Disdik Aceh Instruksikan Pembelajaran Sekolah Terdampak Bencana Dimulai 5 Januari 2026
Dinas Pendidikan Aceh menginstruksikan pembelajaran sekolah terdampak bencana untuk dimulai kembali pada 5 Januari 2026, menekankan pentingnya keberlangsungan pendidikan dan pemulihan psikologis siswa di tengah keterbatasan fasilitas.
Dinas Pendidikan Aceh mengeluarkan instruksi penting bagi sekolah-sekolah yang terdampak bencana, memastikan bahwa aktivitas pembelajaran akan kembali dilaksanakan mulai tanggal 5 Januari 2026. Kebijakan ini bertujuan ganda, yakni menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus menjadi bagian integral dari upaya pemulihan psikologis bagi para siswa korban bencana. Meskipun fasilitas mungkin terbatas, proses belajar-mengajar diharapkan tetap berjalan efektif.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan bahwa instruksi ini secara khusus ditujukan bagi sekolah yang mengalami dampak berat namun masih memungkinkan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar di ruang kelas. Ia menekankan bahwa keterbatasan sarana seperti bangku, kursi, atau buku pelajaran tidak boleh menjadi penghalang utama bagi terhentinya proses pendidikan.
Dalam situasi pascabencana, interaksi sosial dan kegiatan positif di sekolah sangat krusial untuk membantu siswa melupakan trauma dan kepedihan yang mereka alami. Guru memiliki peran sentral dalam memfasilitasi lingkungan yang aman dan kondusif, memastikan anak-anak tetap berinteraksi dengan teman-teman mereka serta terlibat dalam aktivitas yang terarah dan bermanfaat.
Kebijakan Pembelajaran di Tengah Keterbatasan Fasilitas
Dinas Pendidikan Aceh memberikan kelonggaran signifikan terkait pelaksanaan pembelajaran di sekolah-sekolah yang terdampak bencana. Murthalamuddin menjelaskan bahwa meskipun sarana prasarana belum sepenuhnya pulih, kegiatan belajar harus tetap berlangsung. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk memastikan hak anak-anak atas pendidikan tetap terpenuhi, bahkan dalam kondisi darurat.
Ketiadaan fasilitas standar tidak menjadi alasan untuk menghentikan proses edukasi. Sebaliknya, Disdik Aceh mendorong metode pembelajaran yang lebih fleksibel dan adaptif. Kegiatan belajar dapat diimplementasikan melalui diskusi kelompok, berbagi pengalaman antarsiswa, atau sesi bercerita yang melibatkan guru dan murid. Pendekatan ini tidak hanya menjaga interaksi akademik tetapi juga membangun kembali komunitas belajar.
Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk memastikan bahwa anak-anak tidak kehilangan momen pembelajaran yang berharga. Selain itu, aktivitas di sekolah juga berfungsi sebagai sarana pemulihan psikologis. Interaksi dengan teman sebaya dan guru dapat membantu siswa mengatasi trauma bencana, mengembalikan rutinitas, dan memberikan rasa normalitas di tengah situasi yang sulit.
Peran Guru dalam Pemulihan Psikologis Siswa
Peran guru dalam konteks pascabencana menjadi sangat vital dan melampaui tugas mengajar biasa. Murthalamuddin menyoroti bahwa guru harus menjadi fasilitator utama kegiatan positif di sekolah, sekaligus memastikan bahwa anak-anak tidak terlibat dalam tindakan negatif. Kehadiran guru yang stabil dan suportif sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung.
Kondisi emosional siswa korban bencana cenderung belum stabil, sehingga membutuhkan perhatian dan kesabaran ekstra dari para pendidik. Guru diharapkan dapat memahami gejolak emosi yang mungkin dialami siswa, memberikan dukungan moral, dan menciptakan suasana kelas yang empatik. Pendekatan personal dan penuh pengertian akan sangat membantu dalam proses pemulihan trauma.
Penting bagi guru untuk menjaga dan mengawasi siswa selama berada di lingkungan sekolah. Murthalamuddin menegaskan, “Guru harus memahami kondisi emosional anak-anak dan menjaga mereka selama berada di sekolah.” Selain itu, siswa tidak boleh dibiarkan berkeliaran tanpa aktivitas yang terarah. Setiap kegiatan harus dipandu untuk memastikan keamanan dan kebermanfaatan bagi perkembangan mereka.
Memastikan Keberlanjutan Proses Belajar-Mengajar
Meskipun sarana belajar belum sepenuhnya tersedia atau rusak parah, sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak-anak tetap mengikuti kegiatan yang terarah dan positif. Pendampingan aktif dari guru sangat diperlukan agar proses pembelajaran tetap berjalan dalam suasana yang aman dan kondusif. Ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah prioritas yang tidak dapat ditunda, bahkan dalam kondisi darurat.
Murthalamuddin menekankan bahwa esensi dari instruksi ini adalah untuk mencegah anak-anak kehilangan proses pembelajaran. “Intinya, jangan sampai anak-anak kehilangan proses pembelajaran. Yang penting ada kegiatan positif di ruang kelas dan di sekolah,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya mempertahankan rutinitas pendidikan sebagai jangkar stabilitas bagi anak-anak yang terdampak bencana.
Kegiatan positif di sekolah, meskipun sederhana, dapat memberikan dampak besar bagi siswa. Selain aspek akademis, interaksi sosial dan keterlibatan dalam aktivitas terstruktur membantu membangun kembali rasa komunitas dan harapan. Disdik Aceh berharap melalui upaya ini, siswa dapat secara bertahap pulih dari trauma dan kembali fokus pada masa depan pendidikan mereka.
Sumber: AntaraNews