Warga Lhok Pungki Gelar Tradisi Meugang di Pengungsian Jelang Ramadhan 2026
Meskipun berada di tenda pengungsian, warga Dusun Lhok Pungki tetap laksanakan Tradisi Meugang jelang Ramadhan 1447 H/2026, berkat bantuan dari NGO dan informasi bantuan Presiden Prabowo.
Warga Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, tetap merayakan Tradisi Meugang menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah/2026. Perayaan ini berlangsung di tenda pengungsian mereka, menunjukkan semangat kebersamaan di tengah kondisi sulit.
Kegiatan "meugang" yang digelar pada Senin (16/2) ini menjadi momen penting bagi masyarakat setempat untuk menyambut datangnya bulan puasa. Meskipun berada di pengungsian, tradisi turun-temurun ini tetap dilaksanakan dengan penuh syukur dan gotong royong.
Kepala Dusun Lhok Pungki, Firmadi, mengungkapkan rasa syukurnya atas pelaksanaan tradisi ini. Ia menyatakan bahwa warga sedang memasak daging sapi yang merupakan bantuan dari sebuah NGO Malaysia, melanjutkan kebiasaan "meugang" yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Aceh.
Makna dan Pelaksanaan Tradisi Meugang
Tradisi Meugang, atau sering disebut Makmeugang, merupakan sebuah ritual budaya yang sangat kental di kalangan masyarakat Aceh. Tradisi ini melibatkan kegiatan memasak daging untuk kemudian dinikmati bersama keluarga, kerabat, hingga anak yatim piatu.
Pemerintah Aceh melalui laman resminya menjelaskan bahwa Meugang secara historis menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur. Pelaksanaannya selalu mengiringi hari-hari besar umat Islam, seperti menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, sebagai bentuk persiapan spiritual dan sosial.
Di Dusun Lhok Pungki, pelaksanaan Meugang kali ini diwarnai dengan kegiatan memasak "masak merah", hidangan khas Aceh. Masakan ini terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya, termasuk cabai kering, daun temurui atau daun kari, serta daun pandan, yang memberikan cita rasa unik dan otentik.
Firmadi menambahkan bahwa seluruh warga berpartisipasi aktif dalam proses memasak secara gotong royong. Semangat kebersamaan ini menjadi inti dari Tradisi Meugang, mempererat tali silaturahmi antarwarga, bahkan dalam keterbatasan.
Dukungan Bantuan untuk Meugang di Pengungsian
Meskipun berada di tenda pengungsian, warga Dusun Lhok Pungki tidak sendiri dalam merayakan Tradisi Meugang tahun ini. Mereka menerima dukungan signifikan dari berbagai pihak, termasuk bantuan daging sapi dari sebuah NGO Malaysia.
Selain itu, informasi mengenai bantuan dari Presiden Prabowo Subianto juga telah diterima oleh warga. Firmadi menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang beredar, setiap desa akan mendapatkan tiga ekor lembu untuk kebutuhan Meugang.
Dusun Lhok Pungki sendiri merupakan bagian dari satu desa yang memiliki sekitar 760 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, sebanyak 85 KK saat ini masih mengungsi, menyoroti skala kebutuhan dan pentingnya bantuan yang disalurkan.
Firmadi menyatakan rasa syukurnya atas semua bantuan yang diterima. Ia mengakui bahwa tanpa bantuan tersebut, pelaksanaan Meugang di tengah kondisi pengungsian akan menjadi tantangan besar. "Alhamdulillah kita untuk Meugang ini masih bisa makan daging, walaupun daging bantuan," ujarnya.
Semangat Gotong Royong di Tengah Keterbatasan
Kondisi pengungsian tidak menyurutkan semangat warga Dusun Lhok Pungki untuk melestarikan Tradisi Meugang. Justru, keterbatasan yang ada semakin memperkuat ikatan persaudaraan dan semangat gotong royong di antara mereka.
Proses memasak "masak merah" dilakukan bersama-sama, dari persiapan bumbu hingga penyajian. Ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Meugang, yaitu berbagi dan kebersamaan.
Firmadi mengenang bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, warga biasanya membeli sendiri daging untuk Meugang. Namun, kondisi saat ini mengharuskan mereka bergantung pada bantuan, sebuah realitas yang diterima dengan lapang dada dan penuh rasa syukur.
Tradisi Meugang di pengungsian ini menjadi bukti ketahanan dan adaptasi masyarakat Aceh dalam menghadapi cobaan. Momen ini tidak hanya tentang hidangan daging, tetapi juga tentang mempertahankan identitas budaya dan memperkuat solidaritas sosial.
Sumber: AntaraNews