Passing Grade Terbaik se-Kediri, Mas Dhito Antarkan Siswa Boarding School Masuk Perguruan Tinggi
Sebanyak 126 siswa angkatan pertama SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School resmi dilepas dalam acara kelulusan.
Sebanyak 126 siswa angkatan pertama SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School resmi dilepas dalam acara kelulusan yang digelar di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Minggu (14/6). Momen tersebut menjadi tonggak sejarah bagi sekolah berasrama gratis yang digagas Pemerintah Kabupaten Kediri sebagai upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, yang menginisiasi berdirinya sekolah tersebut, menyebut para siswa angkatan pertama telah membuktikan bahwa sesuatu yang semula dianggap mustahil dapat menjadi kenyataan.
Keberhasilan itu tercermin dari meningkatnya capaian penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri. Dalam kurun waktu tiga tahun, persentase kelulusan siswa ke PTN yang sebelumnya diperkirakan hanya berada di kisaran 32 persen, kini melonjak hingga 73,21 persen.
"Passing gradenya bisa diatas 70 persen untuk angkatan pertama. Alhamdulilah (prosentase) ini menjadi lulusan dengan penerimaan di perguruan tinggi terbaik se-Kabupaten Kediri, bahkan mengalahkan beberapa kota/kabupaten lain," katanya.
Dari total 126 siswa angkatan pertama, sebanyak 56 siswa mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Hasilnya, 41 siswa atau 73,21 persen berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri.
Selain itu, 10 siswa lainnya diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Secara keseluruhan, sebanyak 101 siswa berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Sekolah Gratis untuk Anak-anak Keluarga Miskin
SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School yang diresmikan pada 2023 merupakan salah satu program unggulan Pemkab Kediri. Seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan siswa ditanggung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Para siswa yang diterima di sekolah tersebut berasal dari keluarga Desil 1 atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Sebagian besar orang tua mereka bekerja sebagai buruh tani, pedagang kecil, hingga buruh serabutan.
Tiga tahun lalu, banyak di antara mereka yang nyaris tidak memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kini, mereka berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik.
"Ini membuktikan bahwa mereka yang ada di Desil 1 memiliki hak yang sama. Saat mereka masuk tidak punya mimpi untuk lanjut dan begitu kita tempa selama 3 tahun buktinya hari ini mereka bisa lanjut ke perguruan tinggi," ungkap Mas Dhito.
Kisah Aditya, Dari Mimpi yang Terasa Mustahil ke ITB
Di antara para lulusan, terdapat kisah perjuangan Aditya Wahyu Pratama yang mendapat perhatian khusus dari Mas Dhito. Saat banyak temannya telah dinyatakan lolos ke perguruan tinggi, Aditya masih berjuang mengejar kampus impiannya.
Berkat kerja keras, kedisiplinan, dan kegigihan dalam belajar, Aditya akhirnya berhasil diterima di Fakultas Teknik Industri (FTI) Institut Teknologi Bandung.
"Awalnya saya merasa masih kurang, tapi terus saya kejar impian saya walaupun terasa impian itu mustahil bagi saya," ucap Aditya.
Kisah Aditya menjadi simbol bahwa kesempatan yang sama dapat membuka jalan bagi siapa pun untuk meraih pendidikan terbaik, tanpa memandang latar belakang ekonomi.
Komitmen Pertahankan Sekolah untuk Anak Desil 1
Dalam kesempatan tersebut, Mas Dhito juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk Putera Sampoerna Foundation, yang turut berkontribusi dalam pengembangan sekolah berasrama tersebut.
Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mempertahankan SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School sebagai sekolah khusus bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Menurutnya, sekolah tersebut harus tetap menjadi instrumen pemerataan pendidikan dan tidak boleh berubah menjadi lembaga pendidikan komersial.
"Sekolah ini tidak boleh menjadi sekolah komersil, hanya khusus anak anak Desil 1," tegas Mas Dhito.
Melalui pendidikan, Pemkab Kediri berharap para lulusan sekolah boarding ini mampu meraih kehidupan yang lebih baik, meningkatkan kesejahteraan keluarga, sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan merupakan jalan paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.