Penyintas Banjir Perkuat Kekeluargaan Lewat Tradisi Meugang Aceh Timur Jelang Lebaran
Warga penyintas banjir di Desa Sijudo, Aceh Timur, merayakan Tradisi Meugang menjelang Idul Fitri 1447 H. Kegiatan ini menjadi momen penting untuk mempererat tali persaudaraan dan gotong royong di tengah upaya pemulihan pascabencana.
Warga penyintas bencana banjir di Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, kembali menghidupkan Tradisi Meugang. Kegiatan ini dilakukan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah sebagai bentuk memperkuat rasa kekeluargaan antarwarga. Mereka bergotong royong memasak daging untuk dinikmati bersama.
Tradisi Meugang ini menjadi simbol kebersamaan yang telah diwariskan turun-temurun di tengah masyarakat Aceh. Kepala Dusun Rantau Panjang Rubek Jahidin menyatakan bahwa semua warga saling bahu-membahu dalam prosesi ini. Mulai dari menyembelih hewan, memasak, hingga makan bersama, semua dilakukan dengan penuh kekompakan.
Pelaksanaan Meugang ini bukan sekadar ritual makan daging, melainkan juga wadah untuk menjaga silaturahmi. Terlebih bagi warga yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana banjir. Momen ini diharapkan dapat menjadi pendorong semangat kebersamaan untuk menghadapi tantangan ke depan.
Semangat Gotong Royong dalam Tradisi Meugang Aceh Timur
Rubek Jahidin menjelaskan bahwa warga setempat tetap menjaga dan menjalankan Tradisi Meugang dengan penuh kebersamaan. Dalam Meugang kecil menjelang Lebaran, para laki-laki memiliki peran sentral. Mereka bertugas menyembelih dan memotong daging sapi secara gotong royong.
Proses ini mencerminkan nilai kekompakan dan solidaritas yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Setelah penyembelihan selesai, daging sapi kemudian dibagikan secara merata. Sebanyak 46 kepala keluarga yang tinggal di dusun tersebut menerima bagian daging.
Sebagian daging lainnya tidak dibagikan, melainkan diolah dan dimasak. Hidangan tersebut kemudian dinikmati secara bersama-sama dalam suasana kekeluargaan. Sementara itu, para perempuan juga mengambil peran penting dalam kegiatan ini.
Mereka bertugas menyiapkan berbagai bumbu dan bahan masakan yang diperlukan. Setelah daging dimasak dengan aneka rempah khas, hidangan lezat tersebut disajikan. Kemudian disantap bersama nasi, menambah kehangatan suasana kebersamaan.
Meugang sebagai Perekat Persaudaraan di Tengah Pemulihan Pasca-Bencana
Jahidin menyoroti bahwa meskipun warga masih berjuang memulihkan berbagai aspek kehidupan yang terdampak bencana, Tradisi Meugang tetap dijalankan. Ini adalah momentum penting untuk menyambut Lebaran. Tradisi ini juga bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Rasa persaudaraan yang kuat ini, menurutnya, menjadi modal utama. Dengan modal tersebut, warga dapat bersama-sama mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi. Kebersamaan menjadi kunci dalam proses pemulihan pascabencana.
Ia menambahkan bahwa meski warga telah menerima berbagai bantuan penanganan bencana dari pemerintah maupun pihak swasta, perjuangan menormalkan kehidupan tetap harus dilanjutkan. Tradisi ini memberikan semangat dan dukungan moral yang sangat dibutuhkan.
"Jadi dengan tradisi Meugang ini kami semua kumpul bersama menjaga silaturahmi untuk menyambut Lebaran dan juga untuk kedepannya," kata Jahidin. Momen berkumpul ini menegaskan kembali pentingnya solidaritas sosial.
Sumber: AntaraNews