Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Timur meninggalkan dampak signifikan pada perekonomian banyak keluarga. Namun, semangat juang para penyintas bencana Aceh Timur tidak padam, mereka menemukan cara kreatif untuk bangkit. Salah satunya adalah dengan berjualan kue Lebaran menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Inisiatif ini diambil oleh sejumlah warga, termasuk Novita dan Nurhayati, untuk memulihkan kondisi finansial mereka yang terpuruk. Aktivitas berjualan kue ini menjadi tumpuan harapan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Upaya ini menunjukkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi cobaan.
Melalui penjualan kue-kue tradisional dan modern, para penyintas berusaha mandiri tanpa hanya bergantung pada bantuan. Mereka memanfaatkan momentum perayaan Lebaran, di mana permintaan akan kue kering dan basah meningkat tajam. Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak.
Advertisement
Advertisement
Novita, salah satu pedagang kue di Pasar Idi Rayeuk, Aceh Timur, mengungkapkan bahwa hasil berjualan kue cukup membantu keluarganya. Penghasilan dari penjualan kue ini menjadi tulang punggung untuk memperbaiki berbagai kerusakan akibat banjir. Dia memulai aktivitas ini pada pekan lalu, menjelang perayaan Idul Fitri.
Beberapa jenis kue yang menjadi favorit pembeli antara lain sagon, pie susu, dan nastar. Dalam sehari, Novita bisa meraup omzet hingga Rp500 ribu, bahkan mencapai Rp800 ribu jika penjualan berlanjut hingga malam hari. Angka ini menunjukkan potensi besar dari usaha kecil yang digeluti para penyintas bencana Aceh Timur.
"Hasilnya lumayan untuk kebutuhan keluarga karena banyak harus diperbaiki karena dampak banjir," ujar Novita. Keterangan ini menegaskan betapa pentingnya pendapatan tersebut bagi kelangsungan hidup keluarga. Mereka berjuang keras untuk bangkit dari keterpurukan.
Advertisement
Advertisement
Nurhayati, pedagang kue lainnya, juga merasakan tingginya permintaan kue selama bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran. Meskipun rumahnya sempat diterjang banjir, peralatan usahanya berhasil diselamatkan. Ini memungkinkan Nurhayati untuk tetap melanjutkan usahanya dan menjadi salah satu penyintas bencana Aceh Timur yang gigih.
Nurhayati mencatat bahwa omzet tertinggi dari penjualan kuenya bisa mencapai Rp3 juta. Kue-kue seperti sagon khas Aceh, nastar, dan seupet (semprong) menjadi pilihan utama pembeli. "Alhamdulillah meskipun ada musibah tetapi permintaan kue tetap ramai," katanya. Permintaan yang tinggi ini menjadi berkah tersendiri bagi mereka yang sedang berjuang.
Meskipun hanya berjualan pada momentum Lebaran, penghasilan yang didapat sangat membantu memperbaiki perekonomian keluarganya. Dia menekankan pentingnya kemandirian dalam menghadapi situasi sulit. "Meski ada bantuan dari Pemerintah dan pihak lainnya tetapi kami coba untuk bisa mandiri dengan usaha ini," jelas Nurhayati. Semangat ini menunjukkan mentalitas pantang menyerah.
Advertisement
Kisah para penyintas bencana Aceh Timur ini menunjukkan resiliensi dan semangat kewirausahaan yang patut dicontoh. Mereka tidak hanya menunggu bantuan, tetapi aktif mencari solusi untuk memulihkan kehidupan. Upaya ini memberikan harapan baru bagi banyak keluarga yang terdampak banjir, sekaligus menginspirasi masyarakat luas.
Inisiatif seperti ini tidak hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga membangun kembali kepercayaan diri dan komunitas. Dengan setiap kue yang terjual, ada langkah kecil menuju pemulihan yang lebih besar. Ini adalah bukti nyata bahwa semangat gotong royong dan kemandirian dapat mengatasi berbagai rintangan.
Sumber: AntaraNews
Advertisement