Prioritas Ikan di Program MBG Kepri Dorong Kesejahteraan Nelayan dan Perekonomian Lokal
HINSI Kepri menyambut baik kebijakan Gubernur Ansar Ahmad memprioritaskan ikan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha perikanan lokal.
Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HINSI) Kepulauan Riau (Kepri) menyambut positif kebijakan Gubernur Ansar Ahmad. Kebijakan ini memprioritaskan lauk ikan dalam hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut. Langkah ini diharapkan dapat signifikan mendorong peningkatan kesejahteraan para nelayan lokal.
Ketua HNSI Kepri, Eko Prihananto, menyatakan bahwa inisiatif ini sangat membantu. Peningkatan konsumsi ikan melalui MBG akan secara langsung meningkatkan pendapatan bagi para nelayan. Prioritas ini juga sejalan dengan kondisi geografis Kepri yang didominasi perairan.
Provinsi Kepri memiliki potensi perikanan yang sangat besar dengan 96 persen wilayahnya adalah perairan. Kebijakan ini tidak hanya menguntungkan nelayan, tetapi juga pelaku usaha pengolahan produk perikanan. Ini termasuk mereka yang memproduksi filet ikan serta berbagai olahan seperti nuget.
Dampak Positif Prioritas Ikan bagi Nelayan dan Pelaku Usaha
Prioritas lauk ikan dalam Program MBG di Kepri disambut antusias oleh HINSI Kepri. Kebijakan ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang substansial bagi masyarakat pesisir. Ketersediaan pasar yang stabil untuk hasil tangkapan ikan menjadi jaminan bagi nelayan.
Eko Prihananto, Ketua HNSI Kepri, menegaskan bahwa kebijakan ini sangat membantu. "Kalau makan ikan sudah didorong di MBG sangat membantu ya. Artinya bisa meningkatkan pendapatan nelayan juga," ujarnya. Ini menunjukkan optimisme terhadap peningkatan kesejahteraan.
Selain nelayan, pelaku usaha yang bergerak di bidang pengolahan hasil perikanan juga akan merasakan manfaatnya. Mereka yang memproses ikan menjadi produk seperti filet atau nuget akan mendapatkan pasokan bahan baku yang terjamin. "Manfaatnya terutama ini ke pelaku usaha di kegiatan proses perikanan," tambah Eko.
Kebijakan ini secara tidak langsung menciptakan rantai nilai ekonomi yang lebih kuat. Mulai dari penangkapan ikan hingga produk olahan siap saji, semua sektor akan terstimulasi. Hal ini memperkuat ekosistem perikanan lokal di Kepulauan Riau.
Kekayaan Sumber Daya Ikan dan Manfaat Gizi di Kepri
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, menekankan alasan di balik kebijakan prioritas ikan ini. Provinsi Kepri diberkahi dengan Sumber Daya Alam (SDA) ikan yang melimpah ruah. Produksi perikanan di wilayah ini bahkan mencapai angka fantastis 330 ribu ton per tahun.
Ketersediaan ikan yang mudah didapatkan menjadikan alternatif utama untuk menu MBG. "Produk-produk ikan di Kepri sangat mudah didapatkan, sehingga bisa menjadi alternatif utama untuk menu MBG selain ayam dan telur," kata Ansar. Ini menunjukkan potensi besar yang belum sepenuhnya termanfaatkan.
Lebih dari sekadar ketersediaan, ikan juga dikenal kaya akan protein tinggi. Kandungan gizi ini sangat vital bagi penerima manfaat MBG, mulai dari anak-anak hingga ibu hamil dan menyusui. Konsumsi ikan secara teratur mendukung tumbuh kembang optimal.
Berbagai manfaat kesehatan dari ikan meliputi dukungan tumbuh kembang anak dan perkembangan otak pada usia dini. Ikan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik, termasuk kekuatan tulang dan gigi. "Juga membantu mencegah stunting serta anemia," tegas Gubernur Ansar Ahmad.
Implementasi dan Jangkauan Program MBG di Kepri
Untuk memastikan kelancaran implementasi, Gubernur Kepri telah menginstruksikan dinas-dinas terkait. Mereka diminta untuk berkoordinasi erat dengan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada. Koordinasi ini penting demi keberhasilan program.
Kebijakan ini juga memiliki tujuan strategis lain yang lebih luas. Program MBG diharapkan mampu menyerap produk-produk lokal secara maksimal. Hal ini akan memberikan dampak positif signifikan pada perekonomian masyarakat, terutama para nelayan.
Berdasarkan catatan SPPG Regional Kepri, program ini telah menjangkau banyak penerima manfaat. Hingga Oktober 2025, sebanyak 131 dapur SPPG telah terbentuk di seluruh kabupaten/kota. Dapur-dapur ini melayani total 388.523 penerima manfaat.
Sebaran dapur SPPG ini cukup merata di seluruh wilayah Kepri. Kota Batam memiliki 85 dapur, Karimun 21, Tanjungpinang sembilan, Bintan delapan, Natuna lima, Anambas dua, dan Lingga satu dapur. Jangkauan luas ini memastikan distribusi gizi yang merata.
Sumber: AntaraNews