Gubernur Papua Tengah: SSH Solusi Pendidikan Inklusif dan Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa tegaskan program Sekolah Sepanjang Hari Papua Tengah (SSH) sebagai jawaban atas tantangan pendidikan inklusif, sekaligus sinergi dengan program Makan Bergizi Gratis.
Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa menegaskan komitmennya untuk memajukan pendidikan di wilayahnya melalui program inovatif. Ia menyatakan bahwa program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) menjadi solusi konkret untuk pendidikan inklusif. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah talkshow di Nabire, Jumat (20/2), yang membahas capaian satu tahun kepemimpinan bersama Wakil Gubernur Deinas Geley.
SSH dirancang sebagai pendekatan adaptif yang mempertimbangkan kondisi sosial dan geografis masyarakat Papua Tengah yang unik. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mendukung keberhasilan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Meki Nawipa menjelaskan bahwa SSH merupakan jawaban atas tantangan fasilitas dasar yang dihadapi anak-anak di daerah terpencil.
Melalui SSH, anak-anak dapat datang ke sekolah dan langsung mendapatkan pemenuhan kebutuhan esensial seperti makanan bergizi dan fasilitas kebersihan. Setelah kegiatan belajar mengajar sesuai kurikulum nasional, siswa juga menerima pendampingan tambahan. Pendampingan ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan dasar dan mempersiapkan mereka menghadapi masa depan.
Konsep Inovatif Sekolah Sepanjang Hari Papua Tengah
Gubernur Meki Nawipa menjelaskan bahwa Sekolah Sepanjang Hari (SSH) adalah konsep sekolah berpola asrama yang dirancang khusus. Anak-anak yang mengikuti program ini akan langsung mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Ini termasuk makanan bergizi, fasilitas kebersihan seperti sabun, handuk, dan sarana mandi.
Setelah sarapan pagi, kegiatan belajar mengajar (KBM) akan berlangsung sesuai dengan kurikulum nasional yang berlaku. Pada sore harinya, siswa akan mendapatkan pendampingan tambahan. Pendampingan ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan dasar serta membekali mereka dengan keterampilan masa depan yang relevan.
Saat ini, program Sekolah Sepanjang Hari Papua Tengah telah tersebar di sembilan lokasi di delapan kabupaten. Pemerintah provinsi juga telah menetapkan rencana perluasan program ini. Pada tahun 2025, tiga distrik di Kabupaten Puncak, yaitu Ilaka, Sinak, dan Dervos, akan menjadi daerah percontohan pelaksanaan SSH.
Akademisi Universitas Papua (Unipa), Agus Sumule, menambahkan bahwa kekhawatiran mengenai beban kerja guru telah diantisipasi. Sistem guru pendamping direkrut khusus untuk mendampingi siswa di luar jam belajar formal. Guru reguler mengajar dari pagi hingga siang, kemudian program dilanjutkan oleh guru pendamping yang memastikan anak-anak mendapatkan pendampingan akademik dan keseharian.
Dampak dan Keberlanjutan Pendidikan Inklusif di Papua Tengah
Agus Sumule menekankan bahwa SSH tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang tumbuh yang sehat dan terlindungi bagi anak-anak. Salah satu aspek krusial adalah penyediaan makanan bergizi bagi siswa yang mungkin datang ke sekolah dalam kondisi lapar. Konsep ini memastikan bahwa kebutuhan fundamental anak terpenuhi, mendukung fokus mereka pada pembelajaran.
Program Sekolah Sepanjang Hari Papua Tengah juga mencakup penguatan beragam literasi penting. Ini meliputi literasi baca tulis, matematika dasar, sains, literasi digital, hingga literasi finansial. Selain itu, pendidikan keluarga dan kebudayaan lokal juga menjadi bagian integral dari kurikulum SSH.
Tujuan utama dari program ini adalah agar anak-anak tidak hanya mampu membaca dan menulis, tetapi juga memahami teknologi dan kehidupan. Penting juga bagi mereka untuk tetap terhubung erat dengan budaya asli mereka. Ini menciptakan generasi yang berpengetahuan luas dan berakar pada identitas lokal.
Agus Sumule menegaskan bahwa implementasi program SSH dilakukan secara bertahap dan dengan perencanaan fiskal yang realistis. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan program dalam jangka panjang. Hal ini juga mencegah timbulnya tekanan berlebihan pada keuangan daerah, menjadikannya model pendidikan inklusif yang sistematis dan bertanggung jawab.
Sumber: AntaraNews