Tradisi Lemang Tukka Bertahan Kuat di Tengah Bekas Banjir Idulfitri
Meski dihantam banjir bandang tahun lalu, warga Desa Pasar Tukka, Tapanuli Tengah, tetap gigih melestarikan Tradisi Lemang Tukka menjelang Idulfitri, menunjukkan semangat ketahanan yang luar biasa.
Warga Desa Pasar Tukka, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dengan penuh semangat melanjutkan tradisi memasak lemang atau nasi ketan dalam bambu menjelang perayaan Idulfitri. Tradisi ini terus dipertahankan meskipun rumah-rumah mereka masih menyimpan bekas kerusakan parah akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut tahun lalu. Aktivitas memasak lemang ini menjadi simbol ketahanan dan harapan bagi masyarakat setempat di tengah upaya pemulihan pasca-bencana.
Memasak lemang, hidangan khas yang terbuat dari beras ketan dan santan yang dimasak dalam bambu, merupakan tradisi tahunan yang mengakar kuat di Tukka. Meskipun asalnya dari budaya Minangkabau, lemang telah menjadi menu wajib bagi warga Tukka selama perayaan Idulfitri dan Tahun Baru. Proses pembuatan lemang yang melibatkan banyak orang juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Di tengah puing-puing dan sisa-sisa lumpur, aroma lemang yang dibakar di atas api terbuka kembali semerbak, menandai datangnya hari kemenangan. Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual kuliner, tetapi juga menjadi pengingat akan kebersamaan dan kekuatan komunitas dalam menghadapi cobaan. Warga berharap tradisi ini dapat terus lestari sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.
Ketahanan Warga Melestarikan Tradisi Lemang Tukka
Lismawarni Siagian, salah seorang warga, terlihat sibuk menyiapkan lemang di atas sebidang tanah yang dulunya merupakan lokasi rumahnya. Kini menyewa rumah di desa tetangga, ia sengaja kembali ke lokasi bekas rumahnya yang tertimbun material banjir untuk melanjutkan tradisi. "Saya sengaja memasak lemang di sini, di atas tempat rumah saya terkubur (oleh material banjir). Saya biasa membuat lemang setiap tahun di sini," ujar Siagian.
Rumahnya yang berada di pinggir jalan, terkubur lumpur setelah banjir bandang. Lumpur tersebut kini telah mengering dan mengeras, membentuk gundukan yang menutupi kediamannya. Bagi Lismawarni, memasak lemang adalah cara untuk menghidupkan kembali kenangan sebelum hidupnya berubah drastis akibat bencana.
Menurutnya, warga Tukka biasanya bergotong royong menyiapkan lemang menjelang Idulfitri. Pada saat itu, warga sudah setengah jalan membakar bambu berisi lemang di atas api terbuka, menunjukkan semangat kebersamaan yang tak luntur. Tradisi ini menjadi ajang untuk saling membantu dan menguatkan satu sama lain.
Lemang: Simbol Persatuan dan Ekonomi Lokal di Tukka
Tidak jauh dari Lismawarni, Hotnida Simanjuntak dan keluarganya juga terlihat sibuk memasak lemang di halaman rumah mereka yang juga tertimbun lumpur. Lemang yang mereka siapkan tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi juga untuk dijual.
Hotnida menjelaskan bahwa penjualan lemang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Satu batang lemang di Tukka biasanya dihargai Rp40.000. "Lemang ini tidak hanya untuk kami; beberapa adalah pesanan dari warga sekitar. Memang tidak banyak, tapi kami bersyukur," katanya, menunjukkan bagaimana tradisi ini juga memiliki dimensi ekonomi yang penting bagi warga.
Tradisi Lemang Tukka ini mencerminkan semangat persatuan dan ketangguhan masyarakat. Di tengah keterbatasan dan dampak bencana, mereka tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya dan saling mendukung. Kegiatan ini tidak hanya melestarikan warisan leluhur tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kecil yang membantu warga bangkit dari keterpurukan.
Sumber: AntaraNews