Seorang Murid di Makassar Disodomi Gurunya Berkali-kali hingga Trauma
Seorang guru di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, inisial IH (15) ditetapkan sebagai tersangka usai melakukan sodomi terhadap muridnya berusia 9 tahun.
Seorang guru di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, inisial IH (15) ditetapkan sebagai tersangka usai melakukan sodomi terhadap muridnya berusia 9 tahun. Mirisnya tindakan pelecehan seksual tersebut dilakukan IH dilakukan di tempat ibadah.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Ajun Komisaris Wahiduddin membenarkan IH telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Dia mengatakan orang tua korban sebelumnya telah melaporkan IH ke Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar pada tanggal 17 Februari 2025.
"Iya, sudah tersangka. LP (laporan polisi) langsung orang tua korban tanggal 17 Februari," kata Wahiduddin, Jumat (28/2).
Terpisah, orang tua korban inisial S (45) mengaku kaget anaknya yang masih berusia 9 tahun tersebut menjadi korban sodomi oleh guru mengajinya. S menyebut anaknya takut karena diancam oleh pelaku jika cerita dengan orang lain.
"Anak saya tidak berani cerita, karena dia takut diancam oleh pelaku. Pelaku mengancam akan memukulnya jika dia melapor," ungkapnya.
S mengungkapkan pelecehan seksual dialami anaknya terjadi di lantai 2 masjid dan di area tangga.
"Lokasinya di lantai 2 dan di tangga masjid. Ada CCTV, tapi tidak terjangkau," ungkapnya.
S menceritakan baru mengetahui anaknya menjadi korban pelecehan seksual saat meminta izin main futsal. Saat itu, korban meminta izin kepada neneknya.
"Anak saya keluar rumah pukul 07.00 pagi dan belum kembali hingga pukul setengah 10. Saya meminta istri saya untuk mencarinya," ujarnya.
Saat itu, ibu korban menemukan anaknya bersama pelaku di lapangan futsal. Saat itu, kata S, seorang perempuan memberi tahukan istrinya terkait sosok IH.
"Perempuan itu marah dan mengatakan, 'Bodohlah kamu sebagai orang tua kalau mau kasih bergaul sama ustaz (IH) tersebut'," kata dia.
Usai mendapatkan informasi tersebut, S akhirnya bertanya kepada anaknya. Saat itulah, korban mengungkapkan menjadi korban sodomi IH sejak kelas 1 sekolah dasar (SD).
"Anak saya mengaku sudah sering disodomi oleh pelaku. Bahkan, penjelasan anak saya ini sudah dilakukan berkali-kali semenjak tahun 2024 sampai terakhir 11 Februari 2025," ungkapnya.
Akibat kejadian tersebut, S mengaku anaknya mengalami trauma. Bahkan, korban lebih sering menyendiri dan berada di dalam kamar.
"Anak kami cenderung menjadi pemalu dan lebih sering menyendiri. Ketika kami bertemu dengan keluarga, dia memilih untuk tetap di dalam kamar," tuturnya
"Saya sesalkan, seharusnya anak saya berada di tempat yang aman, yaitu TPA, malah menjadi korban kekerasan seksual," pungkasnya.