Denny JA Suarakan Jerit Hati Korban Peristiwa Sejarah Lewat Tujuh Buku Esai
Di tengah gempuran informasi digital yang dangkal dan cepat lewat, puisi esai menawarkan ruang perenungan
Penulis Denny Januar Ali atau Denny JA menyuarakan jerit hati para korban peristiwa bersejarah. Korban Revolusi Prancis, Holocaust, pembantaian di Nanking, hingga anak-anak menjadi yatim akibat bom di Hiroshima.
Karya terbaru, "Yang Menggigil dalam Arus Sejarah" (2025), melengkapi serial ini. Berbeda dari enam buku sebelumnya yang fokus pada sejarah Indonesia, buku ketujuh ini melintasi batas negara.
"Sejarah resmi menulis pahlawan. Tapi puisi esai menulis korban," kata Denny JA dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/7).
Semua buku ini menggunakan format khas ciptaan Denny JA: puisi esai, sebuah genre baru yang memadukan narasi puitik dengan riset sejarah.
Genre ini telah berkembang menjadi gerakan sastra lintas batas, dengan komunitas di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara.
"Sebab kemerdekaan sejati, seperti puisi adalah keberanian untuk terus mendengarkan yang tak lagi punya suara," tutur Denny JA.
Di tengah gempuran informasi digital yang dangkal dan cepat lewat, puisi esai menawarkan ruang perenungan—sebuah jeda, sebuah napas.
Berikut tujuh buku puisi esai Denny JA; Atas Nama Cinta (2012) – Tentang cinta yang kalah oleh diskriminasi. Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) – Tentang mereka yang hilang paksa. Jeritan Setelah Kebebasan (2015) – Tentang konflik berdarah pasca-reformasi.
Kemudian, Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) – Tentang mereka yang tak merdeka saat proklamasi. Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) – Tentang pahlawan sebagai manusia, bukan ikon.
Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024) – Tentang mereka yang kehilangan tanah air dan kampung halaman. Terbaru, Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) – Tentang tragedi global yang membentuk nurani dunia.