Penyintas Bencana Pidie Jaya Harapkan Relokasi Hunian Layak Segera
Tiga bulan di pengungsian, penyintas bencana hidrometeorologi di Pidie Jaya menanti relokasi hunian Pidie Jaya yang lebih layak, berharap dapat menempati huntara sebelum Idul Fitri.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada akhir November 2025 lalu menyisakan duka mendalam bagi ratusan warga. Hingga kini, para penyintas masih bertahan di barak dan tenda pengungsian, menanti kepastian relokasi ke hunian yang lebih layak. Harapan besar tersemat agar pemerintah daerah segera merealisasikan janji hunian sementara atau tetap, mengingat kondisi darurat yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Salah satu penyintas, Rizwan, mengungkapkan bahwa rumahnya di Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, rusak berat dan masih tertimbun lumpur setinggi tiga meter akibat luapan Krueng Meureudu. Kondisi ini membuat ia dan keluarganya tidak dapat kembali ke rumah, memaksa mereka tinggal di barak pengungsian yang dibangun di samping masjid bersama ratusan penyintas lainnya. Mereka sangat mendambakan hunian yang aman dan nyaman untuk melanjutkan hidup.
Saat ini, pengungsian terpusat di halaman Masjid Gampong Meunasah Raya, di mana tenda-tenda dan barak sederhana menjadi tempat bernaung sementara. Total sekitar 500 jiwa warga Gampong Meunasah Raya masih mengungsi, baik di lokasi tersebut maupun menumpang di rumah kerabat, karena rumah mereka belum bisa dihuni dan fasilitas dasar seperti air bersih serta listrik belum tersedia di tiga dusun terdampak.
Tiga Bulan di Pengungsian, Menanti Kepastian Relokasi Hunian Pidie Jaya
Rizwan, seorang penyintas bencana hidrometeorologi di Pidie Jaya, mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya telah genap tiga bulan tinggal di pengungsian. "Saya berharap segera direlokasi ke hunian lebih layak, apakah itu hunian sementara maupun hunian tetap," katanya, Sabtu. Kehidupan di barak dan tenda pengungsian tentu jauh dari kata ideal, memicu kerinduan akan tempat tinggal yang permanen dan aman.
Harapan besar kini tertuju pada penyelesaian hunian sementara (huntara) yang sebagian sudah rampung. Para pengungsi berharap dapat segera dipindahkan ke huntara tersebut, bahkan sebelum perayaan hari raya Idul Fitri. Penempatan hunian ini masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah daerah, yang diharapkan dapat segera dikeluarkan untuk meringankan beban para penyintas.
Meskipun beberapa unit hunian sementara sudah selesai dibangun tidak jauh dari masjid, proses penempatan masih terhambat oleh birokrasi. Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi warga yang telah kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian. Kebutuhan akan hunian yang layak menjadi prioritas utama bagi mereka yang terdampak bencana.
Progres Pembangunan Huntara dan Tantangan Pemulihan
Keuchik (kepala desa) Meunasah Raya, Abdul Halim Ishak, menjelaskan bahwa di desanya telah dibangun sebanyak 95 unit hunian sementara. Progres pembangunan rata-rata telah mencapai 75 persen, menunjukkan upaya signifikan dalam penyediaan tempat tinggal bagi para penyintas.
Jumlah warga yang mengungsi di Gampong Meunasah Raya mencapai sekitar 500 jiwa, menunjukkan skala dampak bencana yang cukup besar. Penyelesaian huntara menjadi krusial agar mereka dapat segera memiliki tempat tinggal yang lebih baik.
Selain mengungsi di tenda dan barak, banyak warga juga terpaksa menumpang di rumah saudara atau kerabat. Rumah-rumah mereka masih belum dapat ditempati karena rusak berat dan tertimbun lumpur. Lebih lanjut, fasilitas vital seperti air bersih dan listrik juga belum tersedia di tiga dusun yang paling parah terdampak, menambah kompleksitas tantangan pemulihan di Pidie Jaya.
Sumber: AntaraNews