Kremlin Konfirmasi Kontak Rusia-Prancis, Persiapan Dialog Putin Macron Terus Berjalan
Kremlin mengonfirmasi adanya kontak kerja antara Moskow dan Paris, menyusul pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang persiapan untuk melanjutkan **Dialog Putin Macron** yang penting bagi stabilitas Eropa.
Kremlin pada Rabu mengonfirmasi bahwa Moskow dan Paris menjalin kontak di tingkat kerja. Konfirmasi ini menyusul pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai persiapan untuk melanjutkan dialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa meskipun ada kontak tertentu di tingkat kerja, belum ada hal penting yang dapat diumumkan terkait hal ini. Pernyataan Peskov muncul saat Macron mengatakan pekerjaan persiapan sedang dilakukan untuk memulai kembali diskusi langsung antara dirinya dan Putin.
Macron menekankan bahwa persiapan ini dilakukan secara transparan dan melalui konsultasi dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy serta mitra utama Prancis di Eropa. Ia juga menambahkan bahwa penting bagi Eropa untuk membangun kembali saluran komunikasi mereka sendiri dengan Rusia.
Upaya Membangun Kembali Dialog Rusia-Prancis
Presiden Prancis Emmanuel Macron secara aktif mendorong upaya untuk melanjutkan diskusi langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut Macron, diskusi teknis sedang berlangsung sebagai bagian dari persiapan dialog tersebut.
Langkah ini diambil dengan pertimbangan bahwa Eropa memiliki kepentingan bersama dalam menemukan kerangka kerja untuk terlibat kembali dalam diskusi. Transparansi menjadi kunci, dengan konsultasi yang terus-menerus dilakukan bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan sekutu Eropa.
Macron sebelumnya telah menyatakan pada Desember lalu bahwa akan sangat bermanfaat untuk berbicara kembali dengan rekannya dari Rusia. Ia berpendapat bahwa jika tidak, negosiator akan berurusan dengan Rusia sendirian, yang dinilai kurang ideal.
Menanggapi hal ini, Peskov sebelumnya mengatakan kepada kantor berita RIA bahwa Putin bersedia untuk terlibat dalam dialog dengan Macron. Namun, dialog ini hanya dapat dilihat secara positif jika ada kemauan politik bersama dari kedua belah pihak.
Masa Depan Perjanjian New START yang Kritis
Selain isu dialog bilateral, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menyoroti masalah berakhirnya perjanjian New START. Ia menyatakan bahwa tanggal berakhirnya dokumen tersebut secara pasti kemungkinan besar tidak terlalu penting, namun dampaknya sangat signifikan.
Peskov mengkritik kegagalan pihak Amerika Serikat untuk menanggapi inisiatif Rusia terkait perpanjangan perjanjian ini. New START adalah perjanjian pengurangan senjata nuklir antara Rusia dan AS yang mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
Perjanjian ini berfungsi membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan oleh Moskow dan Washington, maksimal 1.550 unit masing-masing. Dengan berakhirnya perjanjian ini pada Kamis, dunia berpotensi berada dalam posisi yang lebih berbahaya.
Kremlin meyakini bahwa berakhirnya perjanjian fundamental ini, yang mengendalikan persenjataan nuklir terbesar di dunia, adalah hal yang sangat buruk. Ini menandai pertama kalinya AS dan Federasi Rusia kehilangan dokumen krusial tersebut.
Kebijakan Arktik Uni Eropa dan Respons Rusia
Dmitry Peskov juga mengomentari pernyataan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, tentang perlunya kebijakan baru blok tersebut untuk Arktik. Peskov menegaskan bahwa Rusia adalah negara regional dalam konteks Arktik, tidak seperti sebagian besar negara Uni Eropa.
Jika maksud perwakilan Uni Eropa adalah kebijakan baru yang bertujuan untuk kerja sama internasional, maka Rusia menyambut baik hal tersebut. Namun, jika yang dimaksud adalah konfrontasi, yang saat ini cukup populer di Brussels, Rusia tidak akan menyambutnya.
Peskov menambahkan bahwa kebijakan konfrontatif kemungkinan besar tidak akan memberikan dampak positif apa pun bagi kawasan tersebut. Pernyataan Kallas sendiri disampaikan dalam pidatonya di sebuah konferensi di Tromso, Norwegia.
Kallas menyerukan 'Kebijakan Arktik Uni Eropa yang baru' dan menekankan pentingnya Brussel mendasarkan kebijakan ini pada kemitraan yang kuat. Kemitraan ini secara khusus mencakup kerja sama erat dengan Norwegia, Kanada, dan Islandia.
Sumber: AntaraNews