Penyintas Banjir Aceh Timur Rawat Kebersamaan Lewat Tradisi Kue Lebaran
Di tengah keterbatasan pasca-bencana, penyintas banjir Aceh Timur di Desa Sijudo menemukan kembali semangat kebersamaan dengan tradisi membuat kue Lebaran khas, menjaga tali persaudaraan yang erat.
Warga penyintas banjir di Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, menunjukkan ketangguhan luar biasa pasca-bencana. Mereka merawat kebersamaan yang mendalam melalui aktivitas pembuatan kue Lebaran secara gotong royong. Tradisi ini menjadi simbol semangat persatuan di tengah keterbatasan yang masih dirasakan.
Aktivitas ini melibatkan para perempuan desa yang berkumpul bersama untuk menyiapkan hidangan khas Hari Raya Idul Fitri. Salah satu hidangan utama yang mereka buat adalah kue timpan, yang sudah menjadi suguhan wajib di desa tersebut. Kegiatan ini tidak hanya sekadar membuat kue, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi yang berharga.
Zuraida, salah seorang warga penyintas banjir, mengungkapkan bahwa berkumpul untuk memasak bersama sudah sering mereka lakukan setelah bencana melanda. Kini, menjelang Lebaran, mereka kembali bersemangat membuat kue secara kolektif. Ini adalah cara mereka untuk tetap saling mendukung dan menjaga semangat komunitas.
Tradisi Kue Timpan: Simbol Persatuan Penyintas Banjir Aceh Timur
Tradisi membuat kue timpan secara bersama-sama merupakan kegiatan rutin yang selalu dilakukan warga Desa Sijudo menjelang Lebaran setiap tahun. Kue timpan ini dibuat dengan beragam varian, seperti timpan labu, timpan pisang, dan timpan kelapa. Pemilihan jenis kue disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku yang ada di lingkungan mereka.
Zuraida menjelaskan bahwa meskipun setiap keluarga juga membuat kue Lebaran di rumah masing-masing, kegiatan kolektif ini memiliki makna tersendiri. "Setelah bencana, sering kami kumpul-kumpul untuk masak bersama dan kali ini menyambut Lebaran kami membuat kue bersama-sama," ujarnya. Hal ini memperkuat ikatan sosial di antara mereka.
Kebersamaan dalam membuat kue timpan ini menjadi lebih berarti mengingat kondisi pasca-bencana banjir pada 26 November 2025. Akses untuk mendapatkan bahan baku menjadi salah satu tantangan yang harus disesuaikan dengan kondisi ekonomi warga. Namun, semangat gotong royong tidak pernah luntur.
Menjaga Tali Persaudaraan di Tengah Keterbatasan Pasca-Bencana
Aktivitas membuat kue bersama ini bukan hanya tentang tradisi kuliner, tetapi juga menjadi momentum penting bagi warga, khususnya para perempuan desa, untuk tetap menjaga kebersamaan dan tali persaudaraan. Mereka saling menguatkan setelah menghadapi dampak bencana yang tidak ringan. Ini adalah bentuk dukungan emosional yang sangat dibutuhkan.
Dalam suasana kebersamaan tersebut, mereka bisa saling menceritakan kondisi terkini di keluarga masing-masing. Ini memungkinkan mereka untuk berbagi beban dan mencari solusi bersama jika ada keluarga yang mengalami kesulitan. "Dengan ramai-ramai (masak bersama) begini kami juga lebih senang," kata Zuraida, menunjukkan kegembiraan mereka.
Meskipun kondisi masih terbatas, semangat untuk bangkit terus membara di Desa Sijudo. Kegiatan seperti ini membantu memulihkan mental dan sosial warga. Ini juga menunjukkan bahwa kebersamaan adalah kunci utama dalam menghadapi masa-masa sulit dan membangun kembali kehidupan yang lebih baik.
Dukungan dan Harapan untuk Pemulihan Berkelanjutan
Zuraida menambahkan bahwa selain kegiatan masak bersama, berbagai aktivitas lainnya di desa mulai berangsur membaik. Pemulihan ini tidak lepas dari dukungan bantuan yang diberikan oleh pemerintah maupun pihak swasta lainnya. Bantuan tersebut sangat berarti dalam membantu warga kembali menata hidup mereka.
Dukungan dari berbagai pihak menjadi pendorong utama bagi penyintas untuk terus berupaya bangkit dari keterpurukan. Mereka berharap agar proses pemulihan dapat terus berjalan lancar dan kondisi desa dapat sepenuhnya pulih seperti sedia kala. Kebersamaan warga menjadi fondasi kuat dalam mencapai harapan tersebut.
Semangat gotong royong dan tradisi yang dipertahankan oleh penyintas banjir Aceh Timur ini adalah contoh nyata ketahanan komunitas. Ini membuktikan bahwa di balik setiap bencana, ada kekuatan persatuan yang mampu membawa harapan dan kebahagiaan. Tradisi membuat kue Lebaran ini akan terus menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan.
Sumber: AntaraNews