Indonesia Ajak Amerika Serikat Buka Kampus Kelas Dunia di Batam
Gagasan ini lahir dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Batam tidak hanya sebagai kawasan industri dan perdagangan.
Dalam kunjungan resmi Senator Negara Bagian Arizona ke BP Batam, Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan Fary Djemy Francis menyampaikan inisiatif penting: mengajak Pemerintah Amerika Serikat untuk mendirikan kampus berstandar internasional di Batam.
Gagasan ini lahir dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Batam tidak hanya sebagai kawasan industri dan perdagangan, tetapi juga pusat pendidikan dan inovasi global.
Menurut Fary, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci keberhasilan investasi jangka panjang.
"Batam punya posisi strategis dan potensi ekonomi yang luar biasa. Namun agar investasi berkelanjutan, kita juga harus membangun kualitas manusianya," ujarnya.
"Batam will become a role model for economic growth. And also, President Prabowo direct to us how to simplify regulation and license," lanjut Fary dalam pernyataannya di hadapan delegasi Arizona State Senate.
Dengan regulasi yang semakin ramah investor, BP Batam berkomitmen membuka ruang bagi kolaborasi pendidikan internasional, termasuk kerja sama dengan universitas-universitas ternama di Amerika Serikat. Fary mengusulkan agar Arizona yang dikenal memiliki ekosistem pendidikan tinggi berbasis riset dan teknologi menjadi pionir dalam pendirian campus branch di Batam.
Ini akan menjadi terobosan baru mengingat selama ini pendidikan tinggi di Batam masih cukup sedikit walaupun BP Batam sudah mendukungnya melalui pendirian Politeknik Negeri Batam.
Sektor Industri Strategis
Selain sektor pendidikan, Fary juga memaparkan potensi sektor industri strategis di Batam yang siap dikembangkan.
"We have 35 shipyard industry 65% of Indonesia’s shipyard industry are in Batam. President supports us to optimize and develop all the strategic sectors in Batam,” jelasnya.
Data BP Batam mencatat bahwa pada semester pertama 2025, total investasi asing mencapai lebih dari USD 600 juta, dengan kontribusi terbesar berasal dari Singapura, Malaysia, dan China. Sektor manufaktur, logistik, dan galangan kapal menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi kawasan.
Fary optimistis, kehadiran kampus internasional asal Amerika akan memperkuat transfer teknologi, mencetak tenaga kerja berdaya saing global, dan menciptakan sinergi antara pendidikan dan industri.
Pertemuan ini menjadi awal dari penjajakan kerja sama yang lebih luas antara BP Batam dan Pemerintah Negara Bagian Arizona, terutama di bidang riset terapan, pelatihan vokasi, dan pertukaran mahasiswa.