Aceh Culinary Festival 2026 Usung Skema Kolektif, Wujudkan Keberlanjutan Pariwisata Kuliner

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh akan menghadirkan Aceh Culinary Festival 2026 dengan skema kolektif, mendorong ekosistem event yang mandiri, partisipatif, dan berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Aceh Culinary Festival 2026 Usung Skema Kolektif, Wujudkan Keberlanjutan Pariwisata Kuliner
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh akan menghadirkan Aceh Culinary Festival 2026 dengan skema kolektif, mendorong ekosistem event yang mandiri, partisipatif, dan berkelanjutan. (AntaraNews)

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh siap menghadirkan Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 dengan pendekatan baru yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan. Festival kuliner ikonik ini dijadwalkan berlangsung pada 11–14 September 2026 di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Penyelenggaraan tahun ini akan mengusung skema kolektif, melibatkan berbagai pihak untuk memastikan keberlanjutan event.

Kepala Disbudpar Aceh, Dedy Yuswadi, menjelaskan bahwa skema kolektif tersebut merupakan model baru yang diharapkan dapat mengembangkan event pariwisata daerah secara mandiri. Transformasi ini menandai langkah maju ACF setelah sembilan kali penyelenggaraan sejak tahun 2014. Tujuannya adalah membangun ekosistem event yang partisipatif, mandiri, dan tidak lagi hanya bertumpu pada pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).

ACF 2026 akan tetap mempertahankan identitas utamanya melalui Paviliun Kuliner yang menempati anjungan kabupaten/kota di Taman Ratu Safiatuddin. Festival ini telah diakui secara nasional, masuk Top 100 Calendar of Events Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia sebanyak empat kali. Selain itu, ACF juga berhasil masuk Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) selama tiga tahun berturut-turut, dari 2021 hingga 2023.

Transformasi Menuju Keberlanjutan Event Pariwisata

Perubahan skema penyelenggaraan Aceh Culinary Festival 2026 menjadi kolektif adalah upaya strategis Disbudpar Aceh untuk menciptakan event yang lebih mandiri. Model ini melibatkan kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, komunitas, pelaku industri kreatif, serta sektor swasta. Dedy Yuswadi optimistis bahwa pendekatan ini akan menjadi alternatif pengembangan event pariwisata daerah di masa depan.

ACF telah dibangun dan dikembangkan selama sembilan edisi sebagai sebuah brand event yang kuat, bukan sekadar kegiatan tahunan. Reputasi, jejaring, dan nilai yang telah terbentuk menjadi modal penting bagi festival ini. Dengan skema baru, ACF diharapkan dapat terus tumbuh secara kolaboratif dan berkelanjutan tanpa bergantung sepenuhnya pada APBA.

Kesempatan untuk terlibat dalam gerakan kolektif ACF 2026 akan segera dibuka bagi pelaku dan pemerhati sektor kuliner, seni, budaya, serta ekonomi kreatif lainnya. Mekanisme pendaftaran terbuka akan diumumkan dalam waktu dekat melalui platform daring. Hal ini menunjukkan komitmen Disbudpar Aceh untuk inklusivitas dan partisipasi luas.

Pencapaian dan Penguatan Identitas Aceh Culinary Festival

Aceh Culinary Festival telah mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional dengan empat kali masuk dalam Top 100 Calendar of Events Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Keberhasilan ini menegaskan posisi ACF sebagai salah satu event pariwisata unggulan. Selain itu, ACF juga konsisten masuk Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) selama tiga tahun berturut-turut, dari 2021 hingga 2023.

Pada tahun 2026, ACF kembali lolos kurasi dan berhasil masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara, menunjukkan kualitas dan daya tarik festival yang berkelanjutan. Meskipun mengusung skema kolektif, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh tetap menjalankan peran strategis sebagai pihak terdepan dalam penyelenggaraan. Ini memastikan standar dan arah festival tetap terjaga.

Founder sekaligus Festival Director ACF, Wan Windi Lestari, menjelaskan bahwa revitalisasi dan aktivasi Taman Ratu Safiatuddin tetap menjadi program unggulan. Paviliun Kuliner di anjungan kabupaten/kota akan tetap menjadi ikon utama Aceh Culinary Festival. Melalui skema kolektif ini, fungsi Taman Ratu Safiatuddin sebagai ruang budaya yang hidup dan produktif diharapkan semakin kuat, memberikan manfaat bagi pelaku ekonomi kreatif Aceh.

Sebagai bentuk penguatan identitas dan legalitas, Aceh Culinary Festival resmi menjadi event pertama di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh yang memiliki sertifikat merek atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Pencapaian ini menunjukkan komitmen terhadap perlindungan dan pengembangan brand ACF.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi