Kepercayaan Dinilai Jadi Modal Utama Pemerintahan Presiden Prabowo di Awal 2026
Azis menilai demokrasi tidak semata soal menang dan kalah, melainkan kemampuan menjaga agenda bersama setelah kontestasi politik berakhir.
Memasuki awal 2026, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak kekurangan agenda, program, maupun sumber daya. Namun, ada satu faktor yang dianggap paling menentukan keberhasilan arah kebijakan nasional, yakni kepercayaan antarelemen bangsa.
Anggota DPR RI Komisi II dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menilai kepercayaan antara pemerintah dan rakyat, pusat dan daerah, serta antar-kelompok politik merupakan modal paling mahal dalam memastikan negara tidak hanya bergerak, tetapi bergerak ke arah yang benar.
Menurut Azis, sejarah banyak negara menunjukkan bahwa kebijakan yang tepat dapat runtuh apabila dijalankan dalam iklim saling curiga. Sebaliknya, kebijakan yang berat dan tidak populer justru dapat bertahan ketika dilaksanakan dalam suasana saling percaya. Kondisi inilah yang, menurutnya, sedang menjadi ujian bagi Indonesia saat ini.
Ia memandang arah besar pemerintahan saat ini relatif jelas, dengan kehadiran negara yang lebih kuat dalam sektor-sektor strategis seperti pangan, energi, industri, pertahanan, dan stabilitas ekonomi. Langkah tersebut disebut bukan sebagai respons jangka pendek, melainkan kesadaran atas perubahan global yang semakin tidak ramah bagi negara dengan fondasi internal yang rapuh.
"Ketergantungan berlebihan pada pihak luar, pasar global, atau stabilitas semu justru berisiko membawa krisis. Indonesia memilih jalan yang lebih berat, membangun kemandirian secara bertahap sambil menjaga stabilitas," ujarnya, Selasa (13/1/2026).
Namun demikian, Azis menegaskan bahwa kemandirian ekonomi dan stabilitas negara tidak dapat tumbuh tanpa kepercayaan publik. Kebijakan, seberat apa pun, harus diyakini ditujukan bagi kepentingan bersama, bukan untuk segelintir kelompok. Di sinilah tantangan terbesar pemerintahan, yakni menjaga agar arah kebijakan tidak tereduksi oleh kepentingan jangka pendek, transaksi politik, maupun kebisingan yang menggerus rasa keadilan.
Ia juga menyoroti sejumlah kebijakan strategis seperti hilirisasi, penguatan pangan, pembenahan fiskal, dan penataan birokrasi yang membutuhkan kesabaran kolektif karena dampaknya tidak selalu langsung dirasakan. Dalam situasi tersebut, kepercayaan dinilai menjadi energi utama agar bangsa tidak mudah lelah dan terjebak pada saling menyalahkan.
"Tanpa kepercayaan, setiap kebijakan akan dicurigai dan setiap koreksi dianggap kelemahan," kata Azis.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kepercayaan dalam relasi antara pemerintah pusat dan daerah. Menurutnya, negara besar tidak hanya dibangun dari pusat kekuasaan, tetapi dari ribuan keputusan di tingkat daerah. Ketika pusat dan daerah saling percaya, konsistensi arah nasional akan lebih terjaga.
Hal serupa berlaku dalam hubungan antar-kelompok politik. Azis menilai demokrasi tidak semata soal menang dan kalah, melainkan kemampuan menjaga agenda bersama setelah kontestasi politik berakhir. Ia menegaskan bahwa stabilitas, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan rakyat harus menjadi kesepakatan minimum yang tidak dikorbankan demi kepentingan sesaat.
Kepercayaan bukan meniadakan kritik
Azis juga menegaskan bahwa kepercayaan bukan berarti meniadakan kritik. Kritik yang lahir dari kepedulian justru disebut sebagai bagian penting dari kepercayaan itu sendiri. Yang perlu dihindari, menurutnya, adalah sinisme kolektif yang menganggap setiap upaya negara selalu sia-sia.
"Bangsa yang terjebak dalam sinisme akan sulit melangkah jauh, seberapa besar pun potensinya," ujarnya.
Negara yang stabil, mandiri dan sejahtera
Ia menutup dengan menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh satu presiden atau satu periode pemerintahan, melainkan oleh kemampuan seluruh elemen bangsa menjaga kepercayaan sebagai energi kebangsaan. Dengan arah kebijakan yang konsisten dan adil, serta kepercayaan publik yang rasional dan kritis, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi negara yang stabil, mandiri, dan sejahtera.
Di tengah situasi global yang semakin tidak pasti, Azis menyebut kepercayaan sebagai jangkar yang menjaga Indonesia tetap tegak menghadapi gelombang tantangan ke depan.