Kesaksian Siswa Keracunan Massal MBG di Cipongkor, Keluhkan Sesak Napas hingga Mual
Plt Kepala Dinkes KBB, Lia Sukandar, mengatakan pihaknya telah mengambil sampel muntahan dari siswa.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat tengah menyelidiki dugaan keracunan massal yang menimpa para pelajar usai menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes KBB, Lia Sukandar, mengatakan pihaknya telah mengambil sampel muntahan dari siswa yang mengalami gejala keracunan guna diteliti di laboratorium. Ini dilakukan guna mengidentifikasi penyebab pasti fenomena tersebut.
"Besok kami baru bisa menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Tadi kami sudah kumpulkan sampel muntahan sebanyak dua keresek untuk dibawa ke laboratorium," jelas Lia kepada wartawan di GOR Cipongkor pada Senin (22/9) malam.
Ia menerangkan, gejala yang dikeluhkan para korban mulai dari sesak napas, mual, hingga kejang. Kendati belum dipastikan hal tersebut dipicu menu MBG yang terdiri dari ayam kecap, tahu, nasi, dan semangka. Para siswa mengalami gejala tersebut usai menyantap paket tersebut.
Kata Siswa saat Ditanya Petugas
Tak hanya mengalami pusing, atau mual di antara mereka ada juga yang hingga BAB mengeluarkan darah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Maesaroh (50), orang tua dari Ai Nurazizah (11), salah satu siswa yang anaknya dirawat di Kecamatan Cipongkor.
“Ini mah mual, muntah, sesek, BAB juga ada darahnya,” ujar dia menceritakan gejala yang dirasakan anaknya, saat dijumpai di Kecamatan Cipongkor, Selasa (23/9) dini hari.
Maesaroh bilang putrinya dibawa ke Kecamatan Cipongkor pada Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB dari pesantren tempat ia menimba ilmu. Menurutnya, ada 19 siswa lain dari pesantren tersebut yang mengalami keracunan diduga usai menyantap MBG.
Menerima kabar dari pengurus pondok tentang kondisi putrinya, ia yang merupakan warga Desa Cinta Asih pun lantas bertolak ke Kecamatan Cipongkor.
“Jadi kalau saya itu ditelpon, diminta ke sini oleh pihak pesantren. Iya katanya dari makanan. Udah ada, saya ke sini sekitar jam 23.00 WIB,” ujar dia.
Dia mengatakan, putrinya yang baru kelas 1 SMP itu telah mendapat penanganan medis sejak tiba di Gor kecamatan Cipongkor. Termasuk diinfus. “Iya, ini udah labu kedua,” kata dia.
Menu MBG
Paket makanan itu, diduga sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi saat diterima siswa.
"Kami tadi sempat wawancara dengan korban, saya ikut periksa tadi anak SMA, jadi pasti begitu makanan di makan, itu sudah kecium bau," jelasnya.
Ia menambahkan per pukul 18.00 WIB, terkonfirmasi sebanyak 75 orang siswa tercatat mengalami keracunan.
Dari jumlah tersebut, 25 di antaranya dirujuk ke RSUD Cililin guna mendapat perawatan intensif.Kendati begitu, ia bilang jumlah tersebut masih bersifat fluktuatif seiring waktu, mengingat korban yang terus bertambah.
"Saat ini Alhamdulillah kami mencoba menangani korban diduga keracunan makanan. Saat ini kami belum bisa memastikan data pasti dari jumlah korban, dari waktu ke waktu bertambah terus," kata Lia.
"Update terakhir saat Magrib ada 75 siswa, 25 di antaranya dirujuk. Mayoritas mengeluh sesak napas, mual, dan ada juga yang mengalami kejang," ucap dia.
Diberitakan sebelumnya, puluhan siswa, tingkat SD, SMP, dan SMK dari sejumlah desa di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, dilarikan ke Puskesmas hingga dirujuk ke rumah sakit lantaran mengalami dugaan gejala keracunan usai menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
Kepala Desa Karang Sari Ade Bahtiar mengatakan, pihak Puskesmas Cipongkor terus menerima pasien siswa yang diduga keracunan sejak siang. Hingga malam, jumlahnya terus bertambah.
Per pukul 19.40 WIB, kata Ade jumlahnya mencapai 123 orang. Dari jumlah tersebut 25 orang di antaranya dirujuk ke RSUD Cililin. "Saya lagi ngobrol ini juga sama kepala Puskesmas Cipongkor, jadi sampai jam ini ada 123 orang. 25 orang ke rumah sakit sampai jam ini" katanya saat dihubungi, Senin (22/9).