Di Tengah Puing Bencana, Warga Tukka Pertahankan Tradisi Memasak Lemang Jelang Lebaran

Meski rumah hancur diterjang banjir bandang, warga Tukka, Tapanuli Tengah, tetap kukuh melestarikan tradisi memasak lemang jelang Lebaran, membangkitkan kenangan di tengah duka.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Di Tengah Puing Bencana, Warga Tukka Pertahankan Tradisi Memasak Lemang Jelang Lebaran
Meski dihantam banjir bandang tahun lalu, warga Desa Pasar Tukka, Tapanuli Tengah, tetap gigih melestarikan Tradisi Lemang Tukka menjelang Idulfitri, menunjukkan semangat ketahanan yang luar biasa. (AntaraNews)

Warga Kecamatan Tukka, Kelurahan Pasar Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa menjelang perayaan Lebaran tahun ini. Mereka tetap gigih mempertahankan tradisi memasak lemang di tengah puing-puing rumah yang rusak parah akibat terjangan banjir bandang pada November 2025 lalu.

Aktivitas tahunan ini tidak hanya sekadar kebiasaan, melainkan juga menjadi simbol semangat pantang menyerah dan harapan baru bagi masyarakat yang terdampak bencana. Memasak lemang, makanan khas dari beras ketan dan santan yang dimasak di dalam bambu, adalah ritual turun-temurun yang selalu dinanti.

Meskipun secara historis lemang berasal dari budaya Minang, makanan lezat ini telah mengakar kuat dan menjadi menu wajib bagi warga Tukka setiap kali merayakan Idul Fitri dan Tahun Baru. Tradisi berharga ini terus hidup dan dilestarikan, bahkan di lokasi yang dulunya adalah fondasi rumah mereka yang kini terkubur lumpur tebal.

Lismawarni Siagian, salah satu warga Tukka yang terdampak parah, adalah contoh nyata dari semangat yang tak padam ini. Ia dengan sengaja datang kembali ke lokasi bekas rumahnya yang kini rata dengan tanah untuk membakar lemang di atas sebidang tanah yang tersisa.

Lismawarni, yang saat ini mengontrak rumah di desa tetangga, merasa sangat penting untuk melanjutkan kebiasaan tahunan ini. Baginya, ritual memasak lemang di tempat yang sama setiap tahun adalah cara yang kuat untuk menghidupkan kembali kenangan indah dan manis sebelum musibah banjir bandang mengubah segalanya.

Rumahnya terkubur dalam lapisan lumpur tebal setelah banjir bandang, dengan banyak bangunan lain di sekitarnya yang juga hancur lebur. Namun, tumpukan tanah yang menimbun bekas rumahnya kini telah mengering dan memadat, bahkan sudah bisa dilintasi oleh kendaraan dengan relatif mudah.

Tradisi berharga ini juga semakin diperkuat oleh semangat gotong royong yang kental di kalangan warga Tukka. Mereka biasanya bahu-membahu dan saling membantu dalam proses pembuatan lemang sebelum Idul Fitri, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Tidak jauh dari lokasi Lismawarni membakar lemang, Hotnida Simanjuntak bersama keluarganya juga terlihat sangat sibuk memasak lemang di halaman rumahnya yang kini hampir terkubur lumpur. Mereka tidak hanya membuat lemang untuk konsumsi pribadi, tetapi juga untuk dijual kepada warga sekitar yang membutuhkan.

Hotnida mengakui bahwa jumlah pesanan lemang mungkin tidak sebanyak sebelum bencana, namun hasil penjualan ini sangat berarti. Pendapatan dari penjualan lemang, dengan harga rata-rata Rp 40.000 per batang di Tukka, sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya yang terdampak.

Kehadiran tradisi memasak lemang ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat akan masa lalu yang indah, tetapi juga sebagai bentuk nyata dari resiliensi ekonomi masyarakat. Di tengah kesulitan dan tantangan pasca-bencana, warga berusaha bangkit dan memanfaatkan potensi lokal untuk bertahan hidup.

Oleh karena itu, lemang di Tukka bukan hanya sekadar makanan lezat yang dinikmati saat perayaan. Lebih dari itu, ia adalah simbol kuat dari kebersamaan yang tak lekang oleh waktu dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi segala cobaan, menunjukkan bagaimana tradisi dapat menjadi jangkar di tengah badai kehidupan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi