Pemkot Denpasar Dirikan Tiga Posko Mudik Lebaran, Antisipasi Arus Puncak dan Nyepi
Pemerintah Kota Denpasar mendirikan tiga Posko Mudik Lebaran untuk memastikan kelancaran dan keamanan arus mudik serta balik. Langkah ini mengantisipasi lonjakan pergerakan masyarakat yang berbarengan dengan Hari Raya Nyepi.
Pemerintah Kota Denpasar telah mendirikan tiga posko terpadu guna memperlancar arus mudik dan balik Lebaran 2026. Pendirian posko ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi peningkatan pergerakan masyarakat di Bali. Inisiatif ini juga berbarengan dengan rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyatakan bahwa posko-posko ini akan memantau lalu lintas darat dan laut. Lokasi posko utama berada di Terminal Ubung, sementara posko lainnya di Uma Anyar dan Pelabuhan Serangan. Upaya ini dilakukan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pemudik serta wisatawan.
Penyiapan langkah antisipasi ini sangat penting mengingat Denpasar adalah destinasi pariwisata utama. Peningkatan kunjungan wisatawan selama liburan Lebaran juga perlu diwaspadai. Selain itu, potensi kerawanan kriminal dan cuaca buruk juga menjadi fokus perhatian pemerintah kota.
Fokus Pemantauan dan Lokasi Posko Strategis
Tiga posko yang didirikan Pemkot Denpasar memiliki fungsi vital dalam mengawal kelancaran arus mudik. Posko utama berlokasi di Terminal Ubung, yang merupakan simpul transportasi darat penting di Denpasar. Posko ini akan menjadi pusat koordinasi seluruh kegiatan pemantauan.
Posko Uma Anyar difokuskan untuk pemantauan lalu lintas darat secara umum. Sementara itu, Posko Pelabuhan Serangan bertugas memantau angkutan laut. Keberadaan posko-posko ini mencerminkan pendekatan komprehensif dalam mengamankan berbagai moda transportasi.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar, I Ketut Sriawan, menjelaskan bahwa Posko Terpadu Pengendalian dan Pengawasan Angkutan Lebaran 2026 beroperasi selama 16 hari. Periode operasional ini dimulai dari tanggal 13 Maret hingga 29 Maret 2026. Fokus pemantauan mencakup berbagai titik strategis di kota.
Beberapa area yang menjadi fokus pemantauan termasuk Terminal Ubung, pool bus, obyek wisata, pusat perbelanjaan, dan tempat ibadah. Simpang dan ruas jalan rawan kemacetan juga tidak luput dari perhatian. Pelabuhan Pengumpan Lokal di Denpasar juga termasuk dalam area pengawasan.
Antisipasi Puncak Arus dan Peringatan Khusus
Wali Kota Jaya Negara menyoroti potensi pergerakan masyarakat yang meningkat signifikan selama Lebaran. Kondisi ini diperparah dengan berbarengannya periode mudik tahun ini dengan rangkaian Hari Raya Nyepi. Pihaknya menekankan pentingnya persiapan matang untuk kedua momen tersebut.
Tim posko terpadu diminta untuk mengingatkan pemudik agar menghindari perjalanan pada 18 Maret 2026. Tanggal tersebut bertepatan dengan acara Tawur Agung Kasanga atau Malam Pengerupukan. Acara ini biasanya diisi dengan Pawai Ogoh-ogoh yang akan menyebabkan kepadatan lalu lintas.
Prediksi puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada Minggu hingga Selasa, 15-17 Maret 2026. Pergerakan keluar Bali diperkirakan mencapai puncaknya sebelum cuti bersama atau Pengerupukan. Informasi ini berasal dari data Dinas Perhubungan Provinsi Bali.
Selain itu, prediksi puncak arus balik dibagi menjadi dua fase. Puncak arus balik I diprediksi pada Selasa hingga Rabu, 24-25 Maret 2026. Sementara itu, puncak arus balik II diperkirakan pada Jumat hingga Sabtu, 27-28 Maret 2026.
Kesiapan Armada dan Koordinasi Lintas Sektor
Jaya Negara juga meminta Organda Bali dan operator angkutan untuk menyiapkan sarana angkutan yang laik jalan. Hal ini penting demi keselamatan dan kenyamanan penumpang selama perjalanan. Kesiapan armada menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan mudik.
Di sektor laut, bantuan Syahbandar di bawah KSOP kelas II Benoa sangat diharapkan. Mereka diminta memastikan kapal atau fastboat yang beroperasi telah memenuhi persyaratan teknis laik layar. Ini krusial untuk mewujudkan keselamatan bersama di jalur perairan.
Posko terpadu ini juga mengantisipasi kerawanan kriminal pada periode arus mudik dan balik. Selain itu, potensi rawan bencana dan cuaca buruk juga menjadi perhatian serius. Langkah-langkah pencegahan dan penanganan telah disiapkan.
Guna mendukung pelaksanaan kegiatan secara optimal, 80 personel gabungan disiagakan per shift. Rencana operasional melibatkan dua shift per hari untuk memastikan pemantauan berkelanjutan. Koordinasi antar posko di Denpasar dan daerah lain juga terintegrasi.
Sumber: AntaraNews