Tradisi Mahantam di Agam: Simbol Solidaritas dan Harapan di Tengah Pemulihan Bencana
Di tengah duka pascabencana, tradisi Mahantam di Kabupaten Agam tetap kokoh, menjadi simbol kebersamaan dan harapan bagi warga yang berjuang memulihkan diri menjelang Lebaran.
Menjelang perayaan Idulfitri, tradisi Mahantam di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kembali digelar dengan semangat kebersamaan yang tak luntur. Prosesi pembagian daging sapi ini menjadi penanda bahwa Lebaran sudah semakin dekat bagi masyarakat setempat.
Tradisi kuno ini, yang juga dikenal sebagai Barantam di beberapa daerah lain, merupakan bentuk gotong royong ekonomi yang efektif. Warga berpartisipasi dengan membayar iuran untuk membeli sapi, yang kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan secara merata dua hari sebelum Lebaran.
Namun, tahun ini, Mahantam hadir dengan nuansa berbeda. Di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir bandang yang melanda Agam pada akhir November 2025, tradisi ini menjadi simbol ketahanan dan solidaritas masyarakat yang berjuang bangkit dari duka mendalam.
Sejarah dan Mekanisme Tradisi Mahantam
Tradisi Mahantam telah lama mengakar dalam identitas sosial masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Agam, sebagai ritual tahunan menjelang Lebaran. Ini bukan sekadar pembagian daging, tetapi sebuah cerminan dari semangat gotong royong dan kebersamaan yang kuat.
Secara historis, Mahantam berfungsi sebagai skema ekonomi partisipatif yang sederhana namun efektif. Warga yang ingin ikut serta menyetor sejumlah uang dalam kurun waktu tertentu, biasanya dimulai setelah Lebaran tahun sebelumnya.
Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli sapi, yang akan disembelih dua hari sebelum Hari Raya Idulfitri. Daging sapi tersebut kemudian dibagikan secara merata kepada seluruh peserta, memastikan setiap keluarga dapat menikmati hidangan spesial Lebaran.
Setiap penerima mendapatkan jatah daging sapi total 5 kilogram, dengan rincian 2,8 kilogram daging murni dan sisanya bagian lain dari sapi. Pembagian ini bukan hanya soal distribusi pangan, melainkan juga sarana mempererat hubungan sosial dan membangun solidaritas di antara warga.
Adaptasi Tradisi Mahantam di Tengah Duka Bencana
Bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Agam pada akhir November 2025 meninggalkan duka mendalam dan dampak signifikan bagi masyarakat. Banyak warga kehilangan harta benda, bahkan tempat tinggal, dengan 165 orang meninggal dunia, 136 di antaranya berasal dari Palembayan.
Dalam kondisi sulit ini, pelaksanaan tradisi Mahantam yang biasanya berjalan lancar harus beradaptasi dengan realitas baru. Di kawasan terdampak banjir seperti Padang Sibabaju, Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, warga tetap berupaya mempertahankan tradisi ini.
Joni Masryal, ketua kelompok Mahantam setempat, mengungkapkan adanya penurunan jumlah peserta pada tahun kedelapan pelaksanaannya. Dari rata-rata 75 orang, kini hanya tercatat 66 orang, yang tidak terlepas dari dampak bencana terhadap kondisi ekonomi warga.
Mekanisme partisipasi melibatkan biaya awal Rp300 ribu, diikuti iuran bulanan Rp20 ribu, sehingga total biaya mencapai Rp540 ribu. Meskipun demikian, tradisi ini tetap menjadi penguat moral dan simbol keberlanjutan hidup di tengah situasi sulit.
Inovasi dan Makna Mendalam Mahantam di Huntara
Situasi berbeda terjadi di Hunian Sementara (Huntara) Kayu Pasak, yang berjarak sekitar dua kilometer dari Padang Sibabaju. Keterbatasan ekonomi para penghuni huntara sempat mengancam kelangsungan tradisi Mahantam di lokasi ini.
Namun, inisiatif luar biasa muncul dari Wali Jorong Kayu Pasak, Nofril Harman, yang mengalihkan bantuan dana untuk membeli sapi. Keputusan ini tidak hanya menyelamatkan tradisi dari ancaman vakum, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi seluruh penghuni huntara.
Daging sapi yang diperoleh kemudian dibagikan kepada seluruh penghuni, memastikan mereka tetap dapat merasakan kebahagiaan Lebaran meskipun dalam keterbatasan. Bagi warga, keberadaan daging saat Lebaran bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari tradisi yang tak boleh hilang.
Tradisi Mahantam, dengan segala penyesuaiannya, membuktikan bahwa ia telah bertransformasi menjadi simbol kepedulian dan keberpihakan terhadap mereka yang paling membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya tentang kebiasaan lama, tetapi juga tentang menemukan cara baru untuk tetap bersama dan saling menguatkan.
Sumber: AntaraNews