Satgas PRR Targetkan Zero Pengungsi di Tenda Saat Lebaran Idul Fitri
Satgas PRR Pascabencana Sumatera targetkan zero pengungsi di tenda saat Lebaran Idul Fitri 1447 H. Mereka berupaya keras agar semua pengungsi pindah ke hunian sementara (Huntara).
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera memiliki target ambisius menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Mereka berupaya keras agar tidak ada lagi pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat. Tujuan utama adalah memindahkan seluruh pengungsi ke hunian sementara (Huntara) sebelum momen Lebaran tiba.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyampaikan pernyataan ini di Pidie Jaya, Aceh, pada Jumat (06/3). Pernyataan tersebut disampaikan saat peninjauan Huntara bersama Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi.
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan kesejahteraan para korban bencana. Mereka diharapkan dapat merayakan Lebaran di tempat yang lebih layak dan permanen. Fokus utama adalah mempercepat pembangunan dan relokasi ke Huntara yang tersedia.
Target Ambisius Satgas PRR Jelang Lebaran
Satgas PRR menegaskan komitmennya untuk menuntaskan masalah pengungsian di tenda sebelum Idul Fitri 1447 Hijriah. Muhammad Tito Karnavian menyatakan bahwa target ini menjadi prioritas utama bagi timnya. Hal ini bertujuan agar para pengungsi dapat merasakan suasana Lebaran yang lebih baik.
Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pengungsi di tenda telah menurun signifikan. Saat ini, sekitar 6.873 jiwa masih berada di tenda, dengan rincian 6.187 jiwa di Aceh dan 686 jiwa di Sumatera Utara. Sementara itu, Sumatera Barat sudah tidak memiliki pengungsi di tenda lagi.
Para pengungsi yang masih bertahan di tenda di Aceh tersebar di beberapa wilayah. Di Sumatera Utara, mereka berada di Tapteng dan Tapsel. Satgas berupaya keras untuk memastikan seluruhnya dapat menempati Huntara dan menerima dana tunggu hunian.
Ketersediaan dan Tantangan Hunian Sementara
Muhammad Tito Karnavian menjelaskan bahwa jumlah Huntara yang akan dibangun sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan. Namun, proses pembangunan masih terus berlangsung oleh berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut meliputi BNPB, Danantara, Kementerian Pekerjaan Umum, serta lembaga kemanusiaan lainnya.
Kepala BNPB telah menginformasikan akan adanya pengaturan distribusi Huntara. Ada beberapa lokasi Huntara yang dibangun cukup banyak, namun jumlah penghuninya kurang. Oleh karena itu, akan dilakukan pemindahan pengungsi ke Huntara yang tersedia tersebut.
Meski demikian, terdapat beberapa keluhan dari masyarakat mengenai kondisi Huntara. Saat peninjauan di Huntara BNPB Pidie Jaya, warga mengeluhkan suhu di dalam Huntara yang panas. Persoalan air bersih juga menjadi salah satu isu yang disampaikan oleh para pengungsi.
Solusi dan Perbaikan Kondisi Huntara
Menanggapi keluhan warga, Muhammad Tito Karnavian berjanji akan menyampaikan masukan tersebut kepada BNPB. Perbaikan akan diupayakan untuk mengatasi masalah suhu panas di dalam Huntara. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pemasangan plafon untuk mengurangi panas.
Selain itu, standar pembangunan Huntara ke depan akan dipertimbangkan untuk lebih memperhatikan kenyamanan penghuni. Hal ini termasuk memastikan adanya alas yang dapat mengurangi suhu panas. Bantuan kipas angin juga akan diberikan untuk menambah kenyamanan.
Langkah-langkah perbaikan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pengungsi di Huntara. Satgas PRR berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Tujuannya adalah memastikan semua pengungsi mendapatkan tempat tinggal yang layak dan nyaman menjelang Lebaran.
Sumber: AntaraNews