Petugas Gabungan Bersihkan Material Longsor Lombok Timur, Akses Wisata Kembali Dibuka
Akses jalan menuju tempat wisata di Lombok Timur sempat terganggu akibat longsor Lombok Timur yang menimbun badan jalan. Petugas gabungan dan warga bergotong royong membersihkan material, memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Petugas gabungan TNI-Polri dan masyarakat bahu-membahu membersihkan material longsor di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bencana ini menutup akses lalu lintas vital menuju sejumlah destinasi wisata populer di wilayah tersebut. Kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun mengganggu mobilitas warga dan wisatawan.
Longsor terjadi di jalur wisata Pusuk Sembalun dan area wisata Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur. Tumpukan tanah dan bebatuan menimbun badan jalan setelah hujan lebat disertai angin kencang melanda wilayah itu. Peristiwa ini terjadi pada pekan ini, dengan upaya pembersihan yang intensif dilakukan pada Jumat (16/1).
Intensitas hujan tinggi selama empat hari berturut-turut di Kecamatan Sembalun menjadi pemicu utama longsor. Kondisi tanah yang labil turut memperparah keadaan, menyebabkan lumpuhnya sebagian akses transportasi. Petugas bersama masyarakat berupaya keras membuka kembali jalur dengan peralatan seadanya.
Dampak Longsor dan Upaya Penanganan
Hujan lebat disertai angin kencang menyebabkan tanah longsor di jalur wisata Pusuk Sembalun. Material longsor berupa tumpukan tanah dan batu menimbun badan jalan, menghambat perjalanan. Selain itu, longsor juga terjadi di tempat wisata Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, memperparah gangguan akses.
Kasi Humas Polres Lombok Timur AKP Nicolas Osman memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, ia mengakui bahwa kejadian ini sangat mengganggu arus lalu lintas, terutama bagi wisatawan. Petugas gabungan dari Polri, TNI, dan masyarakat segera turun tangan untuk membersihkan material longsor.
Upaya pembersihan dilakukan secara gotong royong menggunakan alat seadanya, menunjukkan semangat kebersamaan masyarakat. Meskipun demikian, proses pembersihan memakan waktu dan menyebabkan antrean kendaraan. Khususnya kendaraan roda empat harus menunggu lebih lama untuk dapat melintas kembali.
Kesaksian Warga dan Peringatan BMKG
Seorang pengendara bernama Nur Abdul Aziz yang hendak menuju Sembalun menceritakan pengalamannya. Ia terjebak longsor di Pusuk Sembalun dan harus menunggu petugas mengevakuasi tanah yang menutupi jalan. Aziz menyebutkan bahwa pengendara roda dua bisa melintas lebih cepat, tetapi roda empat harus menunggu lebih lama.
Warga setempat, Burhan, juga mengonfirmasi longsor di Desa Kembang Kuning akibat hujan deras berdurasi lama. Ia bersyukur tidak ada korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat bencana ini. Warga bersama-sama bergotong royong membersihkan sisa material longsor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan imbauan kepada warga NTB. BMKG meminta masyarakat mewaspadai periode puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Dasarian II Januari 2026. Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nindya Kirana menegaskan bahwa wilayah NTB telah memasuki musim hujan.
Meskipun sempat ada penurunan curah hujan pada Dasarian I Januari 2026, BMKG tetap mengingatkan potensi curah hujan tinggi. Penurunan ini dikenal sebagai periode jeda monsun, yang lumrah terjadi di Asia Tenggara saat periode musim hujan. Masyarakat diimbau untuk memperhatikan kebersihan aliran air dan mewaspadai potensi hujan ekstrem serta angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
Sumber: AntaraNews