Psikolog UGM Sarankan Pembentukan Ruang Jeda Sekolah untuk Pulihkan Trauma Siswa
Psikolog UGM menekankan pentingnya Ruang Jeda Sekolah sebagai solusi efektif untuk membantu siswa dan guru menenangkan diri serta mengatasi trauma pasca insiden.
Insiden seperti ledakan di SMAN 72 Jakarta menyisakan dampak psikologis mendalam bagi siswa dan guru. Menanggapi hal ini, Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menyarankan pembentukan "Ruang Jeda" di lingkungan sekolah. Inisiatif ini bertujuan menciptakan ruang aman bagi seluruh warga sekolah untuk memulihkan diri dari kecemasan atau trauma yang mungkin dialami.
Konsep "Ruang Jeda" ini mencakup waktu tenang singkat yang dapat dimanfaatkan siswa dan guru sebelum memulai pelajaran, setelah jam istirahat, maupun menjelang pulang sekolah. Aktivitas sederhana seperti meditasi atau diam sejenak diyakini mampu membantu menenangkan pikiran dan menurunkan tingkat kecemasan. Langkah proaktif ini diharapkan dapat mendukung kesehatan mental komunitas sekolah secara keseluruhan.
Secara terpisah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga telah bergerak cepat memberikan dukungan. Mereka menyediakan layanan psikososial awal berbasis Psychological First Aid (PFA) bagi siswa, guru, dan wali murid SMAN 72 Jakarta. Upaya kolaboratif ini menunjukkan komitmen serius dalam penanganan dampak psikologis pasca-insiden.
Pentingnya Ruang Jeda dan Deteksi Trauma pada Siswa
Novi Poespita Candra dari UGM menjelaskan bahwa "Ruang Jeda" adalah momen krusial untuk menenangkan diri. Dalam waktu singkat ini, siswa diajak untuk bermeditasi atau berdiam diri tanpa aktivitas tertentu. Praktik ini sangat efektif untuk membantu individu menurunkan tingkat kecemasan serta memulihkan kondisi mental mereka setelah mengalami peristiwa yang mengganggu.
Lebih lanjut, Novi mengidentifikasi beberapa tanda trauma yang mungkin ditunjukkan oleh anak-anak. Gejala trauma bisa bervariasi, mulai dari ketakutan berlebihan dan penarikan diri dari lingkungan sosial hingga perilaku agresif. Penting bagi guru dan orang tua untuk peka terhadap perubahan ini agar dapat memberikan dukungan yang tepat waktu.
Menariknya, ada juga anak-anak yang justru menunjukkan keceriaan berlebihan sebagai mekanisme pertahanan diri. Keceriaan semacam ini seringkali menjadi topeng untuk menutupi luka batin yang dalam. Oleh karena itu, observasi yang cermat dan pemahaman mendalam tentang perilaku anak sangat diperlukan dalam mendeteksi trauma.
Apabila gejala trauma tidak membaik atau justru semakin parah, Novi menekankan bahwa konsultasi dengan psikolog menjadi langkah yang sangat penting. Penanganan profesional diperlukan untuk memastikan anak mendapatkan bantuan yang sesuai dan mencegah dampak jangka panjang dari trauma tersebut. Ini menunjukkan bahwa peran ahli sangat vital dalam proses pemulihan.
Dukungan Psikososial dan Peran Kolaborasi dalam Pemulihan
Untuk mendukung pemulihan emosional siswa, sekolah disarankan untuk menyediakan berbagai aktivitas Social Emotional Learning (SEL). Kegiatan seperti melukis, mendengarkan musik, journaling, atau dialog kelompok kecil (circle time) dapat membantu siswa mengenali dan menyalurkan emosinya secara sehat. Berinteraksi dengan alam juga menjadi salah satu opsi yang efektif untuk menenangkan pikiran.
Novi juga menyoroti pentingnya kolaborasi erat antara pihak sekolah dan orang tua dalam proses pemulihan. Hasil dari kegiatan SEL yang dilakukan di sekolah dapat didokumentasikan sebagai catatan portofolio perkembangan emosional siswa. Catatan ini kemudian bisa dibahas bersama wali murid, menciptakan pemahaman yang komprehensif tentang kondisi anak.
Pemulihan pascatrauma, menurut Novi, bukan hanya soal aspek akademik semata. Ini tentang memberikan ruang aman bagi anak untuk terkoneksi dengan Tuhan, sesama, dan alam. Dengan demikian, anak-anak dapat tumbuh kembali dengan kepercayaan diri dan empati yang lebih kuat, membangun resiliensi yang penting untuk masa depan mereka.
Di sisi lain, Kemendikdasmen telah memastikan kegiatan belajar mengajar di SMAN 72 Jakarta kembali kondusif melalui metode daring. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa dukungan psikososial awal berbasis PFA diberikan secara profesional. Sebanyak 56 psikolog dari berbagai lembaga, termasuk HIMPSI dan Psikolog Polri, turut mendampingi proses ini. "Layanan psikososial pascabencana bertujuan untuk menghilangkan trauma warga sekolah," kata Suharti.
Sumber: AntaraNews