Pemkab Aceh Barat Gerak Cepat dalam Penanganan Longsor, Akses Jalan Kembali Terbuka
Pemkab Aceh Barat sigap dalam Penanganan Longsor Aceh Barat di Pante Ceureumen, berhasil membersihkan material longsor dan membuka kembali akses jalan yang sempat tertutup.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah berhasil membersihkan material longsor tebing gunung di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen. Pembersihan ini mengembalikan akses jalan yang sempat terputus sejak longsor terjadi pada Jumat (20/3) pekan lalu.
Material longsor sepanjang 15 meter kini sudah dipindahkan dari badan jalan utama. Ruas jalan vital tersebut kini dapat dilintasi kembali secara darurat oleh masyarakat setempat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Barat, Fadly Octora, menyatakan pemindahan material selesai pada Jumat (27/3) siang. Upaya ini merupakan hasil kerja sama antara Pemkab Aceh Barat dan personel TNI di lokasi.
Upaya Cepat Pembersihan dan Dampak Bencana
Proses pemindahan material longsor di Desa Jambak dilakukan dengan cepat berkat sinergi antara Pemkab Aceh Barat dan TNI. Satu unit alat berat yang berada tidak jauh dari lokasi bencana dimanfaatkan untuk mempercepat proses pembersihan material.
Meskipun material longsor telah berhasil disingkirkan, bencana alam ini meninggalkan dampak kerusakan yang signifikan. Kerusakan jalan mencapai 40 meter di lokasi kejadian, dan beberapa tiang listrik juga masih terdampak.
Kondisi ini mengharuskan masyarakat untuk lebih berhati-hati saat melintasi area tersebut. Longsor ini sendiri dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang terjadi selama beberapa hari terakhir di wilayah Aceh Barat.
Kawasan Rawan Bencana dan Antisipasi Pemerintah Daerah
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa longsor di Pante Ceureumen ini. Hal tersebut karena lokasi longsor yang terjadi pada pekan lalu tidak sedang dilintasi oleh warga saat kejadian.
Fadly Octora menambahkan bahwa lokasi bencana tanah longsor tebing gunung ini merupakan bekas lokasi banjir bandang sebelumnya. Area tersebut kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena dikenal sebagai daerah rawan bencana.
Kawasan ini juga merupakan bekas aliran sungai yang sempat berpindah saat bencana alam hidrometeorologi pada 26 November 2025 lalu. Pemkab Aceh Barat terus berupaya melakukan perbaikan infrastruktur.
Tujuannya adalah agar akses transportasi masyarakat di lokasi bencana dapat kembali normal dan maksimal. Upaya mitigasi dan perbaikan terus dilakukan untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews