Profil Komisaris PT Gag Nikel Perusahaan Tambang di Raja Ampat, Ada Pensiunan Jenderal TNI
PT Gag Nikel merupakan anak usaha dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang tetap mendapat izin menambang nikel di Raja Ampat.
Nama PT Gag Nikel menjadi sorotan di tengah ramai kabar tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya. PT Gag Nikel merupakan anak usaha dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang tetap mendapat izin menambang nikel di Raja Ampat.
Nasib PT Gag Nikel berbeda dari empat perusahaan lain yang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di wilayah Raja Ampat, Papua Barat Daya dicabut pemerintah. Empat perusahaan tersebut adalah PT Anugerah Surya Pratama, PT Nurham, PT Mulia Raymond Perkasa, dan PT Kawei Sejahtera Mining.
Izin empat perusahaan menambang nikel di Kawasan Raja Ampat itu dicabut karena terbukti melanggar ketentuan lingkungan serta kawasan geopark. Sementara PT Gag Nikel tetap diizinkan beroperasi di Pulau Gag karena dianggap masih memenuhi kriteria analisa dampak lingkungan.
"Untuk PT GAG, karena itu adalah dia melakukan sebuah proses penambangan yang menurut dari hasil evaluasi tim kami, itu bagus sekali," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia seusai konferensi pers di Kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/6).
Profil PT Gag Nikel
PT Gag Nikel merupakan perusahaan pertambangan nikel yang beroperasi di Raja Ampat. Perusahaan ini adalah anak perusahaan dari PT Antam Tbk, setelah mengakuisisi seluruh saham pada tahun 2008.
Sebagaimana dikutip dari website gagnikel.com, PT. Gag Nikel beralamat di Antam Office Building Tower B, Lantai MZ, Jalan TB. Simatupang Nomor 1 Jakarta Selatan 12530. PT Gag Nikel adalah pemegang Kontrak Karya Generasi VII No. B53 / Pres / I / 1998 tahun 1998 yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 19 Januari 1998.
Awalnya, kepemilikan saham mayoritas PT Gag Nikel dimiliki oleh Asia Pacific Nickel Pty. Ltd. (APN Pty. Ltd) sebesar 75% dan PT. Antam Tbk. sebesar 25%. Namun sejak 2008 PT. Antam Tbk. berhasil mengakuisisi semua saham PT. Asia Pacific Nickel Pty. Ltd, sehingga pada tahun 2008, PT. Gag Nickel sepenuhnya dikendalikan oleh PT. Antam Tbk.
Luas wilayah izin pertambangan PT Gag Nikel mencapai 13.136,00 hektare. Pemegang Kontrak Karya (KK) Generasi VII dengan luas wilayah 13.136 hektar di Pulau Gag ini telah memasuki tahap Operasi Produksi berdasarkan SK Menteri ESDM No. 430.K/30/DJB/2017 yang berlaku hingga 30 November 2047.
Perusahaan ini telah memiliki dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) pada tahun 2014, lalu Adendum AMDAL di tahun 2022, dan Adendum AMDAL Tipe A yang diterbitkan tahun lalu oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sementara itu IPPKH (Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan) dikeluarkan tahun 2015 dan 2018.
Penataan Areal Kerja (PAK) diterbitkan tahun 2020. Hingga 2025, total bukaan tambang mencapai 187,87 Ha, dengan 135,45 Ha telah direklamasi. PT Gag Nikel belum melakukan pembuangan air limbah karena masih menunggu penerbitan Sertifikat Laik Operasi (SLO).
Susunan Direksi dan Komisaris
Malang melintang menggarap tambang, sejumlah pengurus anak perusahaan PT Antam Tbk ternyata bukan orang sembarangan. Berikut susunan profil Dewan Komisaris PT Gag Nikel sebagaimana dikutip merdeka.com dari website gag.nikel.com, Rabu (11/6).
Jabatan Presiden Komisaris PT Gag Nikel ditempati Hermansyah. Berdasarkan laman Kementerian ESDM, Hermansyah memiliki gelar Drs. Hermansyah, M.Si.
Hermansyah pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Perencanaan Strategis di Kementerian ESDM pada tahun 2017. Hermansyah kemudian dimutasi menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Balitbang ESDM.
Sementara jabatan Komisaris ditempati tiga orang. Mereka adalah Lana Saria, yang juga merupakan pejabat eselon II Kementerian ESDM sebagai Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Ditjen Minerba.
Perempuan kelahiran Kota Solo, Jawa Tengah, pada 13 Oktober 1968 ini merupakan alumni SMAN 70 Bulungan, Jakarta. Setelah menempuh pendidikan SMA, Lana melanjutkan pendidikan tinggi ke Universitas Nasional Jakarta dan berhasil meraih gelar Sarjana Biologi. Dia kemudian meraih gelar Magister Ilmu Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI).
Pada 2006, Lana berhasil lulus dari Kyushu University di Jepang dan meraih gelar Doktor di bidang Urban and Environmental Engineering. Lana diketahui bergabung Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) sejak 1998 dan menduduki sejumlah jabatan strategis.
Komisaris lainnya dijabat Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur. Gus Fahrur diketahui merupakan lulusan S1 Universitas Islam Raden Ahmat tahun 2000. Lalu pada 2004, dia lulus dari Universitas Islam Malang dan meraih gelar S2. Sementara gelar S3 diraihnya dari Universitas Merdeka Malang.
Gus Fahrur tercatat sebagai pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang, Malang, Jawa Timur ini merupakan Ketua Tanfidziah PBNU bidang Keagamaan periode 2022-2027.
Pria kelahiran Malang ini juga tercatat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat 2020-2025 dan Ketua Yayasan Al-Qolam Malang.
Komisaris terakhir dipegang Saptono Adji. Dia merupakan pensiunan TNI berpangkat brigadir jenderal. Lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1987 cabang Artileri menduduki sejumlah jabatan selama berkarier di TNI.
Setelah pensiun dari TNI, Saptono sempat dipercaya menjadi Staf Khusus Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Dia juga mantan asisten khusus Wamenhan bidang Hubungan Internasional.
Sedangkan Plt. Presiden Direktur (Direktur Operasi) dijabat Arya Arditya Kurnia dan Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Sumber Daya Manusia, Aji Priyo Anggoro.