Ratusan Warga Tionghoa Kuta Gelar Ritual Tolak Bala Imlek dengan Akulturasi Budaya Bali
Jelang Imlek 2577, ratusan warga Tionghoa Kuta menggelar Ritual Tolak Bala Imlek, sebuah perpaduan unik akulturasi budaya Tionghoa-Bali yang memukau dan kaya makna.
Ratusan warga etnis Tionghoa di Kuta, Badung, menggelar ritual tolak bala yang sarat makna spiritual dan akulturasi budaya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577. Prosesi ini menjadi tradisi tahunan yang bertujuan untuk menetralisir energi negatif dan memberikan penghormatan kepada makhluk tak kasat mata di alam bahagia. Ritual tolak bala Imlek Kuta ini memadukan unsur budaya Tionghoa dengan kearifan lokal Bali, menciptakan sebuah perayaan yang unik dan menarik.
Ritual ini dilaksanakan pada sore hari, sehari sebelum Imlek, dengan melibatkan parade iringan lima barongsai dan dua liong yang memukau. Sekitar 400 orang warga etnis Tionghoa Kuta berjalan perlahan sambil membawa berbagai perlengkapan upacara. Parade dimulai dari Vihara Dharmayana Kuta, menyusuri jalanan utama, dan berakhir kembali di vihara tersebut.
Penanggung Jawab Pengurus Vihara Dharmayana Kuta, Adi Dharmaja Kusuma, menjelaskan bahwa liong dan barongsai diyakini memiliki kekuatan untuk menetralisir hal-hal negatif. Tradisi yang telah berlangsung selama 18 tahun ini menjadi wujud nyata dari harmonisasi budaya yang telah terjalin ribuan tahun di Pulau Dewata.
Makna dan Prosesi Ritual Tolak Bala Imlek
Ritual tolak bala yang digelar warga Tionghoa Kuta memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghormatan kepada makhluk-makhluk yang tidak terlahir di alam bahagia. Adi Dharmaja Kusuma menegaskan bahwa kehadiran liong dan barongsai dalam prosesi ini dipercaya dapat menetralisir hal-hal negatif di lingkungan sekitar. Atraksi barongsai dan liong yang ditampilkan di berbagai titik parade juga memiliki tujuan serupa, seringkali dilakukan saat pembukaan usaha baru untuk mendatangkan keberuntungan.
Prosesi diawali dengan parade ratusan peserta dari Vihara Dharmayana Kuta, bergerak menuju selatan ke persimpangan Jalan Blambangan-Kalianget. Setelah itu, rombongan berbelok ke barat dan berhenti sejenak untuk menampilkan atraksi barongsai dan liong yang energik. Atraksi ini bukan hanya sekadar tontonan, melainkan bagian integral dari upaya spiritual untuk membersihkan dan melindungi.
Ratusan peserta kemudian melanjutkan perjalanan ke pertigaan Jalan Raya Kuta di depan Pura Desa Adat Kuta. Selama perjalanan, mereka membawa perlengkapan upacara dan menunjukkan kekompakan. Prosesi panjang ini diakhiri dengan kembalinya rombongan ke Vihara Dharmayana Kuta, menandai selesainya ritual tahunan yang penuh khidmat ini.
Harmoni Akulturasi Budaya Tionghoa-Bali
Wujud akulturasi budaya yang kaya terlihat jelas dalam setiap rangkaian ritual tolak bala Imlek Kuta ini. Para peserta parade mengenakan pakaian adat Bali, membawa tedung atau payung khas Bali, dan lelontek atau umbul-umbul yang identik dengan upacara umat Hindu Bali. Kehadiran canang atau sesajen berisi bunga, gebogan buah dan bunga, serta penjor, semakin memperkuat nuansa perpaduan dua budaya yang harmonis.
Adi Dharmaja Kusuma menjelaskan bahwa sarana prasarana umat yang melaksanakan persembahyangan pasti membawa canang sari, serta atribut-atribut lainnya yang biasa ditemukan dalam upacara adat Bali. Ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal telah menyatu dengan ritual Tionghoa, menciptakan sebuah identitas budaya yang unik di Kuta. Akulturasi ini bukan hal baru, melainkan telah berlangsung ribuan tahun.
Keberadaan Vihara Dharmayana Kuta yang berdiri sejak tahun 1700 menjadi bukti sejarah panjang akulturasi ini. Di vihara tersebut, Yang Mulia Toa Kongco Tan Hu Cin Jin dipuja utama, didampingi oleh dua mahapatih Hindu, yaitu Ida Bagus Tiying Kayu dan I Gusti Ngurah Tubu. Penghormatan terhadap mahapatih Bhagawanta dari Bali ini menjadi fondasi kuat bagi keberlangsungan akulturasi budaya yang erat.
Sejarah Panjang dan Daya Tarik Wisatawan
Akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dan Bali di Kuta telah mengakar kuat selama ribuan tahun, jauh sebelum Vihara Dharmayana Kuta didirikan pada tahun 1700. Ini bukan sekadar perpaduan ritual, melainkan cerminan dari interaksi sosial dan spiritual yang mendalam antar komunitas. Tradisi tolak bala yang rutin digelar setiap tahun ini adalah salah satu wujud nyata dari warisan budaya yang terus dilestarikan.
Ritual ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara. Nicola, seorang wisatawan asal Italia, mengungkapkan antusiasmenya menyaksikan pertunjukan ini. Baginya, atraksi barongsai dan liong yang disaksikan di Kuta terasa berbeda dan lebih otentik dibandingkan yang biasa ia lihat di pusat perbelanjaan. Ia membandingkannya dengan pengalaman serupa saat tinggal di Tiongkok dan Hongkong.
Pengalaman Nicola menunjukkan bahwa Ritual Tolak Bala Imlek Kuta menawarkan perspektif yang berbeda dan mendalam tentang budaya Tionghoa, terutama ketika disaksikan di lingkungan tradisional seperti depan pura atau vihara. Keunikan perpaduan budaya ini menjadi daya tarik tersendiri, memperkaya pengalaman wisatawan yang mencari keaslian dan kekayaan tradisi di Bali.
Sumber: AntaraNews