Sederet Penyebab Seseorang Mengalami Kelainan Seksual
Kelainan seksual merupakan rangsangan seksual yang umumnya tidak dianggap sebagai rangsangan seksual oleh sebagian besar orang.
Priguna Anugerah Pratama (PAP), seorang dokter residen anestesi di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, telah ditangkap atas tuduhan pemerkosaan terhadap keluarga pasien.
Priguna diduga membius korban menggunakan obat bius, seperti Midazolam, dengan dalih melakukan pemeriksaan crossmatch sebelum melakukan tindakan pemerkosaan.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat, Kombes Surawan mengatakan, tersangka Priguna sudah menjalani serangkaian tes psikologis. Hasilnya, Priguna diduga memiliki kelainan seksual.
"Fantasinya senang melihat orang yang pingsan," ucap Surawan, Kamis (10/4).
"Kami masih menunggu hasil pemeriksaan psikologi dari tim psikologi forensik untuk memperkuat hasil pemeriksaan kecenderungan tersangka kelainan seksual," jelas dia.
Apa Itu Kelainan Seksual?
Kelainan seksual, atau yang juga dikenal sebagai parafilia, merupakan kondisi di mana seseorang mengalami rangsangan seksual yang kuat dan berulang terhadap aktivitas, benda, atau situasi yang umumnya tidak dianggap sebagai rangsangan seksual oleh sebagian besar orang.
Kondisi ini dikategorikan sebagai gangguan mental dan ditandai oleh perilaku seksual yang menyimpang dari norma sosial.
Perilaku ini dapat melibatkan objek, aktivitas, atau situasi yang tidak biasa. Bahkan dapat melibatkan orang lain tanpa persetujuan mereka, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian atau bahaya.
Penyebab Kelainan Seksual
Kelainan seksual merupakan kondisi kompleks yang tidak selalu memiliki satu penyebab tunggal. Seringkali, kombinasi beberapa faktor yang saling berkaitan mempengaruhi munculnya kelainan seksual.
Trauma masa kecil sangat mempengaruhi kelainan seksual. Pengalaman traumatis seperti pelecehan seksual, kekerasan fisik atau emosional, atau tumbuh di lingkungan keluarga yang tidak harmonis dapat menjadi pemicu utama.
Bahkan pengalaman tidak sengaja melihat orang tua berhubungan seksual di masa kanak-kanak pun termasuk dalam kategori ini.
Selain trauma, gangguan mental juga dapat meningkatkan risiko kelainan seksual. Kurangnya edukasi seksual juga mempengaruhi kelainan seksual, karena ketidakpahaman tentang seksualitas yang sehat dan norma sosial dapat menyebabkan perilaku seksual yang menyimpang.
Kecanduan alkohol, obat-obatan terlarang, atau pornografi juga dapat memperburuk atau memicu perilaku seksual yang menyimpang. Kesulitan dalam hubungan interpersonal dan pengendalian diri yang rendah juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Meskipun penelitian masih terbatas, beberapa teori mengaitkan kelainan seksual dengan gangguan fungsi otak tertentu. Namun, faktor biologis ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Selain faktor internal, lingkungan juga berperan. Lingkungan yang menoleransi atau bahkan mendorong perilaku seksual menyimpang dapat meningkatkan risiko.