Pemkot Mataram Gelar Pelatihan Pertukangan Logam, Tingkatkan Kualitas Perajin Lokal
Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Perinkop UKM) menyelenggarakan pelatihan pertukangan logam bagi perajin lokal, bertujuan meningkatkan inovasi dan nilai jual produk khas Mataram.
Pemerintah Kota Mataram terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan ekonomi kreatif di wilayahnya. Salah satu inisiatif terbaru adalah penyelenggaraan pelatihan pertukangan logam yang masif bagi para perajin lokal. Kegiatan ini diinisiasi oleh Dinas Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Perinkop UKM) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Pelatihan ini secara khusus menargetkan perajin kuningan, perak, dan emas yang tersebar di beberapa wilayah, termasuk Sekarbela, Rungkang Jangkuk, dan Cemare. Kepala Dinas Perinkop UKM Kota Mataram, Jemmy Nelwan, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan industri kreatif. Tujuannya adalah agar produk kerajinan logam Mataram memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar.
Sebanyak 40 peserta mengikuti pelatihan intensif selama tiga hari, berfokus pada teknik modifikasi ikatan mutiara menggunakan perak dan emas. Harapannya, desain yang dihasilkan akan lebih modern, inovatif, dan memiliki nilai jual yang signifikan. Ini juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas produk lokal di kancah nasional maupun internasional.
Meningkatkan Kualitas Perajin Logam Lokal
Pelatihan pertukangan logam ini dirancang untuk membekali para perajin dengan keterampilan terkini dan pengetahuan mendalam mengenai tren pasar. Fokus utama adalah pada modifikasi ikatan mutiara yang dipadukan dengan perak dan emas, menciptakan produk yang tidak hanya indah tetapi juga modern. Jemmy Nelwan menekankan pentingnya kreativitas dan inovasi agar hasil karya perajin memiliki ciri khas Kota Mataram dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
Setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta tidak hanya pulang dengan ilmu baru, tetapi juga mendapatkan dukungan berupa peralatan pertukangan logam. Bantuan ini mencakup alat-alat untuk mengolah kuningan, perak, maupun emas, memastikan perajin dapat langsung mengaplikasikan keterampilan yang telah diperoleh. Dukungan ini diharapkan dapat memotivasi perajin untuk terus berkarya dan mengembangkan usahanya.
Program ini merupakan bagian integral dari upaya pemerintah daerah untuk menciptakan produk kerajinan yang berdaya saing tinggi. Dengan peningkatan kualitas dan desain, produk-produk ini diharapkan dapat menjangkau pasar domestik hingga mancanegara. Hal ini sejalan dengan visi Kota Mataram untuk menjadi pusat ekonomi kreatif yang inovatif.
Bros Gerbang Sangkareang: Simbol dan Identitas Kota
Salah satu hasil nyata dari inovasi dan kreativitas perajin Mataram adalah Bros Gerbang Sangkareang yang dipadukan dengan mutiara. Produk ini kini telah memiliki Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), menjadikannya ikon kebanggaan dan identitas Kota Mataram. Bros ini bukan sekadar perhiasan, melainkan simbol identitas yang sarat nilai filosofis bagi masyarakat Mataram.
Terinspirasi dari Gerbang Sangkareang yang berdiri megah di Lapangan Sangkareang, bros ini menggambarkan keterbukaan, persatuan, dan semangat kebersamaan warga. Gerbang tersebut melambangkan pintu masuk menuju masa depan, menunjukkan keterbukaan Mataram terhadap perubahan, modernitas, dan kolaborasi global. Lapangan Sangkareang sendiri merepresentasikan pusat aktivitas masyarakat, tempat bertemunya seluruh lapisan warga tanpa sekat.
Keberadaan Bros Gerbang Sangkareang dengan HAKI-nya diharapkan dapat menjadi representasi produk unggulan Kota Mataram. Ini juga menjadi bukti bahwa dengan sentuhan inovasi, kerajinan tradisional dapat bertransformasi menjadi produk modern yang memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi.
Upaya Komprehensif Pengentasan Kemiskinan
Pelatihan pertukangan logam ini juga merupakan bagian dari strategi yang lebih luas oleh Dinas Perinkop UKM Kota Mataram untuk mempercepat penurunan kemiskinan ekstrem. Sebelumnya, dinas ini telah menyelenggarakan berbagai pelatihan kerja bagi para pengangguran. Program-program tersebut meliputi merajut, menjahit, pembuatan kue, sablon, hingga pelatihan las untuk pengembangan industri.
Dalam setiap kegiatan pelatihan, peserta diprioritaskan bagi warga Kota Mataram yang belum bekerja atau tergolong pengangguran. Mereka juga harus masuk dalam data tunggal sosial ekonomi (DTSEN) desil 1-5, dengan jumlah peserta antara 30 hingga 40 orang per jenis pelatihan. Proses verifikasi data peserta dilakukan secara ketat melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) serta Bappeda untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Setelah pelatihan, para peserta juga menerima bantuan peralatan yang relevan dengan keterampilan yang mereka peroleh, seperti mesin jahit, alat merajut, atau perlengkapan membuat kue. Dengan adanya berbagai pelatihan dan dukungan ini, diharapkan para ibu rumah tangga dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga, dan para pemuda memiliki bekal keterampilan untuk berwirausaha secara mandiri. Ini semua bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengeluarkan mereka dari kemiskinan ekstrem.
Dukungan Anggaran dan Harapan Masa Depan
Jemmy Nelwan menjelaskan bahwa sumber anggaran untuk berbagai kegiatan pelatihan kerja ini berasal dari beragam sumber. Dana tersebut termasuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), dana rutin, serta dana Pokok Pikiran (Pokir) Dewan Kota Mataram. Diversifikasi sumber dana ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program-program pemberdayaan masyarakat.
Tim Dinas Perinkop UKM Kota Mataram juga akan melakukan pendampingan berkelanjutan setelah pelatihan selesai. Pendampingan ini krusial untuk memastikan para peserta dapat mengimplementasikan keterampilan mereka, membuka lapangan kerja secara mandiri, dan pada akhirnya, keluar dari lingkaran kemiskinan ekstrem.
Melalui pendekatan yang komprehensif ini, Pemerintah Kota Mataram berharap dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pelatihan keterampilan, dukungan peralatan, dan pendampingan pasca-pelatihan menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan tersebut. Ini merupakan investasi jangka panjang untuk kemandirian ekonomi masyarakat Mataram.
Sumber: AntaraNews