Peran Vital Guru: Bakorwil Malang Dorong Literasi Digital dan Etika Medsos Pelajar
Bakorwil Malang mendorong peran guru dalam membangun literasi digital dan etika bermedia sosial bagi pelajar, menekankan pentingnya teladan dan pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab untuk membentuk generasi berintegritas.
Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, mengajak para guru untuk mengambil peran strategis dalam membangun literasi digital dan etika pemanfaatan media sosial di kalangan pelajar. Pesan ini disampaikan saat kegiatan di Kota Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (04/7).
Inisiatif ini bertujuan untuk membentuk generasi muda yang cerdas, berintegritas, bijaksana, serta berakhlak mulia di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Peran literasi digital guru sangat krusial dalam membimbing pelajar.
Penanaman nilai-nilai ini sangat krusial untuk meningkatkan kesadaran pelajar, sehingga mereka tidak mudah terpapar hoaks dan terhindar dari perilaku ujaran kebencian yang dapat memicu perpecahan di masyarakat. Guru diharapkan menjadi teladan digital.
Peran Strategis Guru dalam Literasi Digital
Asep Kusdinar menegaskan bahwa literasi digital guru memiliki peran sentral dalam membentuk karakter pelajar di era digital ini. Guru harus memberikan teladan nyata dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, bukan hanya sebagai pengajar ilmu pengetahuan semata.
Literasi digital dan etika bermedia sosial menjadi fondasi penting untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan kebijaksanaan. Hal ini akan membentengi pelajar dari dampak negatif internet.
Dengan bimbingan yang tepat dari guru, pelajar diharapkan mampu membedakan informasi yang benar dari hoaks serta menghindari penyebaran ujaran kebencian. Media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk edukasi, inspirasi, dan mempererat persaudaraan antar masyarakat.
Media Sosial sebagai Wajah Institusi Pendidikan
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi representasi utama dari sebuah sekolah di mata publik. Setiap informasi yang diunggah melalui platform digital akan membentuk persepsi masyarakat terhadap institusi pendidikan tersebut.
Oleh karena itu, pemanfaatan media sosial oleh sekolah tidak boleh hanya berfokus pada peningkatan popularitas semata. Lebih dari itu, media sosial harus menjadi sarana untuk membangun kepercayaan publik secara jujur dan konsisten, didukung oleh literasi digital guru yang memadai.
Sekolah dituntut untuk mengedepankan penggunaan bahasa yang sopan dan santun dalam setiap komunikasinya. Asep optimistis bahwa ketika sekolah mampu menyampaikan informasi yang positif dan bermanfaat, kepercayaan masyarakat akan tumbuh secara alami.
Institusi pendidikan harus mampu mengelola komunikasi publik secara profesional melalui berbagai platform digital. Ini termasuk memastikan bahwa konten yang dibagikan relevan, akurat, dan mencerminkan nilai-nilai positif sekolah.
Pentingnya Adab dan Etika di Era Digital
Asep Kusdinar menekankan bahwa meskipun teknologi berkembang sangat pesat, adab dan etika dalam berkomunikasi tidak boleh tertinggal. Nilai-nilai kesopanan harus tetap dijunjung tinggi, baik saat membuat konten maupun ketika memberikan komentar di media sosial, sebuah aspek penting dari literasi digital guru.
Pentingnya etika ini berlaku untuk semua pihak, termasuk guru, pelajar, dan staf sekolah, dalam setiap interaksi daring. Hal ini sejalan dengan upaya membangun lingkungan digital yang sehat dan positif bagi seluruh komunitas pendidikan.
Bakorwil Malang berharap adanya sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, media massa, dan dunia pendidikan. Sinergi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kehumasan sekolah dan memperluas penyebarluasan informasi publik yang positif.
Ketika komunikasi publik berjalan dengan baik dan etika digital ditegakkan, kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan juga akan semakin meningkat. Ini akan menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih kuat dan bertanggung jawab.
Sumber: AntaraNews