Pakar Soroti Dampak Konflik Iran dan AS–Israel bagi Energi dan Keamanan Indonesia
Tia Mariatul Kibtiah menyoroti potensi krisis ekonomi akibat eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Eskalasi konflik antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel di Timur Tengah dinilai dapat menimbulkan dampak ganda bagi Indonesia, mulai dari kerentanan pasokan energi hingga potensi polarisasi ideologi di dalam negeri. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam webinar bertajuk "Dampak Konflik Iran dan Israel-AS Terhadap Dinamika Keamanan Indonesia" yang diselenggarakan oleh Institute for Strategic Transformation (IFORSTRA), Sabtu (7/3).
Diskusi yang dipandu oleh Raja Adelia Oktafia dari Universitas Pertamina itu menghadirkan tiga narasumber, yakni Tia Mariatul Kibtiah (Dosen Hubungan Internasional Binus University), M. Syaroni Rofii (Dosen Ketahanan Nasional SPPB UI sekaligus pengamat Timur Tengah), serta M. Syauqillah (Direktur Institute for Strategic Transformation dan pengamat terorisme).
Dalam paparannya, Tia Mariatul Kibtiah menyoroti potensi krisis ekonomi akibat eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Ia menilai tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak, ditambah cadangan nasional yang hanya mampu bertahan sekitar 20 hari, menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional.
Di sisi diplomasi, Tia juga menyinggung hambatan yang dihadapi Indonesia setelah Iran menolak tawaran mediasi. Selain itu, keputusan Indonesia untuk bergabung dengan blok Board of Peace (BoP) turut mendapat kritik dari pihak Iran. Rangkaian perkembangan tersebut juga berpotensi memicu kerawanan sosial di dalam negeri, yang salah satunya direspons dengan penetapan status siaga tiga oleh TNI untuk mengantisipasi kemungkinan demonstrasi massal.
Sementara itu, M. Syaroni Rofii memandang konflik yang terjadi sebagai bentuk perang asimetris. Menurutnya, kekuatan militer dan nuklir Amerika Serikat–Israel berhadapan dengan keunggulan teknologi drone yang dimiliki Iran.
Ia menilai konflik tersebut juga diduga memiliki tujuan mendorong perubahan rezim di Iran. Jika eskalasi terus berlanjut, ketegangan global diperkirakan akan menekan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional serta berdampak pada sektor usaha mikro.
Dalam konteks diplomasi internasional, Syaroni menilai peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih terbatas. Sementara China dan Rusia cenderung memilih memantau situasi dari kejauhan. Oleh karena itu, Indonesia disarankan mengambil langkah shuttle diplomacy guna berperan sebagai penengah strategis dalam upaya meredakan konflik.
Dari perspektif keamanan domestik, M. Syauqillah menyoroti potensi pergeseran ancaman konflik ke ruang digital yang dapat memicu polarisasi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa berbagai narasi berkembang di media sosial, mulai dari ajakan jihad, isu khilafah, narasi akhir zaman, hingga polarisasi pro dan anti-Syiah.
Berpotensi Dimanfaatkan Kelompok Teror
Situasi tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok teror untuk menyebarkan propaganda dan memperluas pengaruhnya. Selain itu, meningkatnya tensi konflik di media sosial juga dinilai dapat memicu kemunculan lone actor atau pelaku teror tunggal yang mengalami radikalisasi secara mandiri.
Dampak Propaganda Ideologis
Menghadapi potensi penyebaran propaganda ideologis serta dampaknya terhadap kondisi sosial dan ekonomi, Syauqillah menekankan pentingnya strategi mitigasi yang komprehensif.
"Strategi mitigasi yang komprehensif harus disiapkan untuk merespons dampak keamanan, politik, ekonomi dan fragmentasi sosial dengan mempertimbangkan level, mulai dari level rendah, moderat, tinggi, hingga ekstrem," ujarnya.