43 Keluarga Korban Bencana Gampong Geunteng Pidie Jaya Masuk Hunian Sementara
Sebanyak 43 keluarga korban bencana hidrometeorologi di Gampong Geunteng, Pidie Jaya, kini telah menempati hunian sementara (huntara). Simak detail kondisi dan kebutuhan mendesak di Hunian Sementara Pidie Jaya.
Pemerintah Gampong Geunteng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, mengumumkan bahwa 43 keluarga korban bencana dari desa tersebut kini telah menempati hunian sementara (huntara). Langkah ini diambil menyusul bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2025 lalu. Keuchik Gampong Geunteng, Usman, memastikan bahwa tidak ada lagi warganya yang mengungsi di tenda-tenda darurat.
Usman menjelaskan, bencana hidrometeorologi tersebut berdampak pada 208 keluarga di Gampong Geunteng. Dari jumlah tersebut, sebanyak 91 keluarga mengalami kerusakan rumah yang parah dan sempat harus mengungsi. Penempatan di huntara merupakan upaya pemerintah gampong untuk memberikan tempat tinggal yang lebih layak bagi para penyintas.
Meskipun demikian, ada beberapa kebutuhan mendesak yang masih diharapkan dapat segera terpenuhi di fasilitas huntara. Hal ini mencakup instalasi air yang belum tersambung ke semua unit serta ketersediaan kipas angin dan kasur tambahan. Pemerintah Gampong terus berupaya memastikan kenyamanan dan kelayakan hunian bagi para korban bencana.
Distribusi Korban Terdampak dan Pilihan Hunian
Usman, Keuchik Gampong Geunteng, merinci bahwa total korban terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 di Gampong Geunteng mencapai 208 keluarga. Dari jumlah tersebut, 91 keluarga mengalami kerusakan rumah yang sangat berat dan sempat mengungsi. Kondisi ini memaksa mereka mencari tempat perlindungan sementara.
Dari 91 keluarga yang rumahnya rusak berat, sebanyak 43 keluarga memilih untuk menempati hunian sementara yang telah disediakan. Pilihan ini memberikan mereka tempat tinggal yang lebih terstruktur dibandingkan tenda pengungsian. Sementara itu, 48 keluarga lainnya memilih untuk menerima dana tunggu hunian sebesar Rp1,6 juta per tiga bulan. Dana ini diharapkan dapat membantu mereka selama proses pemulihan.
Puluhan keluarga yang menempati hunian sementara tersebut tersebar di tiga lokasi berbeda. Satu titik hunian sementara berada di kompleks terminal, sedangkan dua titik lainnya berlokasi di area huntara Gampong Geunteng. Penempatan di beberapa lokasi ini bertujuan untuk mengakomodasi jumlah korban yang cukup banyak. Distribusi ini juga mempertimbangkan aksesibilitas dan ketersediaan lahan yang memadai.
Tantangan dan Kebutuhan di Hunian Sementara
Meskipun telah menempati hunian sementara, beberapa fasilitas dasar masih menjadi perhatian utama bagi warga Gampong Geunteng. Usman mengungkapkan bahwa beberapa unit hunian belum mendapatkan kipas angin, yang penting untuk kenyamanan di iklim tropis Aceh. Selain itu, instalasi air bersih juga belum tersambung ke semua unit hunian, menciptakan kendala dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Usman menekankan pentingnya penyelesaian masalah instalasi air ini sesegera mungkin. Air merupakan kebutuhan pokok yang harus selalu tersedia bagi setiap keluarga. Pihak gampong berharap agar masalah ini dapat segera diatasi untuk memastikan kelayakan hidup para penyintas bencana di huntara. Ketersediaan air bersih yang memadai sangat krusial untuk kesehatan dan kebersihan.
Selain masalah air dan kipas angin, beberapa keluarga penyintas juga mengharapkan bantuan kasur tambahan. Kebutuhan ini muncul karena ada keluarga yang memiliki anak-anak, namun tidak memiliki jumlah kasur yang mencukupi. Usman menjelaskan bahwa tidak semua unit hunian membutuhkan kasur tambahan, hanya beberapa saja yang memiliki kebutuhan spesifik ini. Ia berharap kebutuhan-kebutuhan yang masih kurang ini dapat segera dipenuhi oleh pihak terkait.
Latar Belakang Bencana Hidrometeorologi Pidie Jaya
Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Pidie Jaya terjadi pada akhir November 2025. Peristiwa ini dipicu oleh hujan lebat yang berlangsung selama berhari-hari tanpa henti. Curah hujan yang tinggi menyebabkan meluapnya Krueng (sungai) Meureudu secara drastis. Luapan sungai ini menjadi penyebab utama terjadinya bencana.
Luapan Krueng Meureudu tidak hanya menyebabkan banjir biasa, tetapi juga menimbulkan banjir bandang yang membawa material berat. Material tersebut berupa kayu gelondongan dan lumpur tebal yang ikut terseret arus deras. Banjir bandang ini memiliki daya rusak yang sangat besar terhadap lingkungan dan pemukiman warga.
Akibat banjir bandang tersebut, pemukiman penduduk dan fasilitas publik di Gampong Geunteng tertimbun lumpur. Ketinggian timbunan lumpur bahkan mencapai hingga dua meter di beberapa lokasi. Kondisi ini menyebabkan kerusakan parah pada rumah-rumah warga dan infrastruktur umum, memaksa ratusan keluarga untuk mengungsi dan mencari perlindungan. Bencana ini meninggalkan dampak signifikan bagi masyarakat setempat.
Sumber: AntaraNews