Sejarah Ayam Goreng Widuran: 52 Tahun Eksis Hancur Karena Minyak Babi
Rumah Makan Ayam Goreng Widuran, Jalan Sultan Syahrir mendadak viral. Maraknya aduan masyarakat membuat rumah makan legendaris di Solo tersebut akan ditutup.
Nama Rumah Makan Ayam Goreng Widuran, Jalan Sultan Syahrir mendadak viral. Bukan karena cita rasa lezat yang membuat pembeli berdatangan. Namun karena selama 52 tahun menjual produk non halal memakai minyak babi.
Maraknya aduan masyarakat membuat salah satu rumah makan legendaris di Solo tersebut ditutup. Wali Kota Solo Respati Ardi yang mendatangi lokasi akhirnya meminta rumah makan di pusat kota itu tutup sementara. Proses assessment dilakukan untuk menentukan nasib rumah makan.
Nama Rumah Makan Ayam Goreng Widuran bagi kalangan masyarakat menengah ke atas di Solo memang sudah cukup akrab di telinga. Rumah makan legendaris yang berdiri sejak tahun 1973 ini dikenal luas sebagai salah satu tempat makan ayam goreng favorit di Solo.
Terletak di jalur strategis di Jalan Sutan Syahrir No. 71, Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Ayam Goreng Widuran Solo telah menjadi destinasi favorit bagi warga lokal maupun wisatawan yang ingin mencicipi olahan ayam kampung berbumbu rempah khas Solo.
Selain goreng, tersedia pula varian ayam bakar. Keistimewaan menu ini terletak pada tekstur daging ayam yang sedikit basah namun tetap empuk dan gurih, serta kremesan khas yang gurih dan renyah. Ayam yang disajikan dilengkapi sambal bawang, sambal matah atau sambal original sesuai selera.
Menurut para pelanggan setia, cita rasa ayam goreng Widuran tak pernah berubah dan menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan bisnis kuliner di Solo.
"Kalau saya 2 tahun lalu sih makan disitu. Setelah tak posting lalu ada yang DM. Bilangnya itu minyak babi. Lalu aku WhatsApp warungnya. Dan dia jawab 'memang kami non halal kak'," ujar Dynar Widi, warga Nusukan Solo.
Sutanto Hadi (59) warga Solo Baru berlangganan ayam khas Widuran sejak lama. Awalnya mereka dikenalkan oleh orang tuanya. Namun setelah kedua orang tuanya meninggal, ia dan keluarga hanya sesekali datang.
"Dulu mungkin 15-20 tahun lalu orang tua kami setiap Sabtu atau Minggu selalu mengajak makan ke Widuran. Tapi kita sekarang jarang jarang. Mungkin 2 minggu sekali. Selain ayam kampung, kremesnya juga enak," katanya.
Sutanto mengaku jika pada masa kedua orang tuanya, belum banyak warung ayam goreng. Sehingga keberadaan Ayam Goreng Widuran cukup menyita perhatian dan menjadi disukai masyarakat.
"Tapi sekarang ketahuan pakai minyak babi, ya kami sangat kecewa. Saya enggak mungkin ke sini lagi. Cari yang halal saja. Sekarang banyak kok yang enak, Mbah Karto, Suharti, Mbak Mul, Mulyani, Kartini, semuanya enak," ungkapnya.
Pengakuan Mengejutkan Pegawai
Produk non halal di Ayam Goreng Widuran diakui oleh salah satu karyawan bagian penggorengan, Suranto. Penjelasan mengenai status non-halal memang baru disampaikan secara terbuka belakangan ini. Hal tersebut dilakukan setelah munculnya komplain dari pelanggan yang viral di media sosial.
“Sudah kita kasih pengertian beberapa hari lalu, kalau ini non-halal. Ya karena viral, kami kasih pengertian, yang non-halal itu kremesnya,” tukasnya.
Lanjut Suranto, selama ini mayoritas pelanggan di Ayam Goreng Widuran berasal dari kalangan non-muslim. Menurutnya, pihak manajemen telah menambahkan label “NON-HALAL” di berbagai kanal komunikasi mereka, termasuk reklame outlet, akun Instagram, hingga Google Maps.
“Kebanyakan pelanggan kami memang non-muslim sejak tahun 1971,” ucapnya.
Akibat peristiwa menghebohkan tersebut, pihak manajemen telah menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram, @ayamgorengwiduransolo.
Wali Kota Solo Respati Ardi yang menerima aduan ihwal tersebut langsung bertindak cepat. Senin pagi, dia mendatangi lokasi rumah makan. Namun sayang pemilik warung makan tersebut tidak berada di tempat.
Karena sudah meresahkan masyarakat, iapun meminta para karyawan menghentikan aktivitasnya. Respati kemudian meminta karyawan untuk menutup warung hingga batas waktu yang belum ditentukan.