Keterbatasan Dana, Operasional SPPG Tulungagung Terhenti Sementara
Layanan gizi di SPPG Tulungagung, Waung 2, terpaksa berhenti dua hari akibat keterbatasan dana operasional dari BGN, berdampak pada ribuan siswa penerima manfaat.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waung 2 di Desa Waung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, terpaksa menghentikan operasionalnya selama dua hari. Penghentian layanan ini disebabkan oleh keterbatasan dana operasional yang seharusnya dikirimkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Kepala SPPG Waung 2 Kecamatan Boyolangu, Della Ananda Setyarini, menyatakan bahwa layanan gizi akan kembali dijalankan setelah pendanaan untuk periode berikutnya cair. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terkait keberlanjutan program pemenuhan gizi bagi ribuan penerima manfaat.
Penghentian sementara ini terjadi pada hari Jumat dan Sabtu (4-5 Desember), setelah dana yang tersedia hanya mencukupi hingga hari Kamis. Pihak SPPG berharap dana dapat segera ditransfer sebelum awal pekan depan agar kegiatan pelayanan dapat berjalan normal kembali.
Mekanisme Pendanaan dan Penghentian Layanan Gizi SPPG Tulungagung
Della Ananda Setyarini menjelaskan bahwa pola pengajuan anggaran untuk operasional SPPG Tulungagung dilakukan secara berkala. "Selama ini pengajuan anggaran dilakukan setiap dua pekan melalui proposal kepada BGN," kata Della.
Setelah proposal disetujui, dana operasional akan ditransfer dan digunakan untuk menjalankan pelayanan gizi selama dua minggu ke depan. Namun, pada pekan ini, terjadi kendala pendanaan yang menyebabkan operasional SPPG Waung 2 terganggu.
“Polanya memang pengajuan setiap dua minggu. Namun, dana yang masuk pekan ini setelah dihitung akuntan hanya cukup sampai Kamis (4/12), sehingga operasional terpaksa dihentikan pada Jumat dan Sabtu,” jelas Della. Langkah ini diambil untuk menghindari potensi kekurangan bahan dan masalah operasional lain yang dapat menurunkan kualitas layanan gizi.
Penghentian layanan gizi ini menjadi sorotan penting mengingat peran SPPG dalam mendukung kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Keterlambatan atau ketidakcukupan dana operasional dapat mengganggu program gizi yang telah berjalan secara rutin.
Dampak Penghentian dan Harapan Kelanjutan Program Gizi SPPG Tulungagung
SPPG Waung 2 melayani total 3.571 penerima manfaat yang berasal dari 14 sekolah berbeda di wilayah Tulungagung. Sekolah-sekolah tersebut meliputi jenjang SD, SMP, hingga MA, menunjukkan cakupan layanan gizi yang cukup luas dan vital.
Penghentian sementara operasional ini tentu berdampak langsung pada ribuan siswa yang bergantung pada layanan gizi tersebut. Kualitas pemenuhan gizi mereka berpotensi terganggu jika masalah pendanaan ini berlarut-larut, mempengaruhi tumbuh kembang dan konsentrasi belajar.
Della Ananda Setyarini menambahkan bahwa pihaknya telah kembali mengajukan proposal untuk periode dua minggu berikutnya kepada BGN. Harapan besar tertumpu pada pencairan dana secepatnya agar pelayanan gizi dapat segera dilanjutkan tanpa hambatan.
“Harapannya sebelum Senin (8/12) sudah cair, sehingga layanan bisa kembali berjalan seperti biasa,” ujar Della. Keberlanjutan program gizi SPPG Tulungagung sangat krusial untuk menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak di wilayah tersebut, memastikan mereka mendapatkan asupan gizi yang memadai.
Sumber: AntaraNews