Pulau Penyengat: Tonggak Identitas Budaya Melayu dan Fondasi Bahasa Indonesia

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyatakan Pulau Penyengat adalah pusat peradaban Melayu yang krusial. Pulau ini memperkuat identitas budaya Melayu dan fondasi lahirnya Bahasa Indonesia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pulau Penyengat: Tonggak Identitas Budaya Melayu dan Fondasi Bahasa Indonesia
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyatakan Pulau Penyengat adalah pusat peradaban Melayu yang krusial. Pulau ini memperkuat identitas budaya Melayu dan fondasi lahirnya Bahasa Indonesia. (AntaraNews)

Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad baru-baru ini menyoroti peran krusial Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang. Pulau kecil ini, menurutnya, adalah tonggak penting dalam memperkuat identitas budaya Melayu yang kaya. Lebih dari itu, Pulau Penyengat juga menjadi fondasi historis bagi lahirnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa.

Pernyataan ini disampaikan oleh Gubernur Ansar saat menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV. Acara tersebut mengangkat topik "Pulau Penyengat Perkuat Identitas Budaya Melayu" dan disiarkan pada hari Sabtu.

Dalam kesempatan tersebut, Ansar Ahmad menjelaskan bahwa Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah biasa. Kawasan ini menyimpan jejak peradaban Melayu yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Jejak Sejarah dan Peradaban Melayu di Pulau Penyengat

Pulau Penyengat memiliki sejarah panjang sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Wilayah kekuasaannya kala itu sangat luas, mencakup Riau, Lingga, Johor, Pahang, hingga Singapura. Dari pulau inilah lahir banyak pemikiran besar yang membentuk fondasi kebudayaan Melayu.

Nama "Pulau Penyengat" sendiri berasal dari cerita rakyat yang menarik. Dahulu, pulau ini menjadi tempat singgah para nelayan dan pelaut untuk mengambil air bersih. Namun, mereka sering diserang kawanan lebah atau serangga yang menyengat, sehingga pulau ini dikenal dengan nama tersebut. Selain itu, Pulau Penyengat juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin, karena dipercaya merupakan mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud Syah III kepada permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah. Sejak saat itu, Pulau Penyengat menjadi pusat penting Kesultanan Riau-Lingga.

Hingga kini, terdapat sedikitnya 46 situs cagar budaya di Pulau Penyengat yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Melayu. Salah satu peninggalan paling ikonik adalah Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat, yang dibangun dengan campuran unik pasir, kapur, dan putih telur sebagai perekat. Bangunan bersejarah ini tetap kokoh berdiri, membuktikan kecerdasan arsitektur masyarakat Melayu pada masanya.

Pulau Penyengat: Fondasi Penting Bahasa Indonesia

Pulau Penyengat tidak hanya kaya akan sejarah kesultanan, tetapi juga memegang peran vital dalam perkembangan Bahasa Indonesia. Pulau ini bahkan dikenal sebagai "Pulau Penyair" karena tradisi literasi yang tumbuh sangat kuat di kalangan masyarakatnya sejak abad ke-19.

Tradisi menulis berkembang pesat di Pulau Penyengat, bahkan sudah berdiri percetakan sejak tahun 1886. Para bangsawan, ulama, hingga kaum perempuan aktif menulis dan menghasilkan ratusan manuskrip yang kini menjadi warisan intelektual bangsa.

Tokoh terbesar dari Pulau Penyengat yang memberikan kontribusi tak ternilai adalah Raja Ali Haji, yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Melalui karya monumentalnya seperti Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa—yang menjadi kamus bahasa Melayu modern pertama—serta Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan bahasa Melayu.

Gubernur Ansar Ahmad menegaskan bahwa Bahasa Melayu yang berkembang di Kepri inilah yang kemudian dipilih sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pemilihan ini didasarkan pada sifatnya yang terbuka, mudah dipelajari, dan telah digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah sejak ratusan tahun lalu.

Komitmen Pelestarian dan Monumen Bahasa Nasional

Sebagai bentuk komitmen untuk melestarikan sejarah dan warisan budaya ini, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau saat ini tengah membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat. Proyek monumental ini akan berdiri di atas lahan seluas sekitar dua hektare.

Monumen Bahasa Nasional ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran yang representatif mengenai sejarah perkembangan Bahasa Indonesia. Selain itu, pembangunan monumen ini juga bertujuan untuk semakin memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya bertaraf nasional.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi