Legislator DPR RI Dorong Penguatan Nilai Budaya di Sekolah untuk Bentuk Karakter Beridentitas Bangsa
Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah mendesak lembaga pendidikan memperkuat penguatan nilai budaya di sekolah demi membentuk karakter siswa beridentitas bangsa, mengatasi ancaman perundungan dan pengaruh gawai.
Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, menyerukan pentingnya penguatan nilai budaya di sekolah dalam sistem pendidikan nasional. Dorongan ini disampaikan saat kegiatan Sosialisasi Penguatan Nilai Budaya ke Sekolah di Cipanas, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ia menekankan bahwa penanaman nilai-nilai luhur ini krusial untuk membentuk karakter siswa.
Inisiatif ini bertujuan untuk membekali generasi muda dengan identitas bangsa yang kuat dan berbudaya. Ferdiansyah menyoroti bahwa pendidikan berbasis budaya dapat menjadi benteng terhadap berbagai tantangan zaman. Ini termasuk maraknya kasus perundungan, pelecehan seksual, serta dampak negatif dari penggunaan gawai yang berlebihan.
Sosialisasi yang digelar pada Minggu, 23 November ini, menjadi platform untuk mengadvokasi peran strategis lembaga pendidikan. Tujuannya agar sekolah secara berkelanjutan mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam setiap aspek kegiatan belajar mengajar. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan membentuk pribadi siswa yang unggul.
Pentingnya Pendidikan Berbasis Budaya dalam Pembentukan Karakter
Komisi X DPR RI, yang bermitra dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, secara konsisten mendorong tenaga pendidik untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya. Ferdiansyah menegaskan bahwa "Penanaman nilainya budaya itu dilakukan melalui dunia pendidikan, jadi kita membangun pendidikan yang berbasis budaya." Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan fondasi karakter yang kokoh bagi para siswa.
Berbagai nilai budaya dapat diajarkan, mulai dari penggunaan bahasa daerah dan Indonesia yang baik, hingga penerapan disiplin waktu. Keramahan dan kesopanan juga menjadi bagian integral dari nilai-nilai yang perlu ditanamkan. Ferdiansyah menyebutkan hal-hal sederhana seperti senyum, sapa, salam, dan hormat kepada orang tua sebagai praktik mudah yang sangat penting.
Sekolah memegang peranan vital dalam pembangunan karakter anak-anak yang berbudaya. Terutama di tengah berbagai isu negatif seperti perundungan, pelecehan seksual, dan pengaruh gawai yang kian masif. Pendidikan berbasis budaya menjadi solusi efektif untuk membentengi siswa dari ancaman-ancaman tersebut.
Implementasi dan Keberlanjutan Penguatan Nilai Budaya
Ancaman negatif dari perkembangan zaman menuntut adanya dorongan kuat kepada sekolah untuk menerjemahkan nilai-nilai budaya bangsa secara berkelanjutan. Ferdiansyah menekankan bahwa upaya ini tidak boleh berhenti hanya pada sosialisasi. "Iya tidak usai di sini saja, jadi nanti kalau mau diambil tema ini bagus juga, pembangunan budaya yang berkelanjutan, isinya itu penanaman nilai-nilai budaya tadi," ujarnya.
Keberhasilan upaya sosialisasi nilai-nilai budaya sangat bergantung pada teladan yang diberikan oleh para guru. Guru diharapkan menjadi contoh nyata dalam menerapkan nilai-nilai tersebut, seperti disiplin tepat waktu. Dengan demikian, siswa akan secara tidak langsung terinspirasi dan mengikuti praktik positif yang ditunjukkan oleh pendidik mereka.
Kegiatan sosialisasi di Garut ini bertujuan agar guru dan elemen masyarakat lainnya dapat menyebarkan kembali pesan tersebut kepada siswa. Mereka diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Implementasi yang mudah dan cepat dilakukan di sekolah, seperti ketepatan waktu, menjadi contoh konkret yang dapat segera diterapkan. Ini menunjukkan bahwa penguatan nilai budaya dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang berdampak besar pada pembentukan karakter dan disiplin siswa secara menyeluruh.
Sumber: AntaraNews