Jalan Wisata Pusuk Sembalun Rinjani Diterjang Tanah Longsor, Akses Terhambat
Bencana tanah longsor melanda jalan wisata menuju Pusuk Sembalun di Lombok Timur, NTB, menghambat akses dan memerlukan penanganan segera. Waspadai potensi cuaca ekstrem di kawasan Tanah Longsor Pusuk Sembalun.
Jalan wisata menuju Pusuk Sembalun, yang terletak di bawah kaki Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, diterjang bencana tanah longsor pada Minggu siang. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 13.00 Wita setelah wilayah tersebut diguyur hujan lebat. Tanah longsor ini secara signifikan mengganggu akses jalan bagi wisatawan maupun warga setempat.
Material longsor dengan ketebalan mencapai 0,5 hingga 1,5 meter menutupi badan jalan sepanjang 10 meter. Akibatnya, jalur vital ini tidak dapat dilalui, memutus sementara konektivitas ke salah satu destinasi wisata populer di Lombok. Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur di daerah pegunungan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Tim gabungan dari BPBD Lombok Timur, TNI/Polri, serta aparat kecamatan dan desa setempat telah diterjunkan ke lokasi kejadian. Mereka berupaya melakukan penanganan awal, namun Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, menegaskan kebutuhan mendesak akan alat berat untuk membersihkan material longsor. Penanganan cepat sangat diperlukan untuk memulihkan akses jalan.
Dampak Longsor dan Upaya Penanganan di Pusuk Sembalun
Bencana tanah longsor di Pusuk Sembalun Rinjani ini menyebabkan terputusnya akses jalan utama. Material berupa tanah dan bebatuan menimbun ruas jalan, membuat kendaraan tidak bisa melintas. Kondisi ini tentu berdampak pada aktivitas ekonomi dan pariwisata di sekitar kawasan tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, menjelaskan bahwa “Matrial longsor dengan ketebalan 0,5 - 1,5 meter menutupi badan jalan sepanjang 10 meter”. Tim di lapangan menghadapi tantangan dalam membersihkan material tanpa bantuan alat berat. Koordinasi antarinstansi terus dilakukan untuk mempercepat proses evakuasi.
Saat ini, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Lombok Timur, TNI/Polri, dan pemerintah daerah setempat telah berada di lokasi. Mereka melakukan asesmen awal dan berupaya mengidentifikasi langkah-langkah penanganan. Fokus utama adalah memastikan keselamatan warga dan membuka kembali akses jalan secepatnya.
Kebutuhan mendesak yang diungkapkan oleh BPBD NTB adalah alat berat. “Kebutuhan mendesak saat ini alat berat untuk pembersihan material yang menutupi jalan,” terang Sadimin. Alat berat sangat krusial untuk membersihkan timbunan material longsor yang cukup tebal dan luas. Tanpa alat berat, proses pembersihan akan memakan waktu lebih lama dan menghambat pemulihan akses jalan di Pusuk Sembalun.
Peringatan Dini Bencana Hidrometeorologi di NTB
Bencana tanah longsor di Pusuk Sembalun menjadi pengingat akan potensi cuaca ekstrem di Nusa Tenggara Barat. Wilayah NTB saat ini telah memasuki periode musim hujan, bahkan sebagian daerah sedang berada pada puncaknya. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi.
BPBD NTB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kejadian cuaca ekstrem. Angin kencang, banjir, dan tanah longsor adalah beberapa bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Penting bagi warga untuk selalu memantau informasi cuaca dari sumber resmi.
Adanya potensi hujan dengan intensitas tinggi pada dasarian I Februari 2026 semakin memperkuat peringatan ini. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor atau banjir diimbau untuk mengambil langkah mitigasi. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.
“Saat ini wilayah NTB sudah memasuki periode musim hujan dan sebagian sedang memasuki periode puncaknya. Adanya potensi hujan dengan intensitas tinggi di dasarian I Februari 2026, masyarakat harus mewaspadai potensi kejadian cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologis,” kata Sadimin. Pemerintah daerah melalui BPBD terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menyosialisasikan potensi bencana. Edukasi mengenai jalur evakuasi dan tindakan darurat juga menjadi prioritas. Kewaspadaan kolektif sangat dibutuhkan menghadapi ancaman cuaca ekstrem di seluruh wilayah NTB.
Sumber: AntaraNews