Jumlah Siswa Terdampak Keracunan Makanan di SMK Sore Tulungagung Bertambah
Kasus keracunan makanan siswa di SMK Sore Tulungagung terus meluas. Survei epidemiologi Dinas Kesehatan Tulungagung menemukan total 15 pelajar kini alami gangguan pencernaan usai konsumsi MBG.
Jumlah pelajar SMK Sore Tulungagung yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bertambah signifikan. Berdasarkan survei epidemiologi yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada Jumat, total 15 siswa kini terdampak dugaan keracunan makanan. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan orang tua dan pihak sekolah.
Peningkatan kasus ini terungkap setelah survei epidemiologi menyeluruh dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat. Survei melibatkan sekitar 2.900 pelajar SMK Sore Tulungagung untuk mendeteksi potensi kasus tambahan yang mungkin belum teridentifikasi. Awalnya, hanya sembilan pelajar yang dilaporkan mengalami keluhan serupa, namun kini angka tersebut melonjak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, dr. Aris Setiawan, mengonfirmasi penambahan tersebut. Pihaknya menemukan empat pelajar yang sempat dirawat di UKS dengan gejala serupa dan dua lainnya mendatangi fasilitas kesehatan. Semua menunjukkan gejala gangguan pencernaan usai mengonsumsi MBG yang disediakan.
Investigasi Epidemiologi Ungkap Kasus Baru Keracunan Makanan Siswa
Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung secara proaktif melakukan survei epidemiologi mendalam. Langkah ini diambil untuk mengidentifikasi lebih banyak kasus keracunan makanan siswa yang mungkin belum terdata secara resmi. Survei komprehensif ini melibatkan seluruh pelajar SMK Sore Tulungagung yang berjumlah sekitar 2.900 orang untuk memastikan tidak ada kasus terlewat.
Dari hasil survei awal yang intensif, empat pelajar ditemukan sempat dirawat di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dengan gejala serupa. Mereka menunjukkan tanda-tanda gangguan pencernaan seperti mual dan diare, mirip dengan kasus keracunan sebelumnya. Beruntung, kondisi mereka sudah membaik setelah mendapatkan penanganan medis dan obat yang diperlukan, sehingga telah diperbolehkan pulang.
Selain temuan di UKS, dua laporan tambahan diterima dari fasilitas layanan kesehatan setempat. Masing-masing satu pelajar mendatangi Puskesmas Beji dan Puskesmas Simo dengan keluhan gangguan pencernaan yang diduga kuat terkait MBG. Penambahan enam kasus baru ini meningkatkan total pelajar yang mengalami gejala dugaan keracunan makanan siswa menjadi 15 orang.
Sampel Makanan MBG Diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya
Untuk mengetahui penyebab pasti keracunan makanan siswa, Dinas Kesehatan Tulungagung telah mengambil sampel menu MBG. Sampel makanan yang dikonsumsi pelajar tersebut akan diuji secara cermat di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya. Proses pengujian ini diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai potensi kontaminasi atau masalah kualitas bahan makanan.
Pengambilan sampel makanan dilakukan bersamaan dengan investigasi awal di SPPG Moyoketen I, penyedia Makan Bergizi Gratis. SPPG Moyoketen I menjadi fokus penyelidikan karena diduga kuat merupakan sumber makanan yang menyebabkan keracunan. Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar penting untuk evaluasi menyeluruh terhadap praktik penyediaan makanan.
dr. Aris Setiawan menjelaskan bahwa hasil uji laboratorium akan menjadi rekomendasi terkait operasional SPPG. Evaluasi akan mencakup penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) mulai dari proses penerimaan bahan baku. Selain itu, tahapan pengolahan hingga penyajian makanan juga akan diperiksa secara detail untuk memastikan keamanan pangan.
Pihak Dinkes Tulungagung masih menunggu hasil akhir uji laboratorium untuk menyimpulkan penyebab pasti keracunan. Mereka berkomitmen untuk terus memantau kesehatan pelajar dan guru SMK Sore Tulungagung. Pemantauan akan berlangsung selama dua hari ke depan guna mengantisipasi munculnya kasus baru dan memastikan penanganan cepat jika ada.
Sumber: AntaraNews