Imajinasi Nusantara Denny JA Lahir dari Benturan Budaya Lokal Hingga Tragedi Global
Genre Imajinasi Nusantara adalah gabungan unik antara realisme manusia, batik sebagai simbol lokalitas
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Denny Januar Ali (Istimewa)
(@ 2024 merdeka.com)Lima kritikus seni rupa terkemuka Indonesia memberikan tanggapan terhadap lukisan Denny JA yang melahirkan genre baru 'Imajinasi Nusantara'.
Lukisan tidak sekadar hadir sebagai objek visual, namun tampil sebagai manifesto estetika digital Nusantara.
Genre Imajinasi Nusantara adalah gabungan unik antara realisme manusia, batik sebagai simbol lokalitas, dan kecerdasan buatan sebagai medium ekspresi.
Genre itu direspons oleh lima nama besar dunia seni rupa, yakni Agus Dermawan T, Merwan Yusuf, Frigidanto Agung, Mayek Prayitno, dan Bambang Asrini Widjanarko.
Karya-karya Denny JA dalam genre ini terekam dalam dua buku lukisan berjudul "Handphone, Kita Dekat Sekali" dan "Wonderland, Dunia Anak-anak".
"Baginya (Denny), lukisan-lukisan ini bukan hanya gambar, tetapi cara baru untuk menggugat estetika kolonial dengan simbol lokal yang akrab namun penuh perlawanan," kata Agus Dermawan T dalam keterangannya, Sabtu (19/7).
Merwan Yusuf menyebut genre ini sebagai 'irealitas konkret visual yang tampak mustahil, tapi justru paling jujur dalam menangkap trauma.
Mayek Prayitno mengatakan, 'Imajinasi Nusantara' adalah lompatan estetika. Tidak sekadar memanfaatkan teknologi digital, melainkan menyulap AI menjadi alat kontemplasi artistik.
Diketahui, 'Imajinasi Nusantara' bukan sekadar gaya melukis. Ia adalah genre visual kontemporer Indonesia, yang terlahir dari benturan antara budaya lokal (batik), tragedi global (pandemi, perang, krisis iklim), dan medium digital (AI).