Perkuat Sinergi di Era Digital, EMTEK Gandeng Content Creator Hadapi Disrupsi Media
Meski demikian, ia menilai tantangan tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi dan kerja sama antarpelaku industri.
Direktur PT SCM Tbk, David Setiawan Suwarto, mengakui bahwa dunia media saat ini tengah menghadapi disrupsi besar akibat pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya platform media sosial. Meski demikian, ia menilai tantangan tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi dan kerja sama antarpelaku industri.
"Kalau di EMTEK sebetulnya kita sangat merangkul, jadi banyak sekali content creator yang juga menjadi bagian dari ekosistemnya kita," kata David saat hadir sebagai pembicara dalam acara National University Singapore (NUS) Innovation Forum di Pullman Hotel Jakarta, Jumat (24/10) malam.
David menyebut sejumlah nama pesohor di industri film Tanah Air yang menjadi rekanan, mulai dari Joko Anwar hingga Monti Tiwa. Selain itu ada ada juga kelompok konten kreator yang juga sudah bergabung ke dalam ekosistem EMTEK media.
"Kalau content creator sendiri tergabung dalam beberapa anak perusahaan Emtek media yaitu ada Famous All Star, ada Super Fantasy, ada RANS, ada Cinemart juga dengan talent managementnya. Jadi talent-talent yang terkelola di dalam tentunya kita mencari jalan dan kita terus untuk bisa lebih baik lagi," ungkap David.
David memastikan, kolaborasi terjalin secara simbiosis mutalisme. Artinya, baik pihaknya dan mereka sama-sama diuntungkan. Contohnya, mereka yang awalnya hanya bisa bernyanyi atau berakting kini juga bisa menjadi creator content atau pun sebaliknya dari content creator menjadi penyanyi atau pun aktor.
"Jadi kita coba dukung mereka dengan kreativitas orang-orang kreatif yang kita punya, kita juga dukung dengan peralatan, crew, capital, investasi, untuk bisa membantu content-content creator ini sukses. Karena kalau mereka sukses, kita ikutan sukses juga!," seru dia.
David meyakini, kolaborasi adalah kunci keberlangsungan eksistensi media saat ini. Berbeda saat dahulu dimana hanya ada penguasa tunggal dari industri media yang bisa dihitung jari. Hari ini, semua orang bisa menjadi media itu sendiri.
"Jadi misalnya dulu simpelnya kalau kita mau buat sebuah program buat TV, ya kita kumpulkan orang-orangnya, krunya, orang di depan layarnya, lalu kita negosiasi harga dan kita membuat barang tersebut. Tapi sekarang kita melihat kalau di sosial media itu youtuber-youtuber ataupun tiktoker-tiktoker suka collab dan ya produknya menjadi milik bersama. Nanti muncul di account-nya masing-masing, misalnya main tenis bareng yuk, disiarin dan hasilnya bareng nanti kita bagi-bagi. Jadi kira-kira seperti itu perbanyak kolaborasi," ujarnya.
Sebagai informasi, NUS Innovation Forum 2025 di Jakarta mengangkat tema AI, Innovation and Economic Growth. Pada sesi pertama, forum menhadirkan diskusi panel dengan sejumlah perwakilan guru besar dari kampus ternama di Indonesia, mulai dari UI, ITB dan UGM.
Kemudian pada sesi kedua, David duduk sebagai narasumber bersama sejumlah narasumber lain yaitu Adi Reza Nugroho selaku Co Founder & CEO MYCL, Pang Xue Kai selaku Co-Founder, ForuAl: CEO, ICEx yang mengangkat topik terkait Building Impactful Start-ups in An Uncertain World in the Age of Al.
Forum ini sekaligus menjadi wadah berkumpulnya NUS di Jakarta. David sendiri adalah lulusan NUS angkatan 2009 dalam program studi bisnis.