Skandal Beras Oplosan, Ketua DPR Puan Maharani Minta Negara Lindungi Rakyat Kecil
Puan mendorong Badan Pangan Nasional (Bapanas) membongkar skandal beras oplosan ini.
Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti serius skandal beras premium oplosan yang merugikan masyarakat. Ia menyebut praktik curang ini mencoreng etika perdagangan dan semakin menekan hidup masyarakat yang terdampak inflasi serta lonjakan harga bahan pokok.
"Praktik curang seperti ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Saat daya beli masyarakat sedang menurun, mereka justru dihadapkan pada manipulasi mutu pangan yang sangat merugikan," ujar Puan, Rabu (23/7/2025).
Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkap sebagian besar sampel dari 268 merek beras yang diuji di 10 provinsi produsen utama tidak sesuai mutu. Terdapat 85 persen sampel beras tidak sesuai standar, ditemukan berat beras kemasan 5 kg hanya berisi 4,5 kg.
Presiden Prabowo pun menyebut praktik ini merugikan negara hingga Rp100 triliun per tahun. Puan juga menilai skandal ini memukul pedagang kecil hingga menjadi korban rantai distribusi yang tidak transparan.
"Mereka menjual produk dengan niat baik, tapi justru ikut menanggung dampaknya karena mutu produk tidak sesuai label," tegasnya.
Puan mendorong Badan Pangan Nasional (Bapanas) membongkar skandal beras oplosan. Ia pun menilai seluruh instansi berwenang, termasuk KPPU juga harus menindaklanjuti temuan ini dengan mengklasifikasi tingkat pelanggaran.
"Praktik oplosan beras juga harus diusut tuntas. Dugaan keterlibatan kartel atau praktik monopoli dalam distribusi beras premium harus diselidiki tuntas," tegasnya.
Menurutnya, pemerintah harus memberi perlindungan bagi pedagang kecil dan konsumen. "Pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan afirmatif untuk melindungi pedagang pasar dari dampak reputasi yang buruk dan membuka ruang pemulihan ekonomi secara adil," tegasnya.
Ia menegaskan pentingnya keadilan ekonomi dalam rantai distribusi pangan. "Ketahanan pangan tak bisa dibangun di atas praktik curang. Bila distribusi terus dikuasai segelintir pihak tanpa pengawasan, rakyatlah yang jadi korban. Negara tidak boleh membiarkannya," pungkas Puan.