B Perpusnas Salemba. Ketersediaan ini menunjukkan komitmen Perpusnas dalam menjaga warisan sejarah.
Selain Khastara, pemustaka juga dapat memanfaatkan Opac Perpusnas dan e-Resources untuk mengakses koleksi. Layanan melalui WhatsApp dan email juga disediakan untuk setiap kelompok layanan koleksi klasika. Ini memastikan bahwa Koleksi Sejarah Perpusnas dapat dijangkau dengan berbagai cara.
Sumber: AntaraNews