Relawan SSB dan UGM Perkuat Pendampingan Pelajar Aceh Pascabencana
Relawan dari Sekolah Sukma Bangsa dan UGM aktif memberikan pendampingan pembelajaran bagi pelajar di tenda pengungsian Aceh, memastikan pendidikan tetap berjalan pascabencana.
Relawan Pendidikan Sekolah Sukma Bangsa (SSB) dan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) kini aktif memberikan pendampingan pembelajaran bagi pelajar di tenda pengungsian. Mereka berupaya memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di berbagai wilayah Aceh yang terdampak bencana. Upaya ini menjadi krusial untuk menjaga semangat belajar anak-anak di tengah kondisi darurat.
Koordinator Relawan, Victor Yasadana atau akrab disapa Tongky, menjelaskan bahwa timnya telah bergerak langsung di lokasi pengungsian dan sekolah darurat. Pendampingan ini mencakup beberapa kabupaten seperti Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang. Kehadiran relawan menjadi harapan baru bagi kelangsungan pendidikan di daerah tersebut.
Kegiatan ini dilakukan sebagai respons cepat terhadap dampak bencana yang mengganggu proses belajar mengajar. Tujuannya adalah untuk meminimalkan gangguan pendidikan dan menumbuhkan optimisme di kalangan siswa. Inisiatif kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan sektor pendidikan di Aceh.
Fokus Pendampingan di Wilayah Terdampak
Tim relawan SSB dan UGM telah menyasar berbagai titik terdampak bencana di Aceh. Di Kabupaten Aceh Tengah, pendampingan berlangsung di SD Negeri 10 Ketol yang menggunakan tenda darurat sebagai ruang kelas. Kondisi ini menunjukkan komitmen relawan untuk menjangkau lokasi paling membutuhkan.
Selain itu, relawan juga aktif di SMP Negeri 9 Bintang di Kecamatan Bintang serta SD Negeri 11 Linge di Pantan Nangka, Kecamatan Linge. Mereka juga memberikan dukungan di SMP Negeri 22 Lut Tawar di Takengon. Keberadaan relawan memastikan bahwa proses belajar mengajar dapat terus berjalan meskipun dalam keterbatasan fasilitas.
Pergerakan relawan pendidikan tidak hanya terbatas pada wilayah tersebut, tetapi juga meluas ke Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, serta Aceh Tamiang. Victor Yasadana menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk memastikan kegiatan belajar anak-anak tetap berlangsung pascabencana. Upaya menyeluruh ini menunjukkan dedikasi tinggi para relawan.
Persiapan Relawan dan Harapan Kolaborasi
Untuk memperkuat jangkauan pendampingan, sekitar 60 relawan baru dijadwalkan mengikuti pelatihan intensif di SSB Pidie. Pelatihan ini akan dilaksanakan pada 28–30 Januari 2026, mempersiapkan mereka untuk diterjunkan ke wilayah terdampak. Penempatan relawan lanjutan direncanakan termasuk di Kabupaten Gayo Lues.
Meskipun beberapa sekolah mulai kembali normal, relawan berharap adanya dukungan informasi dari pemerintah daerah terkait sekolah yang masih belajar di tenda pengungsian. Data ini penting untuk asesmen awal penempatan relawan lanjutan, khususnya di Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Takengon, Gayo Lues, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang. Informasi akurat sangat dibutuhkan untuk efektivitas program.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menekankan pentingnya proses belajar mengajar tetap berlangsung dalam situasi darurat. Ia meyakini bahwa optimisme yang ditumbuhkan pada siswa akan berdampak besar pada semangat belajar mereka. Optimisme ini krusial agar anak-anak tetap memiliki harapan dan masa depan yang lebih baik.
Apresiasi dan Pentingnya Pendidikan Darurat
Murthalamuddin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah terdampak bencana. Kolaborasi antara berbagai pihak sangat membantu pemerintah daerah dalam menghadapi situasi ini. Sinergi ini menjadi kunci keberhasilan upaya pemulihan pendidikan.
“Dengan kolaborasi seperti ini, kami merasa sangat terbantu,” ujar Murthalamuddin. Ia menambahkan bahwa ini menjadi alasan kuat agar dunia pendidikan Aceh dapat lebih cepat keluar dari masa darurat bencana seperti yang sedang kita hadapi. Pernyataan ini menunjukkan betapa vitalnya peran relawan dalam konteks pemulihan pascabencana.
Pendidikan dalam situasi darurat bencana memerlukan pendekatan khusus dan dukungan berkelanjutan. Kehadiran relawan seperti SSB dan UGM tidak hanya memberikan bantuan akademis. Mereka juga membawa harapan serta dukungan moral bagi para pelajar dan komunitas yang terdampak. Ini adalah investasi penting untuk masa depan Aceh.
Sumber: AntaraNews