Klaten Geger Keracunan MBG, Jumlah Siswa Bertambah dan Sampel Makanan Dikirim ke Yogyakarta
Kepala Dinas Kesehatan Klaten Anggit Budiarto mengatakan, para siswa yang mengalami gejala mual, muntah.
Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten mengonfirmasi adanya penambahan jumlah siswa SMP Negeri 1 Wedi yang mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika sebelumnya tercatat 13 siswa pada Rabu (8/10), kini jumlahnya bertambah menjadi 22 siswa.
Kepala Dinas Kesehatan Klaten Anggit Budiarto mengatakan, para siswa yang mengalami gejala mual, muntah dan pusing masih menjalani perawatan di RSUD Bagas Waras Klaten. Mereka ada yang datang sendiri ke RSUD Bagas Waras dan sebagian lainnya dirujuk dari Puskesmas Wedi.
"Sesuai dengan laporan terakhir yang tadi saya terima, yang masuk ke Bagas Waras baik yang datang sendiri maupun dirujuk dari Puskesmas Wedi totalnya ya 22 tambah lagi 4 ini. Dari 22 yang pertama itu wis mulih papat (sudah pulang empat), masih dirawat 18 ya," ujar Anggit saat dihubungi awak media, Kamis (9/10).
"Kalau yang di puskesmas, melaporkan ke saya ada 28 yang datang ke puskesmas, yang dirujuk ke Bagas Waras sekitar 18. Jadi totalnya segitu tadi. Jadi yang dirawat sekarang 18 dan ini datang lagi 4 di IGD," jelasnya.
Anggit menambahkan, untuk memastikan penyebab pasti keracunan, pihaknya telah mengambil sampel makanan MBG yang dikonsumsi siswa. Sampel yang diambil tersebut di antaranya nasi, lauk, sayur, sop dan susu.
"Kita masih harus melakukan pemeriksaan. Kita ambil sampel dari makanan yang disajikan," jelas Anggit.
Sampel makanan tersebut selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Yogyakarta guna memastikan apakah makanan tersebut menjadi sumber keracunan atau tidak.
"Hasilnya nanti ya 5-7 hari lagi. Kan itu diperiksakan ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat Yogja. Jadi nggak bisa langsung," ungkapnya.
Ditambahkan Anggit, untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang, pihaknya mewajibkan untuk seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).
"Dan diwajibkan untuk seluruh SPPG itu untuk memiliki SLHS. Sampai saat ini kan teman-teman yang ada di Klaten itu sedang berproses. Jadi yang prosesnya selesai belum ada," jelas Anggit.
Sebagai langkah tanggap, lanjut Anggit, pihaknya telah membuka posko di Puskesmas Wedi. Siswa yang mengalami gejala serupa dapat melapor ke posko tersebut.