Angkatan Puisi Esai Menguat di Era AI, Tembus Panggung Internasional
Perkembangan era digital dan kecerdasan buatan telah mengubah secara signifikan cara orang memahami dan mengakses literasi di seluruh dunia.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah banyak bentuk sastra tradisional, angkatan puisi esai justru mengalami kemajuan yang signifikan dan semakin kuat sebagai gerakan sastra yang melintasi berbagai generasi dan zaman.
Fenomena ini terungkap dalam konferensi pers yang berjudul "Lahirnya Angkatan Puisi Esai: Sastra di Era AI & Puisi Esai Goes to Germany," yang berlangsung di Nomu Kafe, Jakarta Selatan, pada Jumat (20/6).
Dalam acara tersebut, hadir sebagai narasumber dua sastrawan terkenal, Agus R. Sarjono dan Ahmad Gaus AF, serta Denny JA, yang merupakan penggagas puisi esai.
Dalam sambutannya, Denny JA mengungkapkan bahwa era digital dan AI telah mengubah lanskap literasi secara global. Merujuk pada data dari National Endowment for the Arts (NEA), ia mencatat adanya penurunan minat baca novel dan cerpen di Amerika Serikat, dari 45,2 persen pada tahun 2012 menjadi 37,6 persen pada tahun 2022.
Selain itu, pembaca puisi juga mengalami penurunan, dari 11,7 persen menjadi 9,2 persen. Di Indonesia, survei yang dilakukan oleh LSI Denny JA menunjukkan bahwa hanya 16 persen masyarakat yang membaca satu buku sastra dalam setahun. Namun, yang menarik adalah meskipun tren global menunjukkan penurunan, puisi esai justru mengalami pertumbuhan yang positif.
Sejak diperkenalkan pada tahun 2012, genre ini telah melahirkan lebih dari 200 judul buku. Festival puisi esai berskala internasional telah dilaksanakan secara rutin, empat kali di Sabah, Malaysia, dan tiga kali di Indonesia. Setiap tahun sejak 2021, rata-rata 20 hingga 25 buku puisi esai diterbitkan di berbagai kota.
“Puisi esai menjawab krisis perhatian zaman. Ia menggabungkan estetika puisi, kekuatan narasi esai, dan refleksi sosial yang kontekstual. Format ini mempermudah generasi baru mengekspresikan kegelisahannya tanpa harus menjadi penyair konvensional,” jelas Denny, yang juga merupakan pendiri Lembaga Survei LSI, dalam keterangannya.
Kelompok Sastra Modern
Sastrawan Ahmad Gaus AF berpendapat bahwa puisi esai telah melahirkan angkatan sastra baru. Ia menegaskan bahwa semua kriteria yang sebelumnya ditetapkan oleh H.B. Jassin untuk mendefinisikan angkatan sastra, seperti kesamaan visi estetik, momen kolektif, dan kesadaran generasional, kini telah terpenuhi dalam gerakan puisi esai.
"Ini bukan sekadar genre, tapi telah menjadi angkatan sastra dengan ekosistem lengkap: ada festival, dana abadi, jejaring akademik, serta keberlanjutan penulis lintas generasi," ungkap Gaus.
Agus R. Sarjono kemudian menjelaskan lima karakteristik utama dari Angkatan Puisi Esai. Pertama, genre ini memiliki estetika dan struktur yang khas. Kedua, ia lahir dari sosok penggerak tunggal, yaitu Denny JA.
Ketiga, ada ekosistem sastra yang berkelanjutan mendukungnya. Keempat, puisi esai terbuka untuk kolaborasi dengan kecerdasan buatan (AI). Terakhir, puisi esai memberikan dampak di tingkat nasional dan mulai merambah ke panggung sastra internasional.
Salah satu tanda pengakuan global adalah rencana presentasi puisi esai di 5th Conference for Asian Studies yang akan diadakan di Bonn, Jerman pada September 2025. Agus R. Sarjono dijadwalkan hadir sebagai pembicara, dan makalahnya akan dipublikasikan di jurnal ilmiah Orientierungen.
Selain itu, kolaborasi internasional dengan komunitas sastra di Tiongkok dan negara lain juga sedang dibangun.
"Puisi esai adalah pertemuan antara keberanian dan kerendahan hati, antara puisi dan realitas. Ia mengangkat isu-isu sosial seperti bencana, cinta, ketidakadilan, dan perjuangan. Formatnya fleksibel, humanistik, dan menjawab kebutuhan zaman," jelas Agus.
Di tengah kondisi saat ini, di mana teks panjang sering kalah saing dengan klip visual dan konten instan, puisi esai hadir sebagai alternatif yang mampu menyentuh hati dan memberikan pemikiran yang mendalam. Gerakan ini juga membuka peluang bagi kolaborasi antara penyair manusia dan mesin, namun tetap menekankan bahwa hanya puisi yang paling manusiawi yang akan bertahan.
"Di era AI ini, puisi esai hadir bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai jembatan antara logika dan nurani, antara kata dan kenyataan," tutup Agus.
Dengan keberanian untuk bertransformasi dan tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman, puisi esai menunjukkan bahwa sastra Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk berkembang, menjangkau dunia, dan memberikan warna dalam khazanah sastra global.